JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Kesenian bantengan bukan sekadar tontonan rakyat biasa. Di lereng Gunung Welirang, khususnya wilayah Mojokerto dan sekitarnya, seni tradisional ini hidup sebagai warisan budaya yang sarat makna, spiritualitas, dan identitas Masyarakat pegunungan Jawa Timur.
Di balik eksistensinya hingga kini, terdapat sosok-sosok sederhana para pelaku seni, pawang, hingga komunitas lokal yang menjadi penjaga tradisi di tengah arus modernisasi.
Kesenian bantengan dipercaya telah ada sejak masa Kerajaan Singasari pada abad ke-13. Awalnya, bentuknya lebih sederhana dan banyak dipengaruhi Gerakan dasar pencak silat sebelum berkembang menjadi pertunjukan kompleks seperti sekarang.
Wilayah lereng gunung seperti Arjuno-Welirang menjadi tempat berkembangnya kesenian ini. Kondisi geografis yang dahulu dipenuhi hutan dan hewan liar, termasuk banteng, turut mempengaruhi lahirnya simbol banteng dalam pertunjukkan.
Baca Juga: Pidsus Kejaksaan Kabupaten Mojokerto Terima Berkas Kasus Dugaan Korupsi
Desa Made di Kecamatan Pacet, Mojokerto, misaknya, dikenal sebagai salah satu pusat awal berkembangnya bantengan. Hingga kini, tradisi ini masih dipentaskan di desa-desa sekitar lereng Welirang sebagai bagian dari kehidupan Masyarakat setempat.
Tidak ada satu tokoh yang dapat disebutkan sebagai “pemilik bantengan. Namun, keberlangsungan seni ini sangat bergantung pada komunitas lokal dan para pelaku seni yang secara turun-temurun menjaga tradisi.
Peran pawang sangat penting dalam setiap pertunjukan. Mereka memimpin ritual sebelum pertunjukan dimulai, memohon perlindungan, sekaligus mengendalikan kondisi spiritual para pemain.
Selain itu, generasi muda kini mulai dilibatkan secara aktif dalam kelompok bantengan. Mereka belajar tidak hanya Gerakan, tetapi juga nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, seperti kebersamaan, keberanian, dan penghormatan terhadap leluhur.
Keunikan bantengan terletak pada perpaduan berbagai unsur: tari, musik tradisional, bela diri, hingga ritual spiritual. Pertunjukan biasanya dimainkan oleh dua orang dalam satu kostum banteng,diiringi gamelan, kendang, dan gong.
Salah satu ciri khasnya adalah fenomena “kesurupan” atau trance. Dalam kepercayaan lokal, kondisi ini menunjukkan hubungan manusia dengan kekuatan spiritual atau leluhur, meskipun dalam praktik moderns tidak selalu harus terjadi.
Hal ini menjadikan bantengan bukan sekadar hiburan, melainkan juga bagian dari ekspresi spiritual Masyarakat.
Meski jumlah kelompok bantengan terus bertambah, kesenian ini tetap menghadapi berbagai tantangan. Minimnya dukungan fasilitas sulitnya perizinan tampil, serta persaingan dengan hiburan modern menjadi hambatan utama.
Di sisi lain, modernisasi juga memaksa para pelaku seni untuk beradaptasi tanpa menghilangkan nilai tradisional. Inovasi ini dilakukan, tetapi tetap menjaga filosofi dasar bantengan sebagai simbol kekuatan, keberanian, dan kebersamaan.
Kesenian bantengan di lereng Gunung Welirang adalah bukti bahwa budaya lokal dapat bertahan bekas dedikasi masyarakatnya. Tidak hanya satu sosok, melainkan jaringan komunitas, pawang, dan generasi muda yang Bersama-sama menjaga warisan ini tetap hidup.
NENSI
Editor : Imron Arlado