SUASANA hujan di sekolah membuatku teringat akan sesuatu. Aku Nayra, sekarang tanggal 1 Oktober 2022. Aku ingin menceritakan peristiwa pada bulan Oktober.
1 Oktober 2020
Aku masih SMP kelas 9, semester ganjil. Di dalam rumah yang sepi dan suram, aku duduk termenung. Merasa takut, gelisah akan sesuatu. Rasanya aku ingin pulang padahal berada di rumah.
Banyak masalah yang terjadi. Keluargaku terpecah belah, hubungan pertemanan tidak baik. Hari-hari terasa sama, aku merasa bosan.
Keesokan harinya, dedaunan dibasahi oleh rintik hujan, air menggenang di lapangan sekolah. Salwa yang berkulit putih seperti susu dan Kayla berkulit sawo matang dengan senyumannya yang manis menghampiriku mengajakku hujan-hujanan. Toh, Besok seragam hari ini tidak dipakai, aku ambil sandal dulu. Kami bermain hujan sepulang sekolah. Melupakan masalah bersama Salwa dan Kayla.
Sampai rumah aku menikmati mi instan dan mendengarkan lagu favorit. Setelah makan aku mencuci peralatan makan dan menyiapkan keperluan sekolah.
Pada hari itu, mata pelajaran di jam pertama adalah Agama. Aku merasa bosan karena setiap hari rasanya sama saja, tak ada yang berubah. Aku, Kayla, dan Salwa duduk di depan kelas sambil makan makan.
Kalian tahu Reina suka bicara sendiri?” ucap Salwa.
Aku dan Kayla saling berpandangan. Salwa menyuruh kami memperhatikan dia.
Reina yang berpenampilan layaknya anak culun, pakaiannya yang lusuh, kulitnya yang kuning langsat, dan kaca mata bulat yang ia pakai.
Bel sekolah berbunyi, jam istirahat usai. Para siswa memasuki ruang kelas masing-masing. Aku duduk di bangku sambil mengeluarkan buku catatan. Tempat duduk ditata secara berkelompok, beranggotakan 3 sampai 4 orang. Aku sekelompok dengan Kayla, Salwa, dan Ania. Karena ustazah Siwi tidak masuk, kami diberi tugas mengerjakan buku paket secara berkelompok.
Ania menyuruh aku mengerjakan nomor 1, Kayla nomor 2, Salwa nomor 3, dan dia nomor 4. Untuk nomor 5 kami kerjakan bersama.
Kami setuju, langsung sibuk dengan tugas masing-masing. Dua puluh menit kemudian tugas itu selesai. Suasana kelas jadi ramai, beberapa siswa sibuk bicara dengan teman sebangku.
Aku memperhatikan Reina dari jauh, tempat duduk kami tidak berdekatan. Gadis itu bicara sendiri, entah dengan siapa.
Saat istirahat kami membeli makanan lalu duduk di depan kelas. Membicarakan rencana untuk pergi ke suatu tempat minggu depan. Kayla lalu bertanya soal tugas IPS minggu lalu, aku menjawab sudah. Ia ingin melihat bukuku. Butuh beberapa menit aku berpikir untuk memberikan buku. Kayla mengucap terima kasih saat menerimanya.
Bel jam selanjutnya berbunyi. Ustazah Widya masuk kelas dan mengucapkan salam, kami menjawab serentak. Ia membahas tugas minggu kemarin. Murid-murid lain mengeluarkan LKS dan menukarnya dengan teman sebangku untuk dikoreksi. Wanita itu membacakan jawaban yang benar. Aku memberikan kertas jawaban Kayla. Nilai tugas kami sama.
“Menurutmu Reina aneh? Aku lihat dia bicara sendiri waktu pelajaran ustazah Siwi.”
Kayla mengangguk, Aku penasaran kenapa dia begitu.”
Saat pulang sekolah, sore itu aku pulang naik sepeda bersama Kayla. Sepanjang perjalanan topik pembicaraan masih sama. Sampai di pertigaan jalan kami berpisah dan melambaikan tangan.
Sesampainya di rumah, aku meletakkan sepatu di dalam rak, lalu bergegas mandi, membersihkan diri. Terakhir beres-beres kamar.
Dari jam tujuh malam sampai tengah malam aku bermain game online dan media sosial. Tidak bisa tidur, aku tiba-tiba ingin mengajak Reina keluar ke taman jam 10 pagi besok. Pesanku belum dibalas, mungkin dia sudah tidur, aku jatuh tertidur.
Alarm berbunyi. Aku segera bangun dan bersih diri, lalu menyalakan HP, ada notifikasi dari Reina. Ia setuju untuk pergi keluar hari ini. Hari sabtu sekolah libur. Sebelumnya aku izin pada Mama. Mama bilang, jam satu kita akan pergi ke Jogja. Aku mengangguk.
Sesampainya di taman, aku mencarinya di sekitar taman. Reina sedang bicara sendiri lagi. Aku menghampiri Reina.
Kamu ngomong sama siapa tadi?”
Hmm, nggak kok, aku nggak ngomong apa-apa.”
Ketika jam dua belas aku pamit karena harus berangkat ke Jogja. Kami berangkat jam satu dan sampai sana jam delapan malam. Mama mengajak jalan-jalan ke Malioboro, setelah merasa capek kami langsung menuju hotel untuk istirahat.
Alarm HP berbunyi. Aku bangun untuk salat Subuh dan mandi. Kami sarapan pagi terlebih dahulu, lalu berangkat menuju Candi Borobudur. Di sana aku naik ke atas candi dan berfoto. Selama berlibur aku masih chatting dengan Kayla, Salwa, dan Ania. Reina juga cerita tentang pengalamannya.
Entah kenapa Salwa sangat membenci Reina.
Kami pergi ke pusat oleh-oleh, aku membeli beberapa barang dan makanan. Sesampainya di rumah, aku langsung mandi dan menyiapkan keperluan untuk sekolah.
Aku memberi oleh-oleh untuk Salwa, Kayla, dan Ania. Untuk Reina akan kuberikan saat kami bertemu saja. Aku tersenyum lega melihat mereka suka dengan pemberianku. Saat pergi ke kantin aku bertemu Reina. Aku segera memberi oleh-oleh untuknya. Melihat hal itu ketiga temanku bingung.
Tumben dengan Reina kamu akrab gitu?” tanya Salwa.
Hah, enggak kok.”
Kami lalu membahas rencana untuk minggu depan.
Suasana kelas sama seperti kemarin. Aku bosan dengan itu semua, aku mau ada hal yang bisa mengubah ini semua. Seharusnya aku menyesal telah mengatakannya.
Ibu dan ayah terlihat cemas. Suasana rumah berbeda dari biasanya, aku masih berfikir positif. Aku berangkat ke sekolah seperti biasa.
Pada siang hari aku bercerita kepada Salwa, Kayla, dan Ania kejadian di rumah. Respon mereka berbeda dari biasanya. Ah, mungkin mereka hanya sedang badmood. Saat sampai ruang tamu aku tidak sengaja mendengar percakapan Mama dan Tante Sastri.
“Mbak, aku mau pinjam uang 15 juta boleh nggak ?”
Mama terdiam, lalu bertanya “Untuk apa uang itu ?”
Tante Sastri menjawab kalau untuk modal jualan dan Mama tidak bisa memberi pinjaman.
Tante Sastri dan suaminya menghilang. Tidak ada kabar sama sekali dari mereka. Kami mencoba ke rumah Tante Sastri. Pintu rumahnya terkunci, Mama dan Papa bertanya pada tetangga sebelah rumahnya.
“Bu Sastri belum pulang dari kemarin.”
Kami bingung setelah mendapat pengakuan tersebut.
Ternyata Tante Sastri terlibat kasus penipuan. Yang bermula dari teman Tante Sastri mengajak untuk mengikuti event lukisan. Semua uangnya habis, rumah, dan sepeda motor turut digadaikan. Mama dan Ayah sudah menegur Tante Sastri untuk berhenti, tetapi tante tetap melanjutkannya. Sehingga meminjam uang lebih dari lima juta kepada saudara-saudaranya.
Sejak mereka menghilang, hal aneh mulai terjadi. Tante Sastri sering mengirim pesan kepada semua saudara termasuk aku. Isi pesannya mau meminjam uang. Keluargaku yakin Tante Sastri dan suaminya terjebak, tidak bisa kembali pulang, mereka ditahan para penipu. Sampai sekarang, aku tidak tahu di mana mereka.
Keluargaku merasa diteror oleh penipu, kami pernah mendengar kabar mereka akan datang ke rumah kami. Suasana rumah menjadi mencekam. Gembok rumah diganti agar semakin aman. Aku menceritakan hal itu kepada Salwa, Kayla, dan Ania. Jawaban mereka tidak membuatku merasa tenang. Aku bercerita kepada Reina, malah membuatku nyaman.
Sejak saat itu, aku sering bercerita kepada Reina. Aku tidak pernah lagi melihatnya bicara. Sepertinya dia begitu karena tidak memiliki teman dan sering berhalusinasi.
Pertemanan kami jadi renggang. Aku sering diabaikan mereka, ketiganya suka bermain tanpa aku. Ditambah nilai ulangan menurun dan masalah Tante Sastri. Aku ingin menjelaskan perihal Reina agar mereka tidak salah paham. Aku berharap kalau kami menjadi teman baik.
Muncul gosip jikalau aku membicarakan aib mereka pada Reina. Aku merasa kecewa dengan sikap mereka. Satu angkatan mengetahui rumor tersebut, aku bingung harus bagaimana. Ditambah aku melihat oleh-oleh dari Jogjakarta mereka buang begitu saja. Aku sedih, orang-orang memandangku sebelah mata.
Aku ingin menceritakan semuanya pada orang tuaku tapi tak bisa. Aku hanya bisa bercerita pada Tuhan. Saat kelas 6, aku pernah membocorkan rahasia temanku, karena kebanyakan teman-temanku tak menyukainya. Mungkin ini karma.
Aku tetap merasa bersalah meski sudah minta maaf.
Aku menjalani hari-hari seperti biasa. Berteman dekat dengan Reina, berita soal Tante Sastri tidak pernah terdengar lagi. Pada akhirnya mereka minta maaf pada Reina.
*Kelahiran Mojokerto, kini tengah bersekolah di SMAN 3 Kota Mojokerto. Hobi bermain piano dan mendengar musik.
Editor : Fendy Hermansyah