Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Titik Nol

Imron Arlado • Minggu, 15 Oktober 2023 | 16:00 WIB

ilustrasi cerpen Titik Nol.
ilustrasi cerpen Titik Nol.
Oleh: Emilsky

SEMUA anak ingin membahagiakan orang tuanya, tapi menggapai mimpi tak semudah membalikkan telapak tangan.

Anasera Larasati, usianya 16 tahun, siswa SMAN 3 Kota Mojokerto. Ia pendiam dan ambisius. Impiannya untuk masuk jurusan kedokteran UNAIR belum membuahkan hasil. Ekonomi keluarganya belum stabil. Di rumah sederhana berukuran 6x9 meter persegi ia tinggal bersama ibu dan adiknya. Rumah peninggalan ayahnya. Ayah Ana meninggal tiga tahun yang lalu.

Ia meninggal lima hari setelah dinyatakan terjangkit Covid-19. Keluarga pasien diwajibkan isolasi mandiri dua minggu di rumah. Paman Ana mendampingi laki-laki itu selama masa karantina. Mereka melakukan panggilan video demi mengobati rasa rindu.

’’Ayah cepat sembuh. Aku dan kakak kangen,” ucap Fania.

’’Nanti kita ketemu secepatnya.”

            Percakapan berakhir, dua jam kemudian ponsel Ibu berdering.

’’Maaf, apa benar ini dengan keluarga bapak Tito?”

’’Benar, ini siapa ya?”                      

’’Kami dari pihak Rumah Sakit Citra Medika ingin mengabarkan bahwa bapak Tito telah meninggal dunia hari ini pukul 9 malam. Kami mohon maaf sebesar-besarnya bu, kami telah berusaha semaksimal mungkin.”

Deg! Ana dan Fania bangun, terkejut melihat ibunya  berlinang air mata. Keduanya berusaha menenangkan wanita itu.

’’Bu, ada apa?”                      

’’Ayah meninggal nak..”

Mereka bertiga larut dalam tangis

Upacara pemakaman hanya dihadiri paman dan beberapa saudara dekat. Ana dan keluarganya masih melakukan isolasi mandiri. Seminggu kemudian, Ana masih mengingat hari-hari ketika keluarganya menghabiskan waktu bersama. Keluarga cemara mereka kehilangan satu orang anggota.

            Hari silih berganti, mereka mulai mengikhlaskan kepergian laki-laki itu. Tak baik larut dalam kesedihan. Ibu terpaksa bekerja menggantikan peran suaminya.

            Tiga tahun kemudian, keadaan mulai membaik. Sekolah sudah didatangi murid. Pandemi kini mereda. Setiap hari Ana dan adiknya belajar. Mereka menghabiskan waktu masing-masing menyendiri di dalam kamar. Meja makan hampir selalu tidak pernah ditempati.

***                                                                  

Suatu hari anak-anak ekstrakurikuler seni menampilkan karyanya di pameran. Pandangan Ana tak bisa jauh dari lukisan, dalam benaknya muncul sebuah keinginan. Sesampainya di rumah ia bertanya pada ibunya.

’’Bu, boleh aku ikut ekstra seni lukis?”

’’Untuk apa? Bukannya kamu ingin jadi dokter?”

’’Hanya untuk mengasah keterampilanku dan sebagai hiburan, bu.”

’’Itu tidak penting, An. Setidaknya beri ibu satu piala emas.”

’’Sekali saja aku ingin melakukan apa yang kuinginkan.”

 Ibu diam. Keluar dari kamar.

Ia menghela napas.

Aku bosan belajar setiap hari

Ana sekolah seperti biasanya.

Ia siswi ambisius, selalu peringkat satu, kerap mencari perhatian guru. Di kelas Ana hanya bicara lebih banyak dengan Putri dan Luna. Setiap istirahat mereka bermain dan belajar di kantin atau perpustakaan.

“An, kenapa kamu jarang online WhatsApp?” tanya Putri, kecewa.

“Kamu seperti tidak kenal, Ana,” sahut Luna

“Padahal aku pengen video call ketika liburan,” ucap Putri

            “Maaf, Put, Lain kali ya,” jawab Ana, tertawa kikuk

            “An, ada lomba lukis Sabtu besok. Kamu mau ikut?” tanya Putri

            “Aku pikir-pikir dulu deh, sebenarnya aku udah ada rencana ikut olimpiade fisika minggu depan.” jawab Ana

Putri minta diajari soal struktur eksplanasi pada Ana, Luna menawarkan diri.

            Ketika hari pengambilan rapor, sebagian siswa merasa khawatir atas apa yang mereka lakukan selama satu semester. Wali murid berkumpul di aula mendengarkan sambutan kepala sekolah sebelum masuk ke dalam kelas anak mereka. Ibu Ana duduk menanti pengumuman hasil peringkat anaknya. Wali kelas menyebut nama-nama terbaik untuk semester ini:

Peringkat satu: Friska Aulia, 980 poin.

            Peringkat dua: Anasera Larasati, 974 poin.

            Peringkat ketiga: Mahardika Pratama, 967 poin.

            Seusai acara, ibu Ana segera berjalan keluar kelas dengan langkah cepat. Ia melewati Ana yang duduk di luar. Wajah ibunya kelihatan kesal, ia datang menghampiri.

“Ibu, bagaimana nilai-”

“Nilai jelek! Turun peringkat, memalukan.”

“Maaf Bu, usaha Ana kurang maksimal.”

            Ibu menghela napas panjang, berlalu begitu saja. Mereka pulang sendiri-sendiri.

Bodoh banget sih kamu, An.

Sesampainya di rumah Ana merasakan kesunyian perabot dan benda-benda. Ia melangkah ke dalam kamar, untuk belajar dan mengulas kembali hasil ujian. Setelah itu ia meraih kanvas, dihinggapi kejenuhan. Gadis itu mulai menuangkan cat ke dalam lembaran kain putih. Ibu tiba-tiba masuk kamar, Ana sontak menyembunyikan lukisan di balik punggung.

“Sedang apa kamu?! Benda apa itu di belakangmu.”

“Tidak ada, Bu.”

            Ibu segera merebut benda persegi di belakang Ana, sketsa pemandangan itu membuat tanduk di kepalanya tumbuh. Jemari kurusnya menyobek lukisan itu.  

“Pantas kamu kalah dengan, Friska!”

            “Aku suka melukis, Bu.”

            ’’Mau jadi apa kamu? Lebih baik kamu fokus beri Ibu piala emas.”

            Ia menundukkan kepala.

            ’’Mana?”

’’Aku sudah berusaha, Bu. Maaf Ana belum bisa beri satupun piala.”

Pipi Ana basah, melihat hal itu Ibu memutuskan keluar dan menutup pintu kamar.

Keesokan harinya Ana bangun dengan mata sembab. Ia bersiap-siap untuk pergi menemui Luna dan Putri. Suasana pagi yang sunyi membuat dadanya nyeri. Ia menitipkan pesan pada adiknya kalau mau mengulas materi ujian. Gadis itu tersenyum mendengar perkataan Ana.

 

***

Sabtu, Ana pergi setelah ibunya berangkat kerja. Ia membawa tas berisi alat lukis, bergegas menuju lokasi acara. Butuh waktu dua jam sebelum lukisan selesai, Ana merasa lega karena bisa menyalurkan keinginannya. Meski ia agak merasa pesimis dengan hasilnya. 

            Nggak apa-apa, kamu sudah usaha!

Olimpiade fisika kini sudah di depan mata. Semalam Ana merelakan waktu tidurnya hanya untuk belajar. Hari-H ia terlihat kelelahan meski mengerjakan soal dengan lancar. Pengumuman lomba masih lama. Ana memilih mengerjakan hal lain, pekerjaan menunggu teramat melelahkan.

10.00

Ana mengecek akun media sosial milik penyelenggara lomba. Membuka postingan berisi pengumuman hasil lomba. Senyumnya tergambar jelas, usahanya kini membuahkan hasil. Namanya ada dalam daftar pemenang. Ana diminta mengambil piala juara 2 lukis dan juara 1 olimpiade fisika di tempat lomba. Sambil menenteng piala di kedua tangan, ia berjalan menuju parkiran. HP-nya bergetar di saku celana. Ia segera menjawab panggilan itu. Panggilan dari rumah sakit. Setibanya di kamar pasien, air matanya tumpah. 

 “Ibu harus melihat Ana menjadi dokter. Ibu kuat ya?”

            “Maafin Ibu.” 

“Ibu tidak salah.”

“Ibu yakin kamu akan berhasil.”

Tit, bunyi mesin pendeteksi detak jantung, garis lurus muncul di layar monitor. Tangisan Ana dan Fania seketika pecah, menyesal tidak pernah menyadari ibu mereka sakit. Kini keluarga cemara itu berkurang satu anggota lagi. Selesai pemakaman, Ana masih belum bisa mengikhlaskan kepergian ibunya. Setibanya di rumah ia menemukan sepucuk surat.

 

Teruntuk Anaseraku,

Seperti namamu “Anasera” yang berarti hadiah kecil dari Tuhan

Ibu bahagia dan bersyukur banget bisa punya anak seperti Ana.

Sejak kecil selalu menurut, tenang, dan tidak pernah tantrum.

Sepucuk surat ini mungkin Ana baca waktu Ibu telah meninggal,

Maaf Ibu merahasiakan penyakit ini, Ibu tahu Ana bakal cemas

Ibu memang tidak bersama Ana tapi Ibu selalu hati Ana.

Ibu titip Fania. Maaf tidak bisa menemani kalian sampai dewasa.

 

Ibu sayang kalian.

 

 

Emilsky Maulina Praba

Kelahiran Mojokerto, kini tengah bersekolah di SMAN 3 Kota Mojokerto. Hobi membaca buku dan mendengar musik

Editor : Fendy Hermansyah
#radar #titik nol #mojokerto #cerpen