Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Mengulik Filosofi di Balik Karya Seni Dorodango, Dari Lumpur Menjadi Permata Berharga

Imron Arlado • Selasa, 23 September 2025 | 00:04 WIB
Salah satu negara yang terkenal dengan karya seninya yang unik sekaligus menarik adalah Jepang dengan seni dorodango miliknya. Sumber foto: Google
Salah satu negara yang terkenal dengan karya seninya yang unik sekaligus menarik adalah Jepang dengan seni dorodango miliknya. Sumber foto: Google

JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Tiap negara di dunia ini pasti memiliki karya seni berbeda-beda yang lahir dari budaya, kebiasaan, dan lingkungan masyarakatnya.

Seni juga dibagi menjadi beberapa bagian, seperti seni rupa, seni pertunjukan, hingga seni kerajinan tangan sederhana yang memiliki ciri khas masing-masing.

Salah satu negara yang terkenal dengan karya seninya yang unik sekaligus menarik adalah Jepang. Karya seni khas Jepang yang dikenal oleh cukup banyak orang adalah origami dan ikebana.

Namun, di balik kepopuleran origami dan ikebana, ada pula satu bentuk seni asal Jepang yang tak kalah populer, yakni Dorodango, sebuah karya seni unik dan sederhana.

Nama dorodango diambil dari bahasa Jepang doro yang berarti lumpur, dan dango yang berarti bola.

Oleh karena itu, dorodango sendiri merupakan seni membuat bola lumpur yang dipoles hingga mengkilap seperti kaca.

Terdengar mustahil, namun nyata keberadaannya. Dorodango juga menjadi contoh sederhana dari bagaimana hal yang mulanya tampak biasa, bisa berubah menjadi sesuatu yang memukau melalui ketelatenan.

Keistimewaan dorodango tidak terletak pada bahan yang mahal atau pada teniknya yang rumit, melainkan pada teknis transformasinya, yakni dari tanah basah yang kasar menjadi permukaan yang padat dan berkilau.

Karya seni dorodango sendiri berakar dari kebiasaan bermain anak-anak Jepang yang membentuk bola-bola dari tanah di halaman rumah atau taman.

 

 

Aktivitas tersebut kemudian tak hanya dilihat sebagai permainan, tetapi praktik yang mengajarkan kesabaran, ketelitian, dan ketelatenan yang kemudian dapat menghasilkan suatu keindahan.

Seiring berjalannya waktu, dorodango mulai menarik perhatian para guru hingga seniman karena dinilai memiliki nilai yang lebih dalam dari sekedar permainan.

Mereka juga menganggap bahwa dorodango mampu menjadi media pendidikan, objek seni, dan latihan mindfulness.

Dalam konteks budaya Jepang, dorodango juga kerap kali dikaitkan dengan konsep estetika yang menghargai kesederhanaan dan ketidaksempurnaan.

Berkat nilai unik dan kesederhanaannya yang kuat, dorodango yang mulanya hanya dikenal dalam lingkup loka dan tradisional, kini menyebar luas hingga ke komunitas global melalui hobi, pameran, dan platform internet.

Secara fisik, dorodango adalah hasil kombinasi dari sifat tanah, kelembapan, dan upaya pemadatan serta merapikan permukaan.

Cara pembuatan dorodango juga kerap kali dinilai cukup sederhana namun membutuhkan kesabaran dan ketelatenan yang ekstra.

Pada tahap awal pembuatan dorodango, dimulai dengan mengambil segenggamtanah atau lumpur dan secara dibentuk secara perlahan-lahan hingga berbentuk seperti bola.

Tanah atau lumpur yang telah dibentuk menjadi bola tersebut kemudian didiamkan hingga mengering selama beberapa saat agar partikel air di dalamnya menguap dan partikel tanah mulai saling mengunci dengan lebih permanen.

Untuk mencapai permukaan yang halus, setelah mengalami proses pengeringan bola tanah kemudian harus melewati proses pemolesan selama beberapa kali agar partikel-partikelnya tersusun rata.

Proses pemolesan secara berulang tersebutlah yang kemudian dapat menghasilkan struktur permukaan yang lebih mulus dan berkilau.

Perlu dicatat dan diingat bahwa jenis tanah yang dipilih akan mempengaruhi hasil akhir dorodango.

 

 

Tanah dengan kandungan liat biasanya membuat partikel lebih mudah mengikat atau menyatu, sementara tanah berpasir sulit memadatkan dengan mulus.

Lebih dari sekedar objek fisik, dalam budaya Jepang dorodango dianggap membawa beberapa makna simbolis yang mudah dirasakan.

Yang pertama dorodango dianggap melambangkan transformasi atau perubahan diri dari "kotor" menjadi "indah" yang diperoleh dari ketekunan.

Kemudian yang kedua adalah prosesnya yang sederhana namun membutuhkan kefokusan tingkat tinggi membuat proses pembuatan dorodango dianggap seperti latihan perhatian penuh.

Ketika seseorang telah fokus terhadap sentuhan, berat, dan kilau bola, kegiatan tersebut dapat mendatangkan ketenangan dalam diri.

Lalu yang terakhir, secara estetika dorodango dinilai sejalan dengan nilai-nilai kesederhanaan dan apresiasi terhadap bahan sehari-hari, seperti benda-benda yang tampak biasa dapat tampil menawan jika diberi perhatian lebih.

 

 

Melalui karya seni dorodango asal Jepang ini, kita selalu diingatkan bahwa kreativitas dan keindahan tidak selalu membutuhkan bahan mahal ataupun alat yang canggih.

Dorodango juga membuktikan bahwa kesabaran dan ketelatenan seseorang dalam melakukan sesuatu akan menghasilkan sesuatu yang berharga dan indah.

FANEZA

Editor : Imron Arlado
#budaya jepang #Pembuatan #jepang #Makna simbolis #dorodango #budaya #seni #keistimewaan #karya seni