JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Cahaya lampu yang redup namun berkilau berpadu wangi jajanan lawas menyambut setiap langkah pengunjung Museum 10 November dan Tugu Pahlawan pada Sabtu (21/9) malam.
Dalam perhelatan Night at the Museum Surabaya itu, pengunjung seolah diajak menapaktilasi perjalanan heroik arek-arek Suroboyo.
Musik yang mengalun, drama teatrikal yang menggugah, hingga deretan kuliner tradisional khas pesisir Jawa Timur menyatu menghadirkan kembali atmosfer perjuangan kota di masa lampau.
Nuansa sejarah yang biasanya hanya tersimpan dalam diorama kini hidup dalam cahaya dan rasa, menciptakan pengalaman malam yang tak sekadar hiburan, tetapi juga perayaan identitas budaya Surabaya.
Setiap sudut museum berubah menjadi panggung sejarah yang memikat pandangan. Di area halaman utama, sorot cahaya keemasan menegaskan keagungan monumen Tugu Pahlawan, sementara lantunan musik keroncong berpadu gamelan modern mengiringi langkah para pengunjung dengan ritme yang menenangkan.
Baca Juga: Film Indonesia Tembus Nominasi Festival Film Eropa 2025
Memasuki ruang pamer, pengunjung disambut instalasi multimedia yang menampilkan rekaman dan arsip peristiwa 10 November.
Visual dan suara yang terjalin menghadirkan pengalaman imersif, seakan-akan membawa mereka kembali ke tengah kobaran semangat pertempuran para pejuang Surabaya.
Tidak jauh dari pusat panggung, barisan tenda kuliner tradisional langsung memikat indera penciuman dengan aroma khas yang menggugah selera.
Ragam jajanan legendaris Surabaya mulai dari rujak cingur, lontong balap, hingga wedang jahe hangat tersaji apik dalam kemasan bergaya tempo dulu.
Hidangan-hidangan ini hadir bukan semata sebagai pemanja lidah, melainkan sebagai bagian dari alur cerita budaya yang memadukan kelezatan rasa dengan jejak panjang sejarah kota pahlawan.
Program Night at the Museum edisi tahun ini turut menghadirkan drama teatrikal yang mengangkat kembali kisah heroik peristiwa 10 November, dipentaskan oleh komunitas seni lokal.
Setiap gerakan para aktor yang enerjik berpadu dengan tata cahaya dramatis, menyalakan suasana yang memikat sekaligus menyampaikan pesan edukatif.
Penataan panggung yang menyatu dengan arsitektur kolonial bangunan museum mempertegas kesan seolah sejarah bangkit dan berdenyut di tengah malam Surabaya.
Di balik gemerlap hiburan, perhelatan ini berfungsi sebagai wahana pelestarian budaya yang bernilai strategis.
Perpaduan seni pertunjukan, sajian kuliner, dan edukasi sejarah menjadi cara pemerintah kota menyalakan kembali kebanggaan warga terhadap warisan perjuangan.
Saat malam kian larut dan cahaya lampu perlahan meredup, kesan yang tertinggal menegaskan bahwa sejarah tidak sekadar tersimpan dalam diorama, melainkan terus berdenyut dan hidup di setiap sudut kota pahlawan. BINTANG PURNAMA/Devi
Editor : Imron Arlado