Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Tradisi Nyadran Sambut Ramadan, Warga di Kota Mojokerto Kirab Tumpeng Ageng

Fendy Hermansyah • Kamis, 9 Maret 2023 | 23:55 WIB
GUYUB: Warga Lingkungan Kemasan, Kelurahan Blooto, Kecamatan Prajurit Kulon mengarak Tumpeng Ageng menuju makam Mbah Jimat dalam tradisi nyadran, Kamis (9/3) pagi. (Gilang Rahmadhani for JPRM)
GUYUB: Warga Lingkungan Kemasan, Kelurahan Blooto, Kecamatan Prajurit Kulon mengarak Tumpeng Ageng menuju makam Mbah Jimat dalam tradisi nyadran, Kamis (9/3) pagi. (Gilang Rahmadhani for JPRM)
KOTA, Jawa Pos Radar Mojokerto – Lebih dari 30 pria bergantian mengangkat Kirab Tumpeng Ageng dari Jalan Raya Lingkungan Kemasan, Kelurahan Blooto, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto menuju pemakaman umum kelurahan setempat, Kamis (9/3) pagi.

Momentum ini merupakan bagian dari prosesi hangruwat dusun atau nyadran. Salah satu tradisi yang masih terpelihara dan rutin dihelat warga Lingkungan Kemasan, Kelurahan Blooto, di bulan ruwah atau menyambut bulan suci Ramadan.

Photo
Photo
GUYUB: Warga Lingkungan Kemasan, Kelurahan Blooto, Kecamatan Prajurit Kulon mengarak Tumpeng Ageng menuju makam Mbah Jimat dalam tradisi nyadran, Kamis (9/3) pagi.


Lurah Blooto Wahyudi menyatakan, bahwa tradisi nyadran ditujukan untuk mengirim doa kepada leluhur, terutama Mbah Jimat, leluhur Lingkungan Kemasan. ”Tujuannya, yang pertama adalah kirim doa kepada para leluhur yang sudah membuka Lingkungan Kemasan ini. Sehingga kami berkewajiban untuk kirim doa sebagai wujud rasa syukur kami,” tuturnya.

Ratusan warga, dari anak-anak hingga dewasa begitu antusias mengikuti kirab tumpeng setinggi kurang lebih 1,5 meter diiringi kesenian Reog Ponorogo, Barongan, serta pawai budaya. Wahyudi menjelaskan, bahwa tumpeng berisi nasi putih, lauk pauk, hingga serabi, ciri khas tradisi nyadran yang memiliki makna tersendiri.

Sedangkan sajian lauk ikan bandeng dan mujair diartikan sebagai bentuk kesederhanaan dan harapan, serta ketahanan masyarakat Lingkungan Kemasan dalam berbagai kondisi. Sekaligus sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rezeki yang berlimpah.

Photo
Photo
GUYUB: Warga Lingkungan Kemasan, Kelurahan Blooto, Kecamatan Prajurit Kulon mengarak Tumpeng Ageng menuju makam Mbah Jimat dalam tradisi nyadran, Kamis (9/3) pagi.


”Kita hanya menggunakan ikan loh (bandeng dan mujair), tidak ada ayam, sapi, atau kambing. Kalau serabi sendiri memang kue khas di nyadran ini. Filosofinya, serabi itu kan bunder (bulat) yang melambangkan kebulatan tekad dalam melaksanakan sesuatu, juga dimaksudkan agar guyub rukun ini tidak sampai terpecah belah,” terang Wahyudi.

Kerukunan dan suasana kekeluargaan begitu terlihat di pengujung acara diakhiri, dengan purak tumpeng di areal pemakaman Mbah Jimat. Warga lantas berbondong-bondong mengambil berbagai kudapan untuk dimakan bersama di rumah masing-masing maupun di lokasi. (fia ayu/ris) Editor : Fendy Hermansyah
#kabupaten mojokerto #blooto #Majapahit #kota onde-onde #trawas #pacet #kerajaan majapahit #Nyadran #Kota Mojokerto #soekarno #trowulan #onde-onde #tumpeng ageng #Arak-arakan