RADARMOJOKERTO.JAWAPOS.COM - Kendang menjadi salah satu alat musik tradisional yang hingga kini masih sangat eksis. Bahkan, kian digemari grup-grup musik bergenre dangdut atau ambyaran dan seniman. Namun, di balik itu, proses pembuatan kendang tidaklah mudah. Bahkan, saat ini keberadaan perajinnya mulai jarang ditemui.
Di antara yang masih mempertahankan eksistensi kerajinan alat musik kendang adalah Pardan. Berkat kreativitas dan keuletannya, perajin kendang asal Dusun Pakis Kulon, Desa Pakis, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, ini dinilai seniman musik masih konsisten. ”Dulu saya ngendang (pemain kendang), tapi saya berhenti. Sekarang hanya fokus produksi kendang saja di rumah,” ungkapnya, Jumat (22/12).
Bongkahan kayu di samping rumahnya, menjadi bahan baku utama dalam proses pembuatan kendang. ”Saya sudah menjadi perajin kendang selama 25 tahun,” imbuh dia. Alat musik kendang yang diproduksi Pardan selama ini menggunakan beragam jenis kayu. Seperti mahoni, mangga, dan nangka. Namun, menurut dia, kendang dengan bahan baku kayu nangka paling banyak diburu pelanggan. ”Karena suara dan larasnya bagus,” ujar dia.
Proses pembuatan satu unit kendang bisa menelan waktu hingga satu minggu. ”Jenis kulit yang dipakai menyesuaikan pesanan. Seperti dari kulit kerbau dan kulit lembu,” tandasnya.
Selain kendang, belakangan pria 60 tahun ini juga menerima pesanan alat musik konvensional lainnya. Seperti rebana, reimo, hingga beduk. Tidak heran, pelanggan yang datang sebagian besar justru dari komunitas atau grup pelestari seni budaya. Di antaranya, kesenian jaranan, grup gamelan pengiring seni ludruk, hingga musik orkes. Namun, tidak sedikit pelanggan yang menghampiri rumahnya untuk sekadar servis alat musik. ”Sering juga orang datang untuk servis kendang atau ganti kulit,” tambahnya.
Selama ini, kerajinan alat musik kendang karya Pardan dipasarkan secara online. Selebihnya, pelanggan datang atas rekomendasi dari mulut ke mulut. Dia menuturkan, pemesan yang kepincut karyanya sebagian besar dari luar kota. Meliputi, Jombang, Sidoarjo, Surabaya, hingga Kalimantan.
Harga untuk satu kendang berukuran besar ditarif hingga Rp 2,5 juta. Sedangkan kendang berukuran kecil dihargai Rp 2 juta. Berkat eksistensi ini, dalam satu bulan, Pardan mampu menjual sekitar 3 hingga 4 unit kendang. ”Orang yang pesan biasanya sekalian dengan ngatur laras nadanya,” tambahnya.
Pardan mengaku kendala yang dialami selama menjalankan bisnis kreatifnya ini, ketika datang musim penghujan. Karena minimnya sinar matahari dinilai sangat memengaruhi kualitas kayu dan hasil suara kendang. ”Padahal, kayu harus dijemur kurang lebih dari satu minggu sebelum diproses menjadi kendang,” pungkasnya. (nadya azzahra)
Editor : Moch. Chariris