Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Gubuk

Fendy Hermansyah • Minggu, 9 April 2023 | 15:32 WIB
Ilustrasi cerpen gubuk. (dok JPRM)
Ilustrasi cerpen gubuk. (dok JPRM)
Oleh : Gunung Mahendra*

’’Bagaimana bisa kau hidup dalam keadaan seperti ini?” tanya Lasat. Kesulitan menyembunyikan ketercengangannya terhadap ruangan dia berdiri sejak setengah jam yang lalu. Sebuah gubuk berdinding anyaman bambu. Menancap seorang diri di tengah belantara hutan yang tinggal menyisakan pepohonan yang sudah pelontos. Hanya butuh dua puluh langkah saja untuk bisa menjangkau seluruh gubuk itu.

Lawan bicara Lasat, yang menjadi pemilik gubuk itu, adalah seorang kakek berdaging tipis dengan punggung semelengkung sabit. Dengan suara lirih yang nyaris butuh ketajaman telinga agar bisa menangkap serangkaian kalimat dari bibir kering keriputnya. Tepat di tengah-tengahnya, di bawah genteng yang setengah mengelupas, duduklah ia sambil mengurut tasbih di tangan kanannya.

’’Semua berproses, Anak Muda,’’ katanya.
’’Tidakkah Anda takut mati bosan dengan semua ini?’’
’’Tidak,’’ jawab kakek itu lagi. ’’Kalau kau tahu kuncinya.’’
’’Lantas apa yang Anda lakukan setiap harinya?’’
’’Sebagaimana yang bisa kau dengarkan, dan rasakan.’’

Kakek itu mengatakan yang sebenarnya. Oleh karena ruangan itu seutuhnya dibebat oleh gelap. Pandangan mereka pun terbatas. Selain karena di luar matahari enggan menampilkan diri, langit juga suram. Seperti ada yang iseng menumpahkan tinta hitam di atas sana. Tidak ada cukup cahaya yang bisa menjelaskan kontur wajah kakek itu, bahkan wajah Lasat sendiri.

’’Apakah ada orang yang mengetahui tempat ini, selain aku?’’

’’Adalah keajaiban bila ada yang bisa sampai di sini dengan keadaan seganas di luar,’’ kata kakek itu. Kemudian dia menceritakan bahwa dia sudah berada di gubuk itu sejak beberapa tahun yang lalu. Sebelum prahara ini mengambil alih. Ketika istrinya masih mau berjuang bersamanya sebelum akhirnya mendepaknya hanya karena tidak ada harta nyata yang bisa mereka dulang. Maklum, menjadi penulis amatiran adalah pekerjaan utama kakek itu.

’’Kalau pun ada, mereka tidak akan tiba dalam keadaan utuh. Dingin di luar akan membekap mereka terlebih dahulu sebelum sampai ke sini.’’
’’Itu artinya aku hebat dalam hal ini, atau beruntung?’’
Suara kakek itu tidak terdengar lagi. Seolah ditelan oleh udara dingin yang sesekali menyelinap masuk melalui celah-celah dinding anyaman bambu.
’’Sedingin ini,’’ kata Lasat. Napasnya menggelontorkan asap. ’’Kau merasa biasa saja?’’ Mulai mengusap-usap kedua telapak tangannya berulang-ulang kali. Gemuruh menyeruak dari ulu hati Lasat. Tenggorokannya terasa begitu gersang.
Di seberang, kakek itu seolah-olah tidak peduli. Tetap menjaga hening.
’’Dalam keadaan seperti ini,’’ kata Lasat mengubah pertanyaannya. ’’Bagaimana bisa kau bertahan hidup?’’ Kepala Lasat menoleh ke kanan dan ke kiri, mengedarkan pandangan. ’’Aku berani bertaruh tidak ada makanan dan air di sini!’’
’’Ini semua memang sulit, Anak Muda. Asalkan kau tahu kuncinya.’’
’’Di sini sungguh tidak ada makanan atau air?’’
’’Kau berharap di tempat yang salah, Anak Muda.’’

Kalimat itu sepenuhnya tepat. Kesempatan itu Lasat lewatkan. Dua kali bahkan. Sebagai konsekuensinya dia harus mendulang kecewa. Kebutuhan dasarnya itu makin menyempurnakan kesulitannya melawan udara yang kian merongrong tubuhnya. ’’Sebetulnya aku bukan orang yang mudah berterus terang, Kek, tetapi sudah tiga hari ini perutku hanya terisi oleh ’’salju hitam’’ dan angin-angin itu.’’

’’Itu justru bagus. Indikasi yang sempurna. Bahwa kau berhasil.’’
’’Berhasil, apa maksud Anda?’’
’’Kau sudah menjumpai dua kediaman itu, kan?’’
’’Ya. Dan?’’
Kakek itu mendecakkan lidah. ’’Kau lolos ujian.’’

Dalam perjalanan menuju ke gubuk ini, Lasat tidak hanya melewati, melainkan juga singgah. Kediaman pertama yang berupa bangunan seluas lima kali lipat dari lapangan sepak bola profesional, sering disebut oleh orang-orang sebagai wisma. Dari jarak tiga kilometer, meliputi seluruh bangunannya, terpancar cahaya yang melingkar.

Satu-satunya bangunan yang menjulang kukuh di antara atap-atap rumah yang tertanam ’’salju hitam’’, pertokoan, bangunan lain, becak-becak terjungkir yang tenggelam, sepeda motor yang tertancap, barisan mobil-mobil yang terbenam.
Pusat perbelanjaan, area perkantoran, wilayah bisnis menjamur di sana. Saling coblos, todong-menodong menjelma dongeng. Murung tertukar bungah. Melahap habis segala bentuk jerit ketakutan. Setelan jas, sepatu pantofel, blues dan rok selutut adalah pakaian resminya. Hampir di setiap sudut tersedia ruang-ruang khusus untuk bertukar peluh. Puluhan ribu orang di sana benar-benar tahu bagaimana cara menikmatinya. Bagai melulusi baju sempit.

Rumah kedua disebut sebagai griya. Ribuan orang menggantungkan hidup di sana. Pondasinya mengakar di atas rimbunan salju pekat. Kata Lasat, jaraknya adalah sehari perjalanan dari wisma.

Jika wisma didominasi oleh orang-orang muda yang enerjik dan homogen, griya menaungi populasi yang heterogen. Anak-anak, tua, muda, sakit, cacat, berbagai profesi semuanya diterima dengan baik dan menjalani kehidupan dengan damai.
Warung dan toko kelontong menawarkan kebutuhan sehari-hari. Beras, minyak goreng, gula, mi instan, sayur-sayuran, buah-buahan, daging ayam, kambing, sapi, teh, kopi, susu, semuanya tersedia dalam jumlah besar.

Jadwal pembagian tersistematis. Rapi. Mampu mereduksi gejolak-gejolak buas. Tidak ada satu pun perut yang meronta-ronta, kecuali kemudian terpampat buncit. Anak-anak sibuk melompat-lompat. Berteriak riang. Bermain petak umpet, gobak sodor, bermain permainan benteng, lempar tangkap. Suara tawa taat mengapung di udara.

’’Apa Anda pernah ke sana? Ke kediaman itu maksudku. Keduanya.’’
’’Tidak.’’
’’Tidakkah tebersit Anda ingin berada di sana?’’
’’Tidak.’’
’’Sedikit pun?’’
’’Tidak. Bagiku ini semua sudah cukup.’’
’’Anda rela menukar semua kemewahan, kenyamanan, kenikmatan, dan segala macam bentuk kebutuhan hidup di sana dengan memilih tinggal di gubuk reot ini? Gubuk yang sewaktu-waktu bisa saja justru membunuh Anda karena tertiup angin itu?’’
Bukannya menjawab, kakek itu malah berkata, ’’Ceritakan padaku bagaimana bisa kau lolos dari dua kediaman itu.’’
Lasat terdiam sejenak. Mengerti. Lalu dia berkata, ’’Anda bisa menebaknya.’’
’’Aku ingin mendengarnya darimu.’’
Napas berat terhela dari mulut Lasat. ’’Pada intinya, salah seorang pimpinan wisma menawarkan berbagai macam keuntungan jika aku memilih berada di sana. Menetap, maksudku.’’
’’Contohnya?’’
’’Dia menjanjikan akan memberikan semua yang aku butuhkan dan inginkan.’’
Angin makin getol ingin meremukkan tulang. Mengelupaskan atap-atap rumah, menumbangkan pepohonan, menerbangkan sampah-sampah. Dengan begitu patuhnya menghantam siapa pun dan apa pun yang berdiri menantang.
’’Bagaimana dengan griya?’’
’’Nyaris sama.’’
Kakek itu menggosok-gosok dagunya. ’’Ketahuilah. Bahwa kedua kediaman itu dikelola oleh orang yang sama. Sudah selayaknya kau berhati-hati, Anak Muda.’’
’’Orang yang sama?’’

Kakek itu kemudian menceritakan bahwa kedua kediaman itu berada di bawah kepemilikan seseorang yang akrab disebut sebagai jenderal. Sosok itu konon katanya berambut panjang lurus sebahu. Bercambang. Kedua matanya menyorot tajam. Nada suaranya terdengar mencengkeram. Begitu ulung dalam menghasut. Tidak ada seorang pun yang bertemu dengannya, kecuali bisa tertunduk patuh.

Lidahnya menyimpan rayuan yang begitu kental dan tajam.

’’Dua kali dalam satu minggu, dia terjun langsung ke kedua kediaman itu,’’ kata kakek itu. ’’Memastikan semua berjalan sesuai dengan keinginannya. Haram baginya jika ada yang kelaparan, kehausan, menderita, atau bahkan ketakutan. Semua harus-berdasarkan penilaiannya-bahagia dan gembira. Bagaimana pun cara memperoleh, melakukan, atau bahkan menikmatinya.’’

Kakek itu berhenti sejenak. Beringsut. Mencari posisi terbaik untuk mendaratkan pantatnya. ’’Apabila semua berjalan lancar dia akan melakukan perjalanan bersama dengan para ajudannya memburu orang-orang terlantar lainnya.’’
’’Itu artinya, dia orang yang baik.’’
’’Itu artinya kau belum cukup mengenalnya.’’

Lasat menarik napas dalam-dalam. Kedua kakinya kian gemetar. Hawa dingin itu merambati kedua kakinya. Merayap ke punggung dan tengkuknya. Lasat kemudian ingat bahwa kedua kediaman itu sama-sama menawarkan berbagai jenis dan bentuk jaket tebal dan pakaian hangat. Siapa pun, kapan pun, berapa pun boleh memilikinya. Tanpa batasan. Sungguh, Lasat mulai berandai-andai bahwa dia sempat mengutil salah satunya. Udara sekarang terasa semakin mencekam.

’’Jika terjadi sesuatu,’’ suara kakek itu berubah mantap. Tidak selirih awalnya. ’’Maafkan aku, Anak Muda. Aku tidak bisa berbuat banyak.’’
’’Me, mengapa Anda tiba-tiba berkata seperti itu?’’ Butir peluh mulai berjejalan di dahi dan pelipis Lasat. Satu-dua meleleh dan bertumpuk di dagunya.
’’Aku tahu kau berbohong.’’
Ludah lekas tergelincir di balik leher Lasat. ’’Berbohong? Apa maksudnya?’’
Hanya terdengar suara helaan napas panjang dan dalam. Angin terus mengintai.
’’Kakek. Tolong. Jelaskan kepadaku!’’
’’Seharusnya kau sudah mengetahuinya.’’
Jantung Lasat menendang-nendang seolah ingin mendobrak dadanya.
’’Kau menyembunyikan sesuatu dariku.’’
Wajah Lasat berubah masam. ’’Ti-tidak....’’

Lasat tidak pernah berkesempatan menuntaskan kalimat sanggahannya. Tepat di ujung kata terakhirnya, terdengar suara ketukan pintu. Terdengar sopan pada awalnya. Ketukan yang nyaring dan berjeda satu-dua helaan napas tenang.

’’Dia menuju kemari.’’
’’Dia? Dia siapa?’’
’’Berhenti berpura-pura,’’ kata si kakek pendek saja.
’’Mung, mungkin itu hanya penyintas. Ya, kan? Bisa jadi!’’
’’Semestinya,’’ kakek itu menegakkan kedua lututnya. ’’Kau belajar mendengar.’’
’’Ah! Itu jelas penyintas! Bisa saja seseorang berhasil sejauh ini. Tidak menutup kemungkinan! Aku yakin itu!’’
’’Kau sama sekali tidak mengerti,’’ kata kakek memamah sabar.
’’Mari kita buktikan!’’
’’Jauhi pintu itu.’’
’’Kita akan selamat, tetapi tidak dengan mereka!’’
’’Lebih baik biarkan pintu itu tertutup.’’

’’Coba hentikan aku!’’ Lasat berjalan memburu menuju pintu yang hanya butuh satu tiupan angin kencang sudah jebol. Ketukan berubah menjadi gebrakan buru-buru. Setibanya di depan pintu, Lasat berkata, ’’Kita lihat siapa yang benar!’’ Kalimat itu keluar dari bibirnya sarat akan guncangan.

’’Aku tidak akan membuka pintu itu. Jika aku jadi kau, Lasat!’’

Jeda antara satu ketukan dengan ketukan berikutnya menjadi lebih singkat. Suaranya terdengar semakin mantap. Seolah-olah ingin menegaskan bahwa seseorang di balik sana benar-benar membutuhkan bantuan. Lasat sudah menggamit daun pintu. Bersiap menarik. Sedikit tenaga saja dia sudah bisa membuka pintu seutuhnya.

’’KITA BERTARUH NYAWA DI SINI!’’ Urat-urat di leher Lasat menguat.
’’Urusan nyawa bisa ditawar!’’ sengit kakek itu membalas tanpa kegagalan dalam menjaga suaranya tetap tenang.
Suara ketukan kian menjadi-jadi. Pendek-pendek. Kencang. Memuncak gigih.
’’Ikuti perintahku,’’ jawab kakek itu lebih tangguh lagi. ’’Kalau kau ingin selamat!’’

Seolah-olah kalimat terakhir kakek itu tidak pernah menerobos rongga telinga Lasat, dia dengan kepercayaan dirinya-atau lebih pada keangkuhannya-menarik daun pintu kuat-kuat. Nyaris merobohkannya dan membiarkan serombongan angin pembunuh yang menggendong ’’salju hitam’’ itu menghantam. Lasat jatuh terjengkang. Kedua matanya terbelalak. Mulutnya menganga.

Jantungnya lengser.

Terlambat. Dia sudah berdiri di depan pintu. Dalam hitungan waktu kurang dari enam puluh detik, Lasat tak berdaya merelakan perhatiannya terampas oleh kedua mata lelaki itu. Sebelum tatapan mata bodohnya dibeli seutuhnya oleh lelaki itu, Lasat menoleh, dan mendapati kakek itu sudah terbujur kaku tak berdaya.

’’Aku tahu apa yang sangat kau butuhkan-juga kau inginkan, tentunya,’’ kata lelaki itu. Nada bicaranya sebagaimana yang diceritakan oleh kakek itu. Sang jenderal. ’’Tapi sebelum itu kembalikan dahulu barang milik kami.’’
Dengan tangan gemetaran, Lasat meremas kuat-kuat saku celana kainnya. Di sana mendekam sebuah lembaran berisikan sepuluh bait yang bercerita tentang gaung.

* Guru bahasa Jerman dan penulis amatir yang baru menerbitkan 3 buah karya. Merayu Langit (2017) dan Ketika Asap-asap itu Memudar (2021) adalah dua kumcernya. Senja Terbakar di Langit Al-Aqsa (2018) adalah novel pertamanya. Penulis bisa dihubungi di IG @gunung_mhd
Editor : Fendy Hermansyah
#kabupaten mojokerto #Majapahit #Pemkot Mojokerto #Mojopahit #Pemkab Mojokerto #trawas #pacet #kerajaan majapahit #cerita pendek #cerpen jprm #Kota Mojokerto #mojokerto #soekarno #cerpen #trowulan #onde-onde