Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

5 Kesenian Khas Bumi Mojokerto yang Punya Energi Spiritual dan Makna Budaya

Fendy Hermansyah • Minggu, 18 Februari 2024 | 00:00 WIB

LESTARI: Pemain Ujung sedang beradu pukulan dengan rotan kayu dalam pertunjukan di Desa Salen, Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto, kemarin.
LESTARI: Pemain Ujung sedang beradu pukulan dengan rotan kayu dalam pertunjukan di Desa Salen, Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto, kemarin.
SENI mempunyai daya tarik yang berbeda dengan kuliner dan tempat wisata, karena seni mengaitkan energi spiritual dan makna budaya setempat. Sehingga gabungan keduannya dituangkan dalam bentuk seni yang menarik untuk dinikmati.

Sama halnya dengan seni yang ada di Mojokerto yang juga mempunyai simbol dan energi spiritual yang memang di yakini masyarakat sekitar. Berikut beberapa seni tradisonal yang dapat anda kunjungi ketika berada di Mojokerto.

BERAKSI: Dua orang penari ujung saat saling serang di atas panggung yang digelar di Desa Kutogirang, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto.
BERAKSI: Dua orang penari ujung saat saling serang di atas panggung yang digelar di Desa Kutogirang, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto.

1. Seni Bantengan

Bantengan menjadi salah satu seni yang pada awalnya hanya ada di Desa Made, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto. Setelah berjalannya waktu, kesenian ini mulai ditemukan hampir sebagian kota Mojokerto dan dilakukan secara turun-temurun oleh masyarakat.  Untuk menikmati seni ini kita dapat datang ke empat kecamatan yakni Trawas, Pacet, Jatirejo, dan Gondang.

Seni tradisional ini dijadikan sebagai pertunjukan budaya dan tradisi yang mengaitkan unsur sendra tari olah kanurangan. Sedangkan musik dan syair (mantra) yang di ucapkan sangat kental dengan nuansa magis. Makna banteng sendiri dipercaya masyarakat sebagai dewa pelindung sehingga dapat terhindar dari bahaya.

Seni bantengan dimainkan oleh dua pemain sebagai banteng. Kemudian dua orang laki-laki yang berada di depan menjadi dua kaki banteng. Sedangkan kaki pemain lain menjadi dua kaki banteng dibelakang. Bentuk tubuh banteng dibuat dari selembar kain yang menghubungkan bagian kepala hingga ekor. Bagian paling menarik dari pertunjukan seni ini ketika pemain yang berada di bagian kepala mengalami kesurupan dari arwah leluhur Banteng (Dhanyangan).

Seni Bantengan di Majapahit Musium
Seni Bantengan di Majapahit Musium

2. Grebeg Suro Majapahit

Tradisi ini di yakini oleh mayarakat bahwsanya para leluhur mereka masih berada di Mojokerto, sehingga Grebeg Suro Majapahit menjadi salah satu acara tahunan yang masih dilakukan setiap awal bulan suro, di bekas kota kerajaan Majapahit yang berada di Trowulan.

Tradisi ini diawali dengan membaca Macapat yang berisi gantra oleh pegiat seni yang hadir, baik dari golongan tua atau golongan muda. Pembacaan Macapat nantinya akan di akhiri dengan adanya pertunjukan wayang. Setelahnya ada acara untuk melaksanakan ritual yang hanya di ikuti para sesepuh untuk ke tempat peninggalan kerajaan majapahit melakukan sowan. Ini dilakukan untuk memohon doa untuk bumi majapahit agar tentram dan damai.

Kemudian di lanjutkan dengan pertunjukan seni Bantengan, Reog Ponorogo,dan kesenian jawa lainnya, pertunjukan seni dilaksanakan di Pendopo Agung Trowulan. Kemudian acara puncak yakni Kirab Sesaji Kuro, semua masyarakat dan para sesepuh melakukan Kirab Masal.

Dalam tradisi Grebeg Suro yang dilakukan tidak hanya warga sekitar, tetapi juga banyak penonton yang dari luar daerah ikut antusias menikmati tradisi ini, sehingga tradisi ini bukan hanya sekedar tradisi yang diikuti, tetapi juga pertunjukkan seni yang dapat dinikmati dan penghibur untuk warga yang datang.

Suasana Ketika Tradisi Suro Majapahit
Suasana Ketika Tradisi Suro Majapahit

3. Seni Ludruk

Ludruk merupakan pertunjukkan seni yang berasal dari Jawa Timur, yang para pemainnya umumnya adalah laki-laki. Pertunjukkan Ludruk ini menceritakan keseharian rakyat miskin, sering kali juga di campuri dengan humor dan kritik social yang ditunjukkan kepada para penguasa yang tidak memikirkan rakyatnya.

Sebelum pertunjukkan Ludruk dimulai akan dibuka dengan tari Remo yang mempunyai makna ucapan selamat datang untuk para tamu yang menyaksikan pertunjukkan ini.

Tarian ini biasanya dilakukan oleh pria gagah yang mempunyai kumis tebal. Sekaligus melakukan nembang yang menggambarkan ramahnya orang Jawa Timur yang selalu memberi hormat dan mempersilahkan tamunya untuk duduk dan menikmati acaranya.

Meskipun ludruk di Mojokerto sering mengalami pasang surut, tetapi hingga saat ini ludruk yang masih dikenal banyak orang adalah Ludruk Karya Budaya.

Seni Ludruk di Karya Budaya Mojokerto
Seni Ludruk di Karya Budaya Mojokerto
4. Wayang Kulit

Wayang kulit yang ada di Mojokerto berbeda dengan wayang kulit dari Surakarta dan Yogyakarta. Perbedaan ini terlihat dari bentuknya yang agak kecil, ornamen, tata warna, dan bentuk ukirannya juga berukuran sedang.

Wayang kulit di Mojokerto Ki Pit Asmoro salah satu dayang yang legendaris dalam wayang kulit jawa timuran  di Trowulan. Setelah meninggal bakat dalangnya tidak diteruskan oleh ankanya. Banyaknya murid yang dimiliki Ki Pit Asmoro mendominasi pementasan wayang kulit di Mojokerto.

Wayang kulit di Museum Gubug Wayang Mojokerto.
Wayang kulit di Museum Gubug Wayang Mojokerto.

5. Kesenian Ujung

Kesenian Ujung biasanya dilakukan untuk sedekah bumi. Biasanya disiapkan di pendopo desa sebagai area seni untuk adu cambuk, dengan diiringi dengan musik tradisonal untuk mengiringi pertandingan. Kesenian ujung biasanya dilakukan oleh dua orang pria yang saling memukul anggota badan lawan, dengan gerakan menangkis. Pertandingan ini dilakukan dengan menggunakan rotan.

Kesenian ini menjadi salah satu tradisi yang sudah dilakukan secara turun temurun. Seiring berjalannya waktu, permainan ujung bukan lagi permainan yang memberikan kesan kekerasan. Kesenian ini sudah diganti sebagai kesenian yang tidak mencari pemenang, tetapi hanya kesenian adu ketangkasan. (Novita Ainiyyatus Zakiyyah/fen)

 

 

Editor : Fendy Hermansyah
#ludruk #bantengan #wayang #mojokerto #kesenian