Punden dusun Mbah Timbul bisa diakses dari Jalan Raya RA Basuni, Sooko, Kabupaten Mojokerto. Dengan memasuki Sooko Gang 3, makam ini berada sekitar 300 meter dari jalan raya.
Makam berada dalam bangunan mirip rumah dikelilingi pekarangan berisi pepohonan. Di dalam bangunan cungkup tersebut, terdapat beberapa makam.
Yang utama, makam Mbah Timbul. Makam tersebut sering dijadikan warga sekitar untuk berdiam diri atau berdoa. Pada waktu tertentu juga sering digelar ruwatan.
Kuadi, tokoh Desa Sooko/Kecamatan Sooko menceritakan, leluhur yang ada desa Sooko tak lepas dari sejarah makam Mbah Timbul.
''Mbah timbul ini aslinya dari Tengger. Mbah Timbul masuk Sooko mempunyai pangkat derajat dan dinamai Kersane Siunun Mangun Wiryo Kusumo Mbah Timbul Sejati Pangeran Sepuh. Sampai jadi Dusun Sooko, Desa Sooko, sampai kecamatan Sooko. Ini juga batas wilayah Dusun Sooko,'' ujarnya ditemui di kediamannya.
Pihaknya menceritakan, dulunya di dekat tempat tersebut ada dukun Kabriyah yang sering dikunjungi oleh orang-orang. Dulunya, dipercaya bisa menyembuhkan penyakit apa saja.
''Biasanya di hari Jum'at legi sering digunakan untuk tasyakuran atau ruwat. Tetapi jaman sekarang banyak orang baru dan ada yang tidak mempercayai apakah Mbah Timbul ini benar-benar orang Islam.
Dirinya mengaku tidak asli penduduk Sooko. Namun, menetap di Sooko lantaran menikah dengan warga setempat. ''Awal masuk Desa Sooko bertemu dengan istri dan tidak mengetahui bahwa makam tersebut adalah makam Mbah Timbul,'' ujarnya.
Belakangan, setelah seringkali berdoa di tempat makam Mbah Timbul, dirinya mendapat ilham.
''Wasilah lewat mimpi oleh Mbah Timbul. Wasilah salah satu yang diberikan kepada Kuadi yaitu nasehat bahwa Kuandi hanya benalu (orang pendatang/luar). Bahwa orang pendatang tidak boleh merusak lingkungan sekitar,'' beber Kuadi.
Kuadi berpesan agar makam tersebut diperbaiki lebih baik lagi. Walaupun tidak banyak yang berziarah, dirinya berharap setidaknya warga yang ada di Sooko mengenal para leluhurnya sendiri. ''Karena warga sekitar tidak banyak yang tahu sejarah leluhurnya sendiri,'' pesannya. (Mia Chalimatus Syaidah/fen)
Editor : Fendy Hermansyah