Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Tanpa Sadar Melanggengkan Patriarki Lewat 5 Hal Berikut! Apa Saja?

Eki Septian Tri Wulansari • Selasa, 27 Januari 2026 | 20:45 WIB
Tanpa Sadar Melanggengkan Patriarki Lewat 5 Hal Berikut! Apa Saja? (sumber: Freepik)
Tanpa Sadar Melanggengkan Patriarki Lewat 5 Hal Berikut! Apa Saja? (sumber: Freepik)

RADAR MOJOKERTO - Siapa yang tak kenal patriarki? Sistem sosial yang mengakar kuat di masyarakat ini memiliki karakteristik menekankan pada dominasi laki-laki.

Patriarki menitikberatkan dominasi kekuasaan dan kendali berada pada tangan laki-laki dan posisi perempuan harus berada dibawahnya.

Ketimpangan inilah yang menyebabkan banyak upaya perwujudan kesetaraan gender, salah satunya dengan adanya feminisme.

Meski telah vokal bersuara sejak abad 19, namun feminisme belum sepenuhnya bisa mengambil alih pondasi pemikiran sebelumnya (tentang patriarki).

Pasalnya, di lingkungan kita sehari-hari, entah disadari atau tidak ternyata pandangan bibit patriarki dilestarikan seolah mendukung keberadaannya terus bersinar. Apa saja?

1. Standar Ganda yang Terus Dipelihara

Standar ganda dimaknai dengan penerapan aturan yang sama, akan menjadi penilaian berbeda saat ditujukan ke salah satu gender.

Ketika feminisme berteriak ingin dibebaskan dari belenggu patriarki dan meninggikan kesetaraan, disisi lain perempuan juga ingin tetap dianggap istimewa.

Perempuan minta dilayani, diperlakukan lembut, dan ditanggung dari segi finansial. Padahal, tanpa disadari kondisi tersebut melemahkan perempuan.

Menegaskan bahwa perempuan tidak bisa hidup dengan kekuatan dan kemandirian seperti yang selalu dikatakan oleh para feminis.

 

Baca Juga: Pelajari 5 Ragam Kesalahpahaman Soal Filsafat! Belajar Filsafat Bikin Jadi Atheis?

 

2. Ketidaksetaraan dalam Kepemimpinan

Ketika memilih seorang pemimpin, laki-laki selalu menjadi pilihan yang diasumsikan lebih baik daripada perempuan.

Perspektif umum masyarakat menilai bahwa laki-laki dianggap lebih logis, kuat, dan dapat diandalkan, sedangkan posisi perempuan dinilai rentan serta kurang stabil dari segi emosi.

Dikutip dari salah satu buku bell hooks bertajuk The Will to Change Men, bahkan dari segi agama, laki-laki memang dirancang untuk mengatur dunia dan perempuan hanyalah sebagai pembantu para laki-laki untuk membantu menyelesaikan tugas tersebut.

Dari pemilihan pemimpin dan kepercayaan lebih terhadap pemimpin laki-laki inilah yang secara tidak langsung membuat patriarki menguat dan berkuasa lebih lama.

3. Larangan Menangis buat Laki-laki

Kesedihan adalah perasaan normal yang dialami oleh manusia, termasuk laki-laki.

Namun kita semua pasti tidak asing dengan larangan menangis buat laki-laki.

Dalam budaya patriarki, laki-laki memang dirancang lebih kuat dan berkuasa, sehingga menjadi tabu dan buruk saat laki-laki menunjukkan kesedihan.

Larangan tidak boleh bersedih ditujukan kepada laki-laki, dan bahkan tak hanya dari perempuan kepada laki-laki, namun juga laki-laki kepada laki-laki. Hal tersebut juga menjadi ranah toxic masculinity.

4. Tanggungan Beban Finansial

Tak asing lagi jika laki-laki harus menjadi pemimpin dan penanggung jawab finansial.

Seperti yang diketahui, pembagian tugas rumah tangga juga masih seputar laki-laki dituntut bekerja dan perempuan bertugas mengurus rumah tangga.

Dalam sebuah hubungan, laki-laki yang tidak menanggung beban finansial atau tidak bekerja adalah hal yang buruk.

 

Baca Juga: Honda Prelude 2026 Kebangkitan Ikon Sporty dengan Sentuhan Hybrid Modern

 

Padahal jika mengingat tujuan feminisme, kesetaraan adalah poin penting. Namun perempuan juga tidak terima saat ada opsi pergantian peran dalam hubungan.

Misalnya, laki-laki mengurus rumah tangga dan perempuan harus bekerja. Dalam konteks tersebut, kritik tajam soal laki-laki yang lemah dan tidak berpower akan menguasai opini publik.

5. Ketimpangan di balik Budaya Romantis

Ketika menonton sebuah film romansa, perempuan seringkali ditempatkan pada posisi rentan, harus dilindungi, dan selalu dimuliakan.

Kondisi lain bisa dilihat dari perilaku yang selalu dianggap romantis seperti laki-laki membayar kencan, membukakan pintu mobil, memberi bunga, dan melindungi sang perempuan.

Alih-alih romantis, nyatanya itu juga bagian dari ketimpangan yang menyebabkan bendera patriarki terus berkibar.

Perempuan menjadi makhluk lemah yang butuh dilindungi, dijaga, dan dipimpin oleh laki-laki, ketimpangan dan pelestarian patriarki dibalut makna romantis.

Itulah dia beberapa hal dalam kehidupan sehari-hari yang ternyata melanggengkan patriarki. Menggulingkan sistem budaya yang telah mengakar memanglah tidak mudah, namun menjadi feminis tak harus selalu membenci tanpa ampun dan menolak segala bantuan dan ketegasan laki-laki. 

Saling menghargai dan menghormati tanpa superioritas dan perdebatan menjadi kalah atau menang jauh lebih penting diwujudkan dalam kehidupan bersosial.

Editor : Imron Arlado
#kesetaraan #standar ganda #feminisme #bell hooks #kekuasaan #finansial #patriarki