Relief kisah Sri Tanjung di Pendapa Teras Candi Penataran, Blitar, bisa menjadi gambaran. Sri Tanjung yang digambarkan berbusana panjang dan selendang mengenakan gelang tebal di kedua tangannya.
Di lehernya, juga melingkar sebuah kalung mewah yang dilengkapi hiasan. ’’Gambaran ini berbeda dengan sosok pendeta perempuan yang hanya memakai gelang tipis dan tidak berkalung,’’ tutur Pamong Budaya Pertama Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah (BPKW) XI Tommy Raditya Dahana.
Penampilan sosok Sri Tanjung jelas pula berbeda dengan gaya petani di relief Candi Gambar Wetan yang hanya mengenakan anting dan gelang sederhana. Pun demikian dengan sosok wanita pada hiasan dinding Candi Kendalisodo di Trawas yang tak mengenakan aksesori sama sekali sehingga terkesan polos.
Tommy mengungkapkan, aksesori tubuh di masa Majapahit dianggap sebagai barang berharga. Karena itu tak semua orang bisa mengenakannya. Kalau pun ada, bentuknya jauh lebih sederhana dibanding kepunyaan kalangan kerajaan dan bangsawan.
’’Jadi penanda status sosial juga karena tidak semua orang memakainya. Hanya orang dari strata tertentu yang bisa punya,’’ tandasnya. (adi/fen)
Editor : Fendy Hermansyah