Wahai…wahai…dengarlah!! Aku memanggilmu, datanglah berdua bagai dua ekor burung dara, akan kukirimkan kereta kencana untuk menyambut engkau berdua, bila bulan telah luput dari mata angin, musim gugur menampari pepohonan dan daun-daun yang rebah berpusing.
Wahai…wahai…! Ditengah malam dihari ini, akan kukirimkan kereta kencana untuk menyambut engkau berdua, kereta kencana, sepuluh kuda satu warna… lalu suara lonceng berbunyi, dua ketukan lalu hilang.
PURI - Penggalan naskah itu menjadi pembuka pementasan teater berjudul Kereta Kencana yang digelar di Laboratorium Seni Omah Brongkol, Desa Banjaragung, Kecamatan Puri, Sabtu (25/10) malam. Sejak sore, ratusan penonton memadati tempat pentas yang berada di alam terbuka itu. Sejak menit pertama pementasan berlangsung, penonton diajak masuk kedalam keindahan kalimat sastra.
Abdul Gani, sutradara pementasan mengatakan, Kereta Kencana mulanya merupakan naskah klasik, gubahan sastrawan besar WS. Rendra dari naskah drama Les Chaises karya Eugene Lonesco asal Prancis. Mekipun awalnya Les Chaises adalah sebuah drama absurd, Rendra menggubahnya menjadi drama realis yang berkisah tentang pasangan suami istri dengan usia menginjak dua abad. Mereka menanti sebuah kematian bersama, kematian yang indah, yang dijemput sebuah kereta kencana dengan sepuluh kuda dan satu warna.
Dalam pentas ini, Gani mengadaptasinya dengan mengubah nama aktor sang kakek dari Henry dalam naskah aslinya menjadi Sastro. Sastro sang putra Majapahit, begitu ia dipanggil nenek istrinya. Tak hanya itu, Gani juga memberi sentuhan-sentuhan kritik dalam alur dialog drama roman tersebut. Di antaranya kritik sosial, politik, hingga tentang kerusakan alam di negeri ini. Selama pentas, penonton juga tiba-tiba diajak berpikir melalui sastra sufistik.
Zania Mashuro salah satu aktor yang berperan menjadi istri Sastro mengatakan, butuh latihan panjang untuk mementaskan kereta kencana, menghapalkan naskah, latihan fisik, keaktoran dan lain-lain. ’’Kurang lebih tiga bulan lamanya,’’ kata dia.
’’Itu belum lagi olah vokal, karena kereta kencana merupakan dua pasang suami istri yang dua ratus tahun usianya, jadi selama pertunjukan berlangsung, saya dan Zein Isa si lawan main, menggunakan suara serak dan bergetar bak kakek dan nenek, itu yang menguras energi, rutin latihan kita laksanakan setelah mengajar. Kami berdua ini adalah seorang guru di sekolah menengah, saya di Ponpes Bumi Sholawat di Sidoarjo sedangkan Zein Isa ini di Mojokerto. Tetapi proses panjang yang melelahkan itu terbayar tuntas setelah pentas dan diapresiasi dari banyak kalangan, ’’ tuturnya. (fan/fen)
Editor : Hendra Junaedi