DAWARBLANDONG, Jawa Pos Radar Mojokerto – Saat ditanya cita-cita, sejumlah anak kerap berkeinginan menjadi polisi, tentara, dokter hingga pilot.
Namun, di ujung utara Kabupaten Mojokerto, terdapat seorang bocah yang dengan tegas berkeinginan menjadi seorang dalang.
Adalah Pasya Raskha Syailendra, bocah laki-laki 10 tahun yang akrab dipanggil Sarijo ini berlatih wayang setiap hari di rumahnya di Dusun Talunsudo, Desa Gunungan, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto.
’’Saya belum bisa suluk. Suaraku masih kecil,’’ kata nya sambil tertawa. Suluk merupakan lantunan syair Jawa yang dibawakan dalang saat pentas.
Didik Sasmito Aji, 43 sang ayah menuturkan, ia tak membentuk anaknya untuk mengikuti jejaknya sebagai dalang. Layaknya anak kecil lainnya, Sarijo juga bermain game, layang-layang dan bermain dengan teman-teman sebayanya.
Ketertarikan Sarijo pada wayang kulit terjadi pada tiga bulan terakhir. Setelah ia melihat pertunjukan wayang di Taman Budaya Surabaya. Esok paginya, ia mencoba bermain wayang.
Satu fragmen perang ia mainkan di tembok rumah, tanpa layar, tanpa kendang. ’’Alhasil empat buah wayang kulit milik saya rusak berantakan. Tapi nggak apa-apa. Namanya juga belajar yang penting semangat, saya senang sekali ia mulai menyukai wayang,’’kata Didik.
Sarijo mulai nyantrik (berguru) ke beberapa dalang, termasuk pada ayahnya sendiri. Ia duduk persis di belakang dalang dan menyiapkan apapun yang dibutuhkan dalang untuk menyajikan cerita. (fan/ron)
Editor : Fendy Hermansyah