MUNGKIN sudah seminggu lampu jalan itu padam, dan kalau tak salah ada dua titik lampu yang padam. Padahal biasanya cepat dibenahi, tapi sekarang sudah hampir seminggu belum juga diperbaiki. Ada apa sebenarnya, kenapa tak segera diperbaiki, apakah menunggu warga selingkungan protes dulu.
Bahkan sikap Pak RT tenang-tenang saja, melihat adanya beberapa titik lampu jalan dilingkungannya mati. Katanya, ada beberapa lampu jalan yang rusak, pak?” tanya Kang Wito malam ini di pos kamling. Dan tiap malam Pak RT selalu datang ke pos kamling. Bahkan kadang sendirian berada di pos kamling.
“Iya, ada di gang utara” jawab Pak RT.
“Katanya juga sudah hampir seminggu, tapi belum diperbaiki”
“Bagaimana, ya. Sebenarnya Syaiful sudah siap dan sanggup memperbaiki, bahkan itu dikatakan sendiri, tapi….”
“Tapi, sampai sekarang belum diperbaiki!” potong Kang Wito, merasa jengkel dengan Syaiful yang akhir-akhir ini berubah sikap.
Bahkan sudah sebulan Syaiful tak pernah lagi datang ke pos kamling seperti dulu. Padahal dulu setiap malam selalu datang ke pos kamling. Entah ada apa dengannya, kenapa akhir-akhir ini jarang ke pos kamling. Padahal, selama ini setiap ada kerusakan lampu jalan di lingkungan, Syaiful yang memperbaiki, dan semua warga juga sudah tahu itu.
“Pak RT, lampunya di gang utara kok belum diperbaiki?” tanya Hasan yang baru datang ke pos kamling.
“Iya, ini juga lagi kita bicarakan” sahut Kang Wito.
“Ayo, Kang Wito kita perbaiki, kasihan warga sekitarnya” kata Hasan, dan minta Kang Wito pinjam tangga ke Abah Wawan.
Tanpa banyak tanya, Kang Wito langsung bergerak mengambil tangga. Pak RT tak diam saja, ikut juga bergerak.
“Kita tak usah nunggu Syaiful lagi, Pak RT” kata Kang Wito sambil memanggul tangga.
“Iya juga, mungkin hanya dop nya yang mati” kata Hasan sambil berjalan mengikuti Kang Wito bersama Pak RT.
Malam bergulir mengalir semakin sepi. Bulan di langit tampak temaram karena terhalang awan. Tak ada bintang gemintang menampakkan diri. Pak RT, Kang Wito dan Hasan lagi sibuk memperbaiki lampu jalan di lingkungannya.
“Kang Wito, matikan dulu lampunya di MCB” kata Hasan yang lagi memeriksa kabel dan berada di atas tangga. Kang Wito bergegas ke arah letak MCB. Lampu sementara mati.
“Ternyata ngepong, ada kabel yang sambungannya kurang kuat” kata Hasan sambil memperbaiki kabel.
“Apa tak ada yang perlu diganti?” tanya Pak RT
“Nggak ada, Pak RT” jawab Hasan, “Kang Wito, pean coba lagi, pean hidupkan MCB nya” lanjut Hasan. Dan Kang Wito yang masih berada di sebelah tiang listrik di mana MCB diletakkan, langsung menyalakan.
Byarrr, lampu sudah menyala semua. Hati Pak RT merasa senang, lampu sudah diperbaiki. Hasan dan Kang Wito mengumpulkan alat-alat yang baru dipakai untuk memperbaiki saluran listrik yang membuat beberapa titik lampu jalan padam. Pak RT, Kang Wito dan Hasan kembali ke pos kamling.
Abah Wawan di pos kamling sendirian, seruput kopi kesukaannya. Sudah biasa setiap malam ada beberapa gelas kopi, dan tak hanya kopi hitam saja. Sementara itu, Pak RT, Kang Wito dan Hasan berjalan sambil bicara tentang lingkungan yang akhir-akhir ini sudah tak ada piket jaga malam.
“E…lihat, Abah Wawan sudah di pos kamling” kata Kang Wito memberitahu Pak RT dan Hasan.
“Bagaimana, sudah beres?” tanya Abah Wawan begitu Pak RT, Kang Wito dan Hasan sudah sampai di pos kampiling.
“Alhamdulillah, beres Abah!” jawab Pak RT
“Syaiful tadi juga ke sini, dan saya beritahu kalau sampeyan memperbaiki lampu sama Kang Wito dan Hasan”
“Sekarang, dia kemana, Abah?” tanya Pak RT
“Katanya mau bantu, dan pamit pergi. Apa tak ke sana, tadi”
“Hmmm…” Pak RT hanya berdahem dan menghela napas, “Ya, begitulah Abah, biarlah.
Ternyata Syaiful hanya beralibi semata, dan tak membantu memperbaiki lampu jalan yang mati. Dan tak sekali saja Syaiful beralibi, berbohong sama Abah Wawan dan Pak RT.
“Yang penting sekarang semua lampu yang ada sudah nyala kalau malam hari” kata Pak RT.
“Iya, Pak. Apalagi bulan puasa, biar warga merasa senang”
“Tadi Syaiful ke sini?” tanya Kang Wito
“Iya, sebentar dan pamit pergi katanya mau bantu sampeyan bersama Hasan” jawab Abah Wawan
“Memang asem anak itu” kata Kang Wito sambel bicara tak jelas dan merasa jengkel dengan ulah Syaiful.
Di pos kamling Pak RT, Kang Wito, Hasan dan Abah Wawan membicarakan Syaiful yang akhir-akhir ini jarang sekali ke pos kamling. Bahkan Abah Wawan memberitahu bila sering dibohongi Syaiful. Padahal beberapa bulan yang lewat Syaiful orangnya baik dan ringan tangan. Tiap ada kerusakan lampu jalan, tanpa diperintah, sudah diperbaiki.
Ada apa dengan Syaiful yang berubah sikap, dan bahkan tak konsisten, hanya janji dan janji bila dimintai bantuan memperbaiki lampu jalan yang rusak. Dan tak sekali saja Syaiful membohongi Pak RT.
“Pak RT harus sabar, dan tak hanya Syaiful saja yang bisa memperbaiki lampu jalan bila ada kerusakan” kata Abah Wawan
“Tapi dia itu terlalu, Abah” kata Kang Wito
“Memang terlalu, dia” kata Hasan sambil minum kopi lalu menyulut rokok kesukaannya.
Malam terus bergerak dan semakin sepi. Hanya tinggal satu dua rumah warga yang pintunya masih terbuka. Sebagian besar semua pintu rumah sudah terkatup rapat. Di pos kamling Pak RT berdagang dengan Kang Wito. Sementara itu Hasan dan Abah Wawan sudah pamit pulang untuk istirahat malam.***
*Tinggal di Mojokerto. Biasa dipanggil Ethex. Produktif menulis puisi, dan sudah diterbitkan dalam bentuk buku, baik berupa antologi puisi.
Editor : Fendy Hermansyah