Acara yang digagas oleh Jaringan GUSDURian itu dihadiri ratusan peserta dari berbagai elemen, mulai dari badan otonom NU, pemuda Muhammadiyah, Muda-Mudi Gereja, organisasi umat Katholik, Konghucu, Buddha, Hindu hingga kelompok marjinal yaitu kaum w aria,semua tumplek blek dikantor pemkab sejak pukul 22.00 WIB.
Acara dimulai dengan lomba patrol dan penampilan seni dari berbagai komunitas. Momen haru terasa saat Ibu Sinta Nuriyah hadir ditengah-tengah hadirin, didampingi putri bungsunya yaitu Inayah Wulandari Wahid.
Dia menyapa seluruh hadirin yang setia menunggu dari sejak Sabtu malam hingga Minggu dinihari kemarin. kedatangan Ibu negara keempat istri KH. Abdurahman Wahid itu diiringi kesenian barongsai dan lantunan salawat nabi.
Hadir juga di acara tersebut Bupati Mojokerto Ikfina Fahmawati, Ketua DPRD Kabupaten Mojokerto Ayni Zuroh dan Sekretaris Daerah Kabupaten Mojokerto Teguh Gunarko beserta semua jajaran dari TNI-Polri.
Dalam pidatonya Ibu Nyai Sinta Nuriyah memberi pesan dami melalui sebuah pertanyaan.
’’Kita hidup di mana? Di Indonesia ada ragam budaya dan agama apa saja? Lalu mereka itu siapa?’’ tanyanya.
’’Saudara kita..!!,’’ dijawab tegas dan serentak oleh seluruh hadirin.
’’Kalau begitu, kita semua berdiri untuk menyanyikan lagu satu nusa satu bangsa bersama-sama,’’ pinta Sinta Nuriya.
Seketika seluruh hadirin berdiri dan bernyanyi dengan penuh penghayatan, terlihat banyak hadirin yang tak kuasa menahan air mata.
Tangis tumpah saat menyanyikan lagu yang diciptakan oleh Liberty Manik, seorang komponis berdarah Medan yang hidup dan wafat di Yogyakarta tersebut.
Tepat pukul 03.30 WIB Ibu Sinta mempersilakan seluruh hadirin untuk sahur bersama. Ia juga sahur dengan menu yang sama seperti seluruh hadirin yaitu nasi kotak.
’’Acara seperti ini sangat istimewa dan baru saya rasakan di sini. Ibu Sinta mengajarkan kesederhanaan dan rasa kebangsaan yang kuat pada kita semua,’’ kata Osin salah satu peserta yang hadir.
Setelah sahur bersama pidato kebangsaan dilanjutkan dengan pesan-pesan damai dan terus menekankan persatuan dan kesatuan sebagai warga Indonesia.
’’Momen ini memberikan wawasan kebangsaan, kesetaraan, keadilan dan kesederhanaan bagi kita semua, saya haru sekali. Beliau sudah sepuh tetapi tak henti-hentinya berkeliling Indonesia untuk menebarkan perdamaian dan persaudaraan,’’ ungkap Kusumo dari salah satu warga Hindu yang hadir kemarin.
Setelah imsak tiba, adzan subuh dikumandangkan, diakhiri dengan sesi foto bersama, dan ibu negara ke empat itu berpamitan. (fan)
Editor : Fendy Hermansyah