Harum semerbak bunga rampai secara perlahan ia mengingatkanku pada mendiang Ayah. Mengembalikan lamunan-lamunanku pada saat usia labil remaja. Ayahku adalah pemilik semua tanaman yang ada di halaman itu. Di halaman yang penuh dengan mawar, melati, kembang sepatu, jepun, seruni, bugenvil. Juga kenangan yang tak pernah hilang ketika aromanya berdatangan dengan suara terompah Ayah selepas ke surau.
***
BIASANYA, ketika masuk halaman. Membuka gerbang besi yang berderit-derit, di bagian engselnya mulai berkarat. Ayah tak langsung membuka pintu rumah. Ayah lebih memilih duduk di atas kursi mahoni yang ada di teras-dengan bunga-bunga kesayangannya. Ayah menjenguk kembang-kembang itu, sebelum Ayah bertemu kami bertiga.
Sebelum Ayah pergi ke surau, menunaikan kewajiban asarnya. Ayah pasti menghampiri beberapa tanamannya. Terkadang, aku melihat Ayah dari balik jendela ruang tamu, dengan senyum tipis-seperti melihat seorang malaikat yang diutus untuk menjaga tanaman. Ketika Ayah mengetahui bahwa aku sedang mengendap-endap di jendela. Ayah selalu menyuruhku masuk, menyalakan air, lalu mengambil selang. Kata Ayah, sore adalah waktu yang baik untuk menyiram tanaman-tanamannya.
Setelah itu, aku pasti yakin. Ayah akan mengajakku pergi bersama-sama ke surau yang berada tujuh rumah dari kanan.
Setelah maghrib, Ayah selalu memintaku mengaji. Kebetulan tata letak ruangan kamarku, tempat mengaji sekaligus tidur itu berdampingan dengan halaman rumah. Tempat tanaman-tanaman kesayangan Ayah diletakkan. Ayah selalu membuka jendela kamarku ketika aku mengaji. Aku selalu bertanya.
’’Mengapa Ayah membuka jendela?’’
Ayah duduk di sampingku. Memegang pundakku, menghadapkan wajah cerahnya kepadaku. ’’Jika kau tahu mengenai khasiat yang ada ketika kau mengaji, kau tak akan bisa menyebutkannya satu-satu, karena Al-Qur’an tak sekedar obat untuk jiwa manusia, melainkan semua makhluk, tak lain untuk tanaman itu sendiri.’’
Aku diam, Ayah keluar dari kamarku.
Dan setelah perjalanan umurku yang cukup panjang. Apa kata Ayah benar. Ternyata, dalam segi pertumbuhan tanaman. Tanaman yang sering mendengar suara orang mengaji, ia lebih cenderung berbatang sedikit besar. Paling tidak selisih satu senti. Dan jika kalian mengamatinya lebih mendalam, ia lebih subur ketimbang tanaman lainnya.
Gelar pasca sarjanaku itu, kudapatkan dari beberapa pengalamanku bersama Ayah.
**
Tiada rumah yang tak merindukan seorang ibu,yang murah berkah, bahkan jika ibu tinggal ada di bingkai foto yang mulai kusam.
Begitu kata seorang penyair besar di dalam puisinya bertajuk tiada. Bahkan ketika rumah tak ada lagi seorang Ayah juga, kurasa hal demikian sama saja.
Pernah sekali, Ayah pulang larut malam dari biasanya. Kami bertiga khawatir, hujan turun cukup deras. Ayah tak kunjung pulang. Hingga abangku seorang diri memberanikan mencari Ayah. Tapi, ia kembali tidak membawa kabar apa-apa.
Setelah berjam-jam kami menunggu, tiba-tiba Ayah datang. Kami bertiga mendengar suara motor tuanya. Pakaiannya basah kuyup. Ayah bilang, jas hujannya tertinggal di rumah. Kami mencoba menginterogasi Ayah.
’’Ayah dari mana?’’ tanya ibu.
’’Tidak apa, tenang.’’ Ayah berjalan lalu mengecup kening ibu.
’’Iya, Ayah dari mana saja?’’ tanya ibu kedua kalinya, dengan nada mendesak.
Ayah berjalan menatap ibu, tersenyum lalu meyakinkannya. ’’Tadi, di jalan satu arah dekat rumah pak Ari, ada pohon beringin tumbang, apa salahnya Ayah berhenti lalu membantu warga, itu pohon dari Ayah masih kecil, Ayah sering bergelantungan di rambut pohonnya, sayang, dia tumbang ketika hujan angin, untung tidak ada korban.’’ Ayah berjalan memasuki kamarnya.
’’Lalu Ayah kenapa melewati jalan itu? Bukankah jalan itu sangat gelap, diapit dua hutan?’’ Ibu semakin naik pitam. Ibu bertanya di depan pintu kamar Ayah.
Ayah mendekatkan dirinya kepada ibu, memeluknya. ’’Iya tahu, hanya ingin memastikan apa hutan itu masih hijau lebat seperti dulu.’’ Sekali lagi Ayah mengecup kening ibu di malam yang penuh kekhawatiran itu.
Selain Ayah adalah pemilik tanaman dan halaman itu, Ayah merupakan sosok yang tak dapat dilihat dari perawakannya. Ayah selalu berkata perihal sesuatu yang dapat meyakinkan dan menenangkan kami.
**
Sebelum Ayah berpindah taman, setiap minggu pagi. Ayah pergi seorang diri keluar rumah. Ayah bilang, Ayah ingin menunaikan ibadah bercocok tanam. Mencari lahan hijau yang mulai gersang. Aku tak pernah diizinkan oleh Ayah untuk ikut. Kata Ayah, anak perempuan lebih baik di rumah. Hanya sekali aku pernah diperbolehkan oleh Ayah untuk pergi bersamanya. Ayah tak sekedar memiliki halaman dengan luas petak limabelas meter, ayah pemilik lahan jati berhektar-hektar.
Pada sebuah gubuk tua yang termakan usia. Ayah memasukinya, aku berada di belakang Ayah. Di tempat itu tersimpan berbagai jenis bibit tanaman. Ayah mengambil dua puluh bibit pohon jati. Aku membawa empat. Dan jika kutanyakan bagaimana bisa Ayah menanam pohon sebanyak ini? Ayah selalu bercakap.
’’Pohon ini Ayah rawat dari dua puluh lima tahun yang lalu,’’ tutur Ayah setiap kali aku menanyakan perihal dari mana semua tanamannya. Entah kenapa, Ayah selalu berkata demikian. Walaupun tahun semakin berjalan, Ayah tetap tegar dengan pendiriannya akan tanaman yang Ayah tanam dua puluh lima tahun yang lalu.
Setelah itu, Ayah menata dua puluh bibit itu pada keranjang rotan yang Ayah bawa. Mengikatnya kuat-kuat pada bagian kanan dan kiri jok sepeda. Lalu Ayah memboncengkan aku di atas keranjang itu. Banyak sekali percakapan di atas motor Ayah.
’’Ayah.’’
’’Ya.’’
’’Kenapa Ayah suka tumbuhan?’’
’’Tak apa.’’
’’Apa tidak ada alasan lain selain tidak apa-apa?’’
’’Bukan masalah suka atau tidaknya kita pada tumbuhan, tetapi tumbuhan harus tetap andil selama manusia masih menghuni bumi,’’ kata Ayah.
Aku mengangguk berkali-kali, aku selalu diam setiap kali Ayah bertutur.
Ayah menghentikan motornya. Sepertinya, Ayah melihat sesuatu yang harus Ayah benahi. Diambilnya beberapa bibit dari keranjang dengan sekop yang bergelantungan di celana Ayah. Ayah mulai menanam, aku mengamatinya perlahan.
’’Ayah.’’
’’Ya.’’
’’Apa tidak ada alasan lain lagi, kenapa kita harus merawat tumbuhan itu, selain karena manusia masih berpijak pada bumi?’’
’’Tentu.’’
’’Apa?’’
’’Tumbuhan itu makhluk hidup, tumbuhan juga mendoakan manusia, bagaimana tidak jika tumbuhan mati, bukankah kita juga butuh doa?’’
’’Berarti, Ayah menanam agar Ayah mendapatkan doa dari tumbuhan itu?’’
’’Bukan seperti itu, banyak alasan mengapa kita harus merawat tumbuhan, apa mau rumah hanyut diterjang banjir? Hanya karena tidak ada tumbuhan, apa mau kita kepanasan? Hanya karena tidak ada tumbuhan.’’
Aku hanya menggeleng. ’’Apa sepenting itu tumbuhan?’’
’’Ya.’’ Ayah melanjutkan beribadah dengan tanaman-tanaman itu.
**
Kurasa, terlalu banyak percakapanku dengan Ayah mengenai tumbuhan yang menjadi kesukaannya.
’’Ayah.’’
’’Ya.’’
’’Apa tumbuhan bisa hilang begitu saja dari rumah kita, desa kita, atau bahkan menghilang dari tempat kita berteduh?’’
’’Ayah rasa sangat sulit.’’
’’Kenapa?’’
’’Entah, tapi setidaknya masih ada rumput liar yang memenuhi pekarangan rumah.’’
Itu adalah percakapan terakhirku dengan Ayah perihal tanaman. Sebelum ibu memberikan sepotong kertas pada hari ke sepuluh setelah Ayah ditanam.
’’Kelak anakku tak sekedar batang tegar dan daun rindang pohon beringin, juga airnya yang dapat menenangkan, mengobati segala keresahan manusia, tak lain tetes airnya dari surga.’’
***
Harum semerbak bunga rampai itu semakin mendekat. Aku mendengar suara terompah Ayah. Aku yakin, ia menghampiriku, duduk, lalu mendengarkanku mengaji.
Aku ingin mencabut satu kenangan dari bunga melati milik Ayah. Yang kutanam di samping tempat Ayah dimakamkan. Meletakkannya di atas nisan. Lalu meneteskan air mata. Karena tak lain, Ayah adalah bunga yang sedang mekar-mekarnya lalu dicabut dan dipindahkan oleh tuhan kepada taman lain dari halaman itu[1].
April, 2021
*Pegiat literasi yang bermukim di Jombang. Bisa dihubungi di faishal.abiyyu15@gmail.com
[1]Kata-kata ini didapat dari seorang teman saya ketika ayahnya sedang berpulang
Editor : Fendy Hermansyah