Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

CERPEN; Berkelana di Gryetz World

Imron Arlado • Minggu, 2 Juni 2024 | 13:20 WIB
Photo
Photo

SUATU hari aku terbangun di dunia yang tak aku tahu sebelumnya. Rasanya seperti kembali ke masa lalu. Sinar matahari menembus jendela berdebu. Ini dimana?

Aku mencoba untuk membaca tulisan di pajangan kamar: Gryetz World 1876.

Bangun dari ranjang aku mulai mencari tahu tempat apa ini. Aku menulusuri jalanan yang dihimpit oleh bangunan megah. Tampak dari kejauhan terlihat seorang gadis melambaikan tangan dan menghampiriku.

"Halo, apa kamu Fasya?"

"Bagaimana kau bisa tahu namaku?" tanyaku penasaran.

"Aku diutus pelatih Rora. Bukankah kau sudah tahu, akan jadi anggota baru Teater Renikz."

"Hah. Sejak kapan aku menjadi anggota teater?"

"Kau sendiri mengikuti sayembara Teater Renikz,"

Aku terpaksa mengiyakan.

Roxa menggenggam erat tanganku sembari menunjukkan betapa megahnya bangunan di Kota Gryetz. Banyak sekali gedung pencakar langit dengan corak mencolok. Hingga mataku tertuju pada suatu poster besar yang terpampang di depan sebuah gedung.

Apakah aku menjadi bagian dari salah satu pengisi acara?

Tiba-tiba Roxa berhenti.

Tampak sebuah gedung tinggi bernuansa warna putih dan cokelat terpampang nyata di depan kami. Bertuliskan: GEDUNG HEZMI - TEATER RENIKZ. Ia langsung menggeretaku masuk gedung.

"Oh, hai tralala... Apakah kamu Fasya?" tanya seorang perempuan berusia sekitar 50 tahun.

"Iya, benar saya Fasya."

"Oh, tralala. Kalau begitu Roxa, kamu bisa meninggalkan kami dan kembali ke kamar.”

"Baik pelatih Rora."

"Namaku Rora Tralala, kau bisa memanggilku pelatih Rora atau Miss Rora. Aku pemilik gedung teater ini sekaligus yang akan mempersiapkan penampilanmu 27 Kopls nanti. Kau bisa kembali ke kamarmu. Tanya saja pada para penjaga di depan sana, tralala."      

Aku mengangguk.

Gedung berlapis kain merah tersebut memuat banyak sekali plakat berlapis emas di setiap sudut ruangannya. Tibalah aku di sebuah ruangan yang didominasi warna krem. Ya itu adalah kamar baruku. Aku mulai menata dan membersihkan kamar. Tak disangka menemukan sebuah foto berdebu. Tampaknya itu adalah foto pelatih Rora saat kecil.

Malam sudah menunjukkan warnanya diterangi cahaya bulan.

***

"Fasya, ini aku, Roxa. Ayo kita sarapan bersama teman-teman. Miss Rora sudah menunggu.”

Gadis itu menuntunku menuju ruang makan kebesaran Teater Renikz di lantai 2. Ruang makan bernuansa emas itu sangatlah megah. Mungkin ini salah satu ruangan termegah yang pernah kulihat.

"Baiklah anak-anak tralala, hari ini kita kedatangan teman baru. Namanya Fasya.”

Miss Rora membuka pembicaraan. Rasanya sangat gugup untuk memperkenalkan diri dihadapan banyak orang. Namun, Roxa mencoba meyakinkanku kala itu.

Setelah sarapan Miss Rora tiba-tiba menghampiriku. Ia menyuruhku ke ruangannya nanti siang Bersama Roxa. Aku kembali ke kamar untuk membaca buku di rak. Sebuah buku berjudul Nona Manis dari Thears, buku tentang seorang gadis yang sedang berusaha menjadi pemain opera.

Jarum jam tepat di angka 12.00. Aku segera menuju ke bilik Roxa. Setelah berkali-kali mengetuk pintu kamar ia akhirnya keluar. Wanita itu sedang membaca sebuah buku tebal sambil mendengarkan musik klasik. Kami menunggu ia menutup buku. Ruangan tersebut berbau wangi.

"Saya ingin memberimu kesempatan tampil di acara Teater Renikz.”

"Apa saya siap, miss? Saya masih harus banyak belajar lagi."

"Saya memilihmu bukan tanpa alasan. Saya bisa melihat potensi besar dalam dirimu. Ini kesempatan langka, Fas. Ini pertama kalinya, satu-satunya anggota baru dapat bermain dalam penampilan penting Teater Renikz," bujuk Miss Rora.

"Baiklah miss saya akan mencoba untuk melakukan yang terbaik."

Aku menuju kamar dengan perasaan campur aduk.

Hari semakin malam, aku terus memikirkan ucapan dari mulut Miss Rora.

***

Semalam aku bermimpi menjadi pemain utama di Teater Renikz. Sepertinya Miss Rora benar. Sudah saatnya aku siap untuk melakukan hal itu.

Hari ini aku mengunjungi ruangan bergelimang emas di seluruh sudutnya. Ruangan yang akan digunakan sebagai tempat pertunjukan nanti. Saat memasuki ruangan tersebut betapa terkejutnya aku melihat seluruh sudutnya dihiasi pernak-pernik emas, ruangannya besar dan senyap.

Tiba-tiba Miss Rora menghampiriku dan langsung menuntunku menuju tengah panggung untuk berkumpul bersama teman-teman lain. Anehnya aku tak melihat Roxa, teman baikku. Ia langsung menjelaskan cerita yang akan kami bawakan di malam gemerlap itu.

Miss Rora ia sangatlah berwibawa saat bicara. Ia langsung membagi peran, Putri Tyra, tokoh utama. Aku sudah tidak bisa berkutik lagi, apa boleh buat wanita itu sudah menunjukku. Kami memulai latihan dipimpin langsung oleh Miss Rora.  Tak disangka aku bisa melewati semua pelajaran hari ini tanpa hambatan.

Bahkan, Miss Rora memujiku, rasanya sangat bahagia dan bangga.

Hari pertunjukan semakin dekat, aku terus berlatih dengan giat setiap harinya. Tak peduli tempat dan sekitar. Aku akan tetap berusaha untuk berlatih kembali. Pertunjukan akan dimulai dalam dua hari. Rasanya sedikit gugup untuk menampilkan pertunjukan di depan orang-orang.

Sebelum tampil kami semua berlatih menggunakan kostum apik. Aku menuju ruang pertunjukan, yakni ruang Ikhdos. Sebuah bencana muncul tanpaku sangka. Suaraku hilang di detik-detik terakhir sebelum penampilan. Aku mulai menangis dan langsung merasa tak nyaman untuk tampil.

Miss Rora mencoba mencari jalan keluar untuk masalahku. Tidak ada angin tidak ada hujan, Roxa memasuki ruangan dengan senyum gembira.

"Bolehaku menggantikan peran Fasya sebagai Putri Tyra, boleh ya bu, aku mohon?"

"Tidak, peran itu sudah cocok untuk Fasya. Kami tidak bisa menggantikannya."

Apakah Miss Rora adalah ibunya Roxa? Tidak mungkin.

Setelah itu Miss Rora menyuruh salah satu temanku, Ursya, untuk mengambil ramuan khusus dari petapa terkenal di Gryetz World. Saat ia kembali, ramuan tersebut langsung kuminum. Rasanya tak bisa didefinisikan. Seperti ada rasa manis, pahit, asin, dan asam dalam satu ramuan. Seketika suaraku mulai kembali. Tangisku menjadi senyuman manis waktu itu.

Aku mulai sedikit tenang dengan suasana siang menegangkan di ruangan Ikhdos. Miss Rora menyuruhku kembali ke kamar. Ursa dan aku berbincang di sepanjang lorong menuju kamar.

"Memang Roxa orangnya begitu, tidak mau mengalah. Mungkin dia mau mencelakaimu.”

"Aku menduga bahwa Roxa pelakunya, tapi aku tidak mau untuk terlalu cepat mengambil keputusan. Suaraku hilang sesudah minum es krim yang diberikan Roxa tadi pagi."

"Kemungkinan besar nih ya Fas, yang buat kamu celakai tu Roxa. Dia itu anaknya Miss Rora yang punya Teater Renikz ini, tapi dia nggak mau memaksimalkan potensinya. Dia Cuma pengen jadi pemain tanpa usaha yang banyak. Intinya dia itu males-malesan, dan dia juga kadang gunain jabatan Miss Rora sebagai embel-embelnya," ungkap Ursya.

"Tolong ajak salah satu teman kita mengawasi gerak-gerik Roxa selama kita tampil,” pintaku.

***

Pagi harinya Miss Rora mengajak anggota yang akan tampil menuju panggung ruang Ikhdos. Ia hanya berpesan agar kami melakukan yang terbaik. Miss Rora berpesan agar aku tidak khawatir saat di atas panggung nanti malam. Aku mencoba untuk menenangkan diri agar tidak teringat akan kejadian kemarin.

Gemerlap malam di Gedung Hezmi. Aku, Ursya dan teman-teman lain bersiap-siap untuk menampilkan pertunjukan. Aku berbisik di telinga Ursya.

"Saya, gimana udah siap nggak nih?"

"Santai-santai Fas, aku sudah minta tolong Inta, Kiya, Hupy dan teman-teman lain untuk menyamar dan mengawasi Roxa dari berbagai arah."

Tepat pukul 19.00 pertunjukan dimulai.

Panggung ditutupi tirai merah. Satu ruangan menjadi gelap. Kami di belakang bersiap di posisi masing-masing. Ursya melantunkan suara emasnya, kulit kuning langsatnya ditimpa sorot lampu. Aku terkagum-kagum dengan apa yang terjadi malam itu. Di akhir penampilan sebuah lampu sorot tiba-tiba jatuh, hampir menimpaku.

"Kamu tidak apa-apa Fas?"

"Ayo kita ke belakang dulu ya Fas".

Teman-teman menggotongku ke belakang panggung.

Pertunjukan malam itu langsung berhenti dalam sekejap.

Miss Rora memastikan keadaanku baik-baik saja. Ia cemas sekali.

Tak lama dari kejauhan terdengar suara bising menggema ke seluruh ruangan. Semakin lama suara itu semakin dekat dan keras. Perlahan dua bayangan muncul dari arah meja rias. Dalam sekejap dua bayangan muncul. Roxa berontak dalam genggamantangan Inta.

"Ini miss, Roxa dalang di balik semuanya, ayo ngaku kamu,” desaknya.

"Bukan aku pelakunya, ibu percayalah...," Roxa merengek.

Teman-teman lain ikut mendesak gadis itu.

”Aku iri Fasya bisa masuk tim inti. Sementara aku anggota lama tidak pernah tampil di satu pertunjukkan pun,” jelas Roxa.

 

Miss Rora tidak menyangka putrinya bisa berbuat jahat seperti itu. Seluruh anggota teater menginginkan dia mendapatkan hukuman setimpal. Sebagai gantinya, Roxa harus dikurung di penjara bawah tanah Teater Renikz selama satu tahun.

Aku sedikit kecewa tidak bisa menampilkan yang terbaik. Aku juga tak menyangka yang ku kira sahabat ternyata punya muslihat jahat.

Aku memejamkan mata cukup lama, sampai tak keluar kamar. Aku tidak bangun di ranjang Teater Renikz, tapi di tempat lain. Banyak selang di seluruh sisi tubuhku.

Aku melihat ibu dan ayah sedang menangis haru. Katanya aku terbangun dari koma. Kenapa aku bisa koma? Dan, di mana Gryetz World sekarang? (*)

Oleh: CAHYADEWI RIZKANINGRUM

*)Penulis adalah siswa SMPN 2 Kota Mojokerto. Lahir di Kota Mojokerto 21 Februari 2011.

 

 

Editor : Imron Arlado
#kumpulan cerpen #mojokerto #cerpen