SUARA merdu seorang gadis mengalun lembut setelah ia menunaikan salat Isya. Sangat menenangkan hati, suara itu mengisi ruangan dan menyapu keheningan di sekitarnya. Setelah selesai beribadah, gadis itu melangkah keluar dari kamarnya untuk bertemu dengan bibinya.
“Bibi mau pergi kemana?” tanya gadis itu penasaran.
“Bibi ada urusan penting. Tolong ya, Lisa, kamu jaga rumah ini sampai Bibi pulang ya!” jawab bibinya lalu tersenyum tipis.
Kemudian Bibinya mengambil dompetnya warna coklat di atas meja ruang tamu dan lalu pergi dengan meninggalkan kunci duplikat untuk Lisa.
Lisa duduk terdiam beberapa saat. “Hadeh, bibi dan adik selalu pergi keluar setiap malam jumat setelah salat Isya’. Bibi pergi kemana sih, kalau adik kan tiap malam Jumat ada ekstrakurikuler pramuka di sekolahnya. Duh, rumah ini bakalan sepi semalaman lagi deh.”
Setiap malam Jumat, Lisa selalu disuruh menjaga rumah. Tapi mau gimana lagi, ia juga numpang gratis dan jarak ke universitasnya juga lumayan dekat dengan rumah Bibinya. Jadinya ya harus mengikuti peraturan yang ditetapkan.
***
Setiap kali Lisa harus menjaga rumah sendirian, dia punya rutinitasnya sendiri. Pertama-tama, dia akan membuat segelas teh hangat untuk menemani malamnya. Lalu, menyalakan kipas angin agar udara tetap sejuk. Setelah itu, Lisa akan menemani dirinya sendiri dengan membaca buku-buku non fiksi di perpustakaan kecil yang ada di rumah Bibinya.
Ketika Lisa tengah asyik membaca buku, tiba-tiba terdengar suara keras dari sebelah kirinya. Bruk!
Lisa dikejutkan dengan suara itu dan langsung menoleh. “Oh, ternyata suara buku jatuh ya. Mungkin saja tikus yang menjatuhkannya,” Ia masih berpikir positif.
Buku itu jatuh dalam keadaan terbuka, saat hendak mengambil buku itu. Lisa melihat ada kata yang ditandai dengan stabilo warna biru.
“Hah? Hanya kata kau yang ditandai dengan warna biru?” ucapnya kebingungan.
Ia langsung menutup buku itu dan menaruhnya kembali di rak.
“Hmm, ngomong-ngomong, tadi dari rak sebelah mana ya? Taruh di sini aja deh,” Setelah itu, Lisa pun melanjutkan membaca lagi.
“Memang sih, bibi orangnya suka menandai kata-kata atau kalimat kesukaannya di buku. Tapi kayaknya kata kau, bukan kata yang penting,” ucapnya sambil menggaruk kaki kanannya, karena digigit nyamuk.
Beberapa menit kemudian, buku itu terjatuh lagi.
Bruk!
Lisa pun yang sudah mulai risih, karena terganggu dengan suara-suara benda jatuh.
“Hah, buku yang tadi jatuh lagi?”
“Eh, ada kata yang ditandai lagi. Kata sendirian, tetapi kali ini ditandai dengan stabilo warna hijau. Apa maksudnya?” Lisa saat ini semakin penasaran, tetapi ia tidak tahu maksud dari kata yang ditandai itu.
Lisa pun menaruhnya lagi di rak dan kembali melanjutkan membaca. Tapi saat berjalan beberapa langkah meninggalkan rak tersebut.
Bruk! Buku itu jatuh lagi.
“Jatuh lagi? Kok bisa sih? Aneh banget deh.” ia sudah merasa ada yang tidak beres.
“Lagi-lagi terbuka di halaman yang ada kata ditandai. Kali ini kata di rumah.” Lisa berpikir sejenak. “Eh, semisal kata-kata yang ditandai dengan stabilo sebelumnya digabung menjadi kalimat. Kau sendirian di rumah.”
Lisa seketika mematung beberapa detik, menjatuhkan buku itu dari tangannya. Lalu ia mengusap-usap wajahnya dan tertawa pelan.
“Hahaha, cuma kebetulan kan? Lucu banget deh.”
Suasana menjadi sunyi dan dibarengi suara tokek yang semula terdengar keras, tiba-tiba suaranya perlahan-lahan menjauh. Lampu di ruang perpustakaan tiba-tiba hidup-mati, seperti ada yang memainkan saklarnya.
Lisa langsung keluar dari ruang perpustakaan, lalu berlari ke kamar Bibinya, karena sudah sangat takut. Ia menutup pintu kamar rapat-rapat dan menutupi dirinya dengan selimut. Dari samping, tiba-tiba Lisa mendapat bisikan lirih.
“Aku di sampingmu, Lisa. Buka selimutmu dong, temani aku bermain malam ini.”
Perlahan-lahan Lisa membuka selimut dikit demi sedikit. Disebelah kirinya, terlihat baju merah lusuh dan compang-camping, tetapi ia masih belum melihat wajah sosok itu. Lisa langsung lompat dari kasur dan bergegas membuka pintu kamar untuk kabur. Tetapi pintu itu tidak bisa dibuka, padahal pengganjalnya sudah dibuka.
Sosok itu perlahan mendekatinya, sampai hampir hidung sosok itu menyentuh tengkuk Lisa. Akhirnya pintu itu terbuka, ia berlari secepat mungkin menuju ruang tamu dan berniat kabur dari rumah untuk mencari Bibinya, karena sudah sangat ketakutan.
Tapi saat hendak sampai di depan pintu yang tinggal beberapa langkah lagi, kedua kakinya terasa sangat berat untuk digerakkan. Terdengar suara bisikan dari sebelah kiri telinga Lisa.
“Mau kabur kemana kamu, Lisa,” Lalu sosok itu tertawa melengking. “Hihihihi, temani aku bermain dong.”
Seketika reflek menoleh ke kiri, dan betapa terkejutnya Lisa. Melihat sosok perempuan dengan rambut pendek acak-acakan, lehernya patah, mukanya setengah gosong dan penuh darah. Ia yang melihat sosok itu langsung berteriak kencang.
“Aaaaaahhhhh, ha-haaanntuuuuu,” setelah berteriak kencang melihat sosok itu, Lisa langsung pingsan, tengkurap di lantai.
Teriakannya itu terdengar sampai ke tetangga sekitar.
***
Beberapa jam kemudian, ia akhirnya kembali tersadar dan sudah berada di kamar tidurnya. Dengan bekas cakaran kecil di keningnya, Terlihat ada dua orang warga sekitar dan juga Bibinya di sampingnya.
“Ada apa, Nak? Sampai membuatmu pingsan seperti ini. Untungnya kamu sudah siuman, Bibi khawatir sekali.” tanya Bibinya sambil memasang plester untuk bekas luka Lisa.
“Jadi begini, Bi.Tadi saat sebelum pingsan, aku melihat sosok perempuan berambut pendek acak-acakan, lehernya patah, mukanya setengah gosong dan penuh darah di bagian kakinya.”
“Tetapi sebelum perempuan itu menampakkan sosoknya, aku mendapat gangguan lewat buku yang sama jatuh dari rak sampai tiga kali. Tetapi setiap buku itu jatuh, ada satu kata yang ditandai dengan warna yang berbeda-beda. Yang pertama warna biru dengan kata kau, lalu yang kedua warna hijau dengan kata sendirian dan yang ketiga warna merah darah dengan kata di rumah. Jadi semisal digabung, bakal menjadi kau sendirian di rumah.”
Mendengar ucapan Lisa, bibinya langsung memeluknya dan berkata. “Maafkan bibi ya, Nak. Sudah meninggalkanmu sendirian di rumah tiap malam Jumat. Soalnya bibi menjenguk kakekmu di rumah sakit tiap seminggu sekali.”
Lisa pun menjawab. “Iya, Bi, gapapa kok.” dan meminta sesuatu ke bibinya. “Tapi kalau Bibi mau keluar tiap malam, aku ikut ya. Soalnya takut sendirian di rumah.” ucapnya sambil memeluk Bibinya erat-erat.
Bibinya mengiyakan permintaan Lisa. “Oke sayang, sekarang kamu istirahat aja dulu. Bibi jaga kamu malam ini. Kakekmu sudah ada yang jaga.”
Beberapa minggu kemudian, sosok itu tidak lagi menampakkan wujudnya. Lisa hanya mendapat gangguan benda jatuh dan ketukan dari luar jendela kamarnya tiap malam. Tapi lama kelamaan ia sudah terbiasa dengan gangguan itu dan menghiraukannya.
Sosok itu pun perlahan-lahan menghilang dan tidak pernah mengganggunya lagi, saat Lisa sudah selesai sidang skripsinya dan sebentar lagi ia wisuda.
*Kelahiran Kota Mojokerto 2004. Penulis novel, puisi dan cerpen. Cerpennya dimuat di sejumlah media massa.
Editor : Fendy Hermansyah