Termasuk ruwat dusun di Lingkungan Kemasan, Kelurahan Blooto, Kecamatan Prajurit Kulon yang akan digelar mulai hari ini hingga 9 Maret nanti. Tidak sekedar nyadran atau mendoakan para leluhur lingkungan setempat, serangkaian ritual juga digelar warga setempat dengan dikemas semi modern. Termasuk dengan festival serabi yang bisa dinikmati seluruh warga dan masyarakat umum.
’’Festival serabi ini murni dari warga yang dikemas lebih kekinian oleh anak-anak muda,’’ tutur Titiek Juda Kusumawati, tokoh masyarakat setempat. Titiek mengakui, serabi tergolong kudapan jaman dahulu (jadul) yang mulai ditinggalkan penggemarnya seiring beragamnya junk food atau makanan instan.
Khususnya bagi generasi milenial yang kian dijejali budaya-budaya asing lewat piranti smartphone dalam genggamannya. Akan tetapi, tantangan tersebut justru menjadi pelecut warga setempat untuk terus melestarikan warisan budaya leluhurnya agar tidak punah. Dipilihnya festival serabi sebagai rangkaian ruwat tak lepas dari jajanan tradisional tersebut sebagai makanan khas warga Kemasan.
Di mana, terselip makna fisolofis dalam simbol-simbol jajanan yang dari tepung beras tersebut. Seperti bahan bakunya dari tepung beras yang dulunya berasal dari warga pertanian warga setempat. Lalu santan yang diserap dari kata santen dalam bahasa jawa kuno yang bermakna pangapunten atau permohonan maaf.
Pun demikian juga bulatnya serabi yang terbentuk alami tanpa diukur dari loyang tanah liat, dimaknai sebagai bulatnya tekat masyarakat setempat. Nah, semua simbol tersebut nantinya juga akan disajikan dalam berbagai varian toping sebagai bentuk inovasi. Yang mana, inovasi itu sekedar pemantik agar anak-anak muda tetap bisa menikmati kuliner warisan leluhur beserta nilai-nilainya.
’’Biasanya ditambahi toping salmon atau keju untuk penggugah selera makan anak-anak kecil. Atau bisa dibentuk serabi selong agar bentuknya lebih menarik. Itu sebagai kolaborasi tanpa meninggalkan makna dari serabi itu sendiri,’’ tambahnya.
Pun demikian dalam pengemasan acara ruwat, tidak dibentuk pure ala nyadran dengan mendoakan leluhur di punden atau makam pembabat desa lewat simbol tumpeng. Sebagai wujud rasa syukur terhadap Yang Maha Kuasa dan bersih diri dari segala malapetaka. Tapi bisa dikombinasikan dengan kirab dan festival agar bisa dirasakan masyarakat luas. Sehingga dalam tradisi tersebut, tercipta situasi sosial-kultur yang bermakna urap, urup, urip dalam bahasa jawa.
Yang diartikan orang hidup harus bisa egaliter atau bercampur dan menyatu dengan semua kalangan dan saling tukar pikiran atau sharing dengan sesama. ’’Alasan mengapa ruwat dikemas dalam bentuk festival, agar masyarakat umum juga bisa ikut merasakan tanpa ada perbedaan kasta atau strata jabatan atau ekonomi. Juga bisa dikembangkan sebagai wujud wisata budaya lokal,’’ terang Lurah Blooto, Wahyudi.
Tak hanya ruwat, tradisi lain juga diklaim Wahyudi masih terus dilestarikan masyarakat yang mendiami wilayah seluas 178,07 hektare tersebut. Salah satunya soyo (kerja bakti) yang menjunjung tinggi semangat gotong royong membantu warga dalam membangun tempat tinggal. Adapula keleman yang diwujudkan dengan memanjatkan doa saat padi di sawah mulai berbuah. Sehingga dijauhkan dari gangguan hama penyakit dan hasil panen nanti melimpah.
’’Karena Blooto ini dulunya adalah desa dan baru tahun 1980-an masuk wilayah kota. Jadi 40 persen lahannya berupa sawah padi yang masih dipertahankan,’’ pungkasnya. (far/fen)
Editor : Fendy Hermansyah