MOJOKERTO RAYA - Budaya yang identik dengan dengan Hari Raya Lebaran adalah sungkeman. Tradisi dengan cara bersimpuh di hadapan orang tua atau orang yang dihormati ini bertujuan untuk saling memohon maaf ini di momen Idul Fitri.
Ayuhanafiq menuturkan, di masa kepemimpinan Bupati Kromodjojo Adinegoro, sungkeman menjadi agenda rutin yang diadakan di pemerintah daerah di era 1894-1916. Pada Hari Raya Lebaran, seluruh pegawai mengadap langsung ke Bupati Mojokerto untuk melangsungkan halalbihalal. ”Kegiatan ini dikenal dengan pasowanan Lebaran,” tandasnya.
Dalam ritualnya, satu per satu pejabat teras dan seluruh pegawai mencium kaki Bupati Mojokerto. Tradisi bersimpuh ini sebagai bentuk tanda hormat sekaligus meminta maaf pada atasannya.
Tak hanya dilakukan oleh para pejabat di lingkup Pemkab Mojokerto, namun tradisi ini juga diikuti oleh pegawai yang berdinas di desa. ”Sayangnya tradisi sungkemen ini lambat laun menghilang,” tandasnya. Budaya pasowanan Lebaran kemudian tak lagi menjadi giat rutin peringgitan Bupati Mojokerto.
Yuhan mangatakan, keberadaannya perlahan terkikis dengan kartu ucapan Lebaran yang dikirim melalui pos. Meski demikian, prosesi halalbihalal juga tetap digelar oleh pemerintahan daerah. Hanya saja, nilai kesakralannya agaknya sedikit berkurang. Karena ajang silaturahmi dikemas dengan bertajuk open house. (ram/ris)
Editor : Fendy Hermansyah