Aksesori tubuh sudah dikenal sejak era Kerajaan Majapahit. Para petani di sawah punya kebiasaan memakai gelang, anting, dan kalung yang terbuat dari macam-macam bahan.
GAYA penampilan masyarakat Majapahit antara lain terdapat pada relief Candi Gambar Wetan di Blitar. Dalam salah satu panilnya, tergambar sepasang suami istri yang berprofesi sebagai petani. Si perempuan memiliki rambut panjang tergerai sampai pinggul dan tubuhnya ditutupi dengan kain dari dada hingga mata kaki.
’’Dia mengenakan anting di telinga dan gelang sederhana di pergelangan tangan,’’ kata Pamong Budaya Pertama Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah (BPKW) XI Tommy Raditya Dahana.
Adapun si tokoh laki-laki juga memakai hiasan berupa anting. Rambutnya pendek, sedang badannya hanya ditutupi kain dari perut sampai mata kaki yang diikat dengan sabuk. ’’Sosok laki-laki ini memikul sebuah benda seperti alat pertanian,’’ imbuhnya.
Tommy menyatakan, bahan aksesori yang dipakai sepasang petani itu belum dapat diketahui secara pasti. Namun, berdasarkan artefak yang ditemukan dari masa Majapahit, manik-manik itu bisa jadi berasal dari batu, terakota, dan kaca. Cara pembuatannya pun berbeda-beda.
Aksesori berbahan batu dirangkai dengan cara melubangi bagian tengahnya dengan pacak. ’’Kalau yang dari terakota, bahannya ditempelkan ke kawat, setelah kering tengahnya bolong,’’ imbuhnya.
Sementara itu, proses pembuatan aksesori kaca tak jauh berbeda dengan sekarang. Perajin memasak pasir kuarsa dengan suhu 1.700 derajat Celsius hingga menjadi kaca untuk kemudian dibentuk menjadi anting, gelang, ataupun kalung. (adi/fen)
Editor : Fendy Hermansyah