Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Kenapa Ibadah dengan Rasa Ragu Tidak Dapat Ditagih di Hari Akhir, Inilah Penjelasannya

Moch. Chariris • Rabu, 3 April 2024 | 04:06 WIB
TOKOH AGAMA: Gus Sa’dullah Syarofi, putra pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Al-Mishbar, Dusun Karangnongko, Desa Mojoranu, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto. (foto: Internet)
TOKOH AGAMA: Gus Sa’dullah Syarofi, putra pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Al-Mishbar, Dusun Karangnongko, Desa Mojoranu, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto. (foto: Internet)

RADARMOJOKERTO - Menjalani kehidupan sehari-hari tidak lepas dari keraguan.

Sifat ragu ini tidak hanya muncul ketika melakukan urusan duniawi.

BERDOA: Wakil Ketua Tanfidziyah PC NU Kabupaten Mojokerto Sa’dullah Syarofi dalam acara pengajian umum. (foto: Internet)
BERDOA: Wakil Ketua Tanfidziyah PC NU Kabupaten Mojokerto Sa’dullah Syarofi dalam acara pengajian umum. (foto: Internet)

Namun juga urusan ukhrawi.

Hal ini dapat menyebabkan ibadah yang kita lakukan sia-sia di mata Allah SWT.

Sa’dullah Syarofi atau yang akrab disapa Gus Dullah menjelaskan, syahwat menjadi sebab bergesernya ketaatan kepada Allah SWT.

Sedangkan taat menjadi sumber yang dialihkan oleh syahwat.

Jika ketaatan sesorang sudah bergeser, maka ibadahnya  pun akan geser.

Maksudnya, tujuan dari apa yang dilakukan bukan lagi karena Allah SWT, melainkan sesuatu hal yang ingin didapatkan.

”Dicontohkan seseorang yang kerap mengunjungi rumah kerabat karibnya karena ingin menjalin silaturahim berpindah tujuan untuk melihat putri temannya yang cantik. Maka, meskipun perbuatannya sama, akan tetapi tujuannya berbeda. Sehingga besar kemungkinan bahwa hal tersebut tidak dicatat sebagai ibadah oleh malaikat,” ujar Gus Dullah.

Baca Juga: Berbagi Sukacita, SPS Corporate Berikan Bingkisan Warga Terdampak Banjir Mojokerto

Oleh karena itu, lanjut Gus Dullah, perlunya mewaspadai bergesernya ketaatan pada diri.

Kerap kali kita tidak menyadari bahwa ibadah meningkat dan terasa nikmat itu bukanah karena keimanan.

Melainkan adanya sesuatu yang lain, yakni syahwat.

Syahwat erat hubungannya dengan malahi.

Jika syahwat kerap dihubungkan dengan keinginan, maka malahi berkaitan dengan pertimbangan dan ketidakcocokan yang menimbulkan keresahan.

Inilah yang dimaksud dengan muqollibal qulub.

Keraguan-keraguan ini muncul ketika seseorang menyikapi ketaatan.

Sehingga akan merusak nilai ketaatan itu sendiri.

Seperti halnya ketika salat, seseorang tidak fokus pada tujuan, melainkan fokus terhadap apa yang dilakukan (apakah diterima atau ditolak dan sebagainya).

”Sama halnya ketika seseorang hendak melaksanakan salat di tengah kesibukannya. Syahwatnya, sebagai kebutuhan dasar akan memerintahkannya untuk menunaikan salat terlebih dahulu. Namun malahi mencegahnya dengan menanamkan pikiran akan tertundanya kegiatannya akibat ia salat sebelum meneyelesaikan tanggung jawab,” tandas Gus Dullah.

Baik setan syahwat maupun setan malahi yang dituruti, seseorang tersebut akan salat dengan kedaan resah.

Baca Juga: THR ASN Cair, Gaji Ke-13 Menanti, Pemkot Mojokerto Siapkan Rp 26 Miliar

Sedangkan di hari akhir nanti, amalan yang dapat ditagih hanyalah ibadah yang dilakukan dengan ikhlas, bukan yang diragukan.

Sehingga alangkah baiknya jika seseorang menggunakan pertimbangan adil untuk membasmi syahawat wal malahi ini. ”Yakni dengan sifat qanaah dan tawakal,” pungkasnya. (wilda mifta)

Editor : Moch. Chariris
#ragu #ibadah #Hari Akhir #kiai chusaini ilyas