NAMAKU Nur Annisa Alisha. Ibuku yang memberi namaku. Usiaku 5 tahun. Aku sedang menempuh sekolah di SMAN Puja Bangsa. Ibuku sudah lama meninggal setelah melahirkanku. Sifatku pendiam tapi tak kenal menyerah. Semua orang memanggilku kerdil. Mungkin karena tubuhku yang kecil seringkali aku dikucilkan. Aku hanya tinggal bersama ayah, di gubuk kecil yang reyot. Aku dari keluarga yang miskin.
Saat itu langit sangat indah, banyak bintang yang bersinar. Burung-burung bernyanyi sembari menari. Aku bernyanyi dan menggambar di buku pemberian ayah. Di situ aku menggambar bunda dan ayah yang tengah bermain bersamaku. Sambil kutulis I Love Family. Setiap malam aku memohon sembari menatap langit.
“Ya Allah tolong beri aku kesempatan untuk memeluk bunda, aku ingin tidur bersama bunda dan ayah. Makan, jalan jalan, atau pun bermain. Tolong dengar doaku ya Allah,’’ Kata Nur dengan mengelap air matanya.
Ayah tengah melihat apa yang tengah dilakukan anak semata wayang nya itu. Ia yang mendengarnya pun ikut meneteskan matanya. Agar kesedihan itu tak berkelanjutan. Dia pun memanggil anak nya agar makan bersama.
’’Nak sudahi menggambar nya, ayo makan dulu “ panggil ayah sambal menuangkan air minum ke gelas. “Iya yah, Nur segera ke sana,” kata nur sambal menutup buku gambar nya lalu bergegas untuk makan.
’’Hmmmm…. Enak sekali yah. Ayo yah berdoa,” kata Nur sambil mendekatkan tangannya seperti berdoa.
’’Bismillahirrahmanirrahim allahumma barik lana fi ma razaqtana waqina `adhaban-nar amin. Ayo makan ayah,” kata Nur.
“Iya nak, maaf Nak, Ayah hanya bisa memberi makanan nasi dan garam saja”.
’’Tidak opa apo yah, ino saju sudih enak” kata Nur yang mulutnya penuh makanan.
Makan telah selesai Nur membantu ayah mencuci piring dan gelas di belakang rumahnya. Ia sangat senang setelah makan. Nur bernyanyi sambil mencuci piring. Ia mendengar ada suara di balik semak-semak. Sesuatu meloncat dari semak-semak itu, ternyata kucing berbulu putih yang ada disana. Nur segera menaruh Kembali piring dan gelas itu lalu ia, menuju ke kamarnya untuk tidur.
“Satu… Dua… Tiga….” kata nur seketika ia tidur terlelap. Ayah yang tengah melihatnya tertawa kecil, lalu Kembali tidur dikamarnya.
Nyanyian nyamuk malam ini sukses membangunkanku dari tidur lelapku. Aku mencari ayah dan memeluknya agar diriku bisa tidur Kembali. Ayah yang merasakan pelukan hangat dariku membalas pelukanku sambil berkata ’’Tidurlah Kembali Nak,’’ kata-kata dari ayahku membuat aku seperti terbius. Aku Kembali tertidur dengan lelap.
Matahari kembali menampakan wujudnya sembari kicauan burung. Aku yang tengah tertidur, terbangun. Aku melihat di sebelahku tak ada ayah, aku mencari di belakang rumah tak ada. Akhirnya aku melihat ayah di teras. Ayah sedang menyiapkan barang untuk dijual. Aku melihat sangat terharu bagaimana kerja keras ayah selama ini dan mempunyai anak yang berkekurangan seperti ku.
“Pagi ayah,” kata Nur.
“ Pagi juga anak kesayangan ayah,” jawab Ayah.
“Ayah… Bolehkah aku membantu ayah menjual tisu-tisu itu?,’’ tanya Nur.
“Jangan Nak, ayah tak mau kamu kenapa–kenapa,” kata Ayah
“Tapi yah, aku juga ingin membantu ayah,” kata Nur.
“ Baiklah, tapi terus disamping ayah ya Nak,” tegas ayah.
“Siap Pak,” kata Nur sambil tertawa pelan.
Aku dan ayah berjalan menuju perkotaan. Kendaraan berlalu-lalang. Asap pabrik maupun kendaraan menutupi keindahaan kota itu. Aku sesekali batuk menghirup udara perkotaan. Ayah sedang menjual tisu kesana-kemari. Aku memberi minum ke ayah agar beristirahat sejenak.
Aku melihat ada segerombolan anak yang sedang bermain, aku berniat bermain bersama. Sepertinya suasana nya sangat seru. Ada berbagai macam permainan ada yang sedang bermain petak umpet dan ada juga yang sedang bermain lompat tali.
“Permisi bolehkah aku bermain bersama kalian,’’ tanya Nur.
Segerombolan anak yang sedang bermain lompat tali seketika menghentikan aktivitasnya. Mereka melihat Nur dengan wajah yang mengejek.
“Kau? Ingin main sama kita. Yang benar saja.Hahahaha,” kata salah satu dari mereka sambil mendorongku.
“Lucu banget sih. Si Kerdil ini mau main lompat tali sama kita, Emang kamu bisa lompat? Hahahahah…” kata salah satu dari mereka sambil menamparku.
“Ihhh kamu kok lucu banget kecil lagi. Haahahahha….” kata salah satu dari mereka.
Mereka terlihat senang mem-bully-ku. Aku meringis kesakitan. Tanganku terluka dan meneteskan darah yang segar. Sesekali aku berteriak ’’Berhenti”. Tapi tak ada yang menghiraukan ku, mereka tetap bersenang senang membullyku. Menendang memukulku dan menuangkan air di tubuhku. Sakit rasa, tubuh tidak terasa apapun saat ini.
Ayah melihatku dari kejauhan, ia takut aku kenapa-kenapa. Ayah berlari dengan tergesa-gesa untuk membantuku yang sedang dipukuli oleh mereka. “Berhenti “ sembari menggendongku. Ayah berkali-kali memohon maaf ke segerombolan anak yang sudah membully-ku. Padahal ayah tak salah apa-apa. Kenapa dunia ini tak adil.
“Ayah turunkan aku. Aku bisa berjalan sendiri,” kata Nur.
“ Iya Nak. Ayah ingin berjualan lagi ya Nak. Tolong tunggu disini saja,” kata Ay
“ Baik yah,’’ kata Nur.
Aku Kembali melihat ayah bekerja. Ia terus tersenyum, seperti tak terasa capek sama sekali. Aku selalu berdoa agar ayah diberi kelancaran dan Kesehatan untuk mencari uang. Sesekali ayah melihatku sambil tersenyum, agar aku t perlu terlalu khawatir. Ketika lampu lalu lintas Kembali merah ayah Kembali menjajakan tisunya. Ayah bersyukur Ketika ada yang membelinya.
Aku dari kejauhan melihat motor yang tengah mengebut menuju ayah. Lampu saat itu masih merah 3 detik lagi akan berubah berwarna hijau. Aku berlari menuju ayah dan mendorongnya agar ayah menyingkir dari situ. Takdir tak membiarkan ayah hidup. Kepala ayah terbentur keras trotoar. Badanku terbentur keras jalanan. Seketika badanku tak bisa digerakkan. Aku menangis kesakitan. Aku merasa ada darah segar di kepala ku, aku tak menghiraukannya aku berteriak ’’Ayah’’ karena aku takut jika yah terjadi apa apa. Aku merasa mataku sangat berat untuk di membuka mata. Aku menutup mata.
Cahaya putih berkilau. Aku melihat ayah yang mengenakan pakaian putih di sana. Seketika aku menangis dan bersujud syukur karen aku bisa bertemu dengan ayahku lagi. Aku juga melihat bayangan putih di belakang ayah. Bayangan putih itu seketika memudar, dan berganti sesosok wanita yang cantik. Aku melihatnya seketika tubuhku melemas aku menangis t karuan. Allah telah mengabulkan permohonan ku bunda ada dibelakang ayah.
’’Ayah Bunda aku kangen. Aku tidak mau berpisah dengan kalian lagi. Cukup di dunia saja kita berpisah di sini kita jangan berpisah ya yah bun?" kataku sambil tersenyum dikala menangis.
’’Iya Nak. Insyaallah kita di sini tak ada yang bisa memisahkan kita. Semoga Allah senantiasa melindungi dan selalu menyatukan kita,’’ kata ayah.
’’Amin yah,’’ kata Nur sambil memeluk ayah dan bunda dengan erat.
’’Hargai orang tua mu dengan membuat mereka bangga dan bahagia. Sejatinya hidup ini akan terasa hampa jika tak ada mereka di samping kalian”
*Kelahiran Mojokerto. Kini tengah sekolah di SMAN 3 Kota Mojokerto. Hobi membaca komik dan menggambar.
Editor : Fendy Hermansyah