Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Sejarah Cikal Bakal Rolak Songo

Rizal Amrulloh • Jumat, 5 Juli 2024 | 13:55 WIB
TINGGAL KENANGAN: Stuwdam atau bendungan Lengkong yang dibangun pada era kolonial sebagai pengendali banjir dan membagi aliran air dari Sungai Brantas di Mojokerto.
TINGGAL KENANGAN: Stuwdam atau bendungan Lengkong yang dibangun pada era kolonial sebagai pengendali banjir dan membagi aliran air dari Sungai Brantas di Mojokerto.

 PADA pertengahan abad ke-19, pemerintah kolonial menginisiasi pembangunan megaproyek  yang dinamakan stuwdam Lengkong.

Dibutuhkan waktu hingga lima tahun untuk mewujudkan bendungan yang membagi aliran air dari Sungai Brantas tersebut.

Meski bangunan fisiknya kini sudah tiada, namun dam yang memiliki sembilan pintu air itu menjadi cikal bakal berdirinya bendungan Rolak Songo, di Desa Lengkong, Kecamatan Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto.

 SEJARAWAN Mojokerto Ayuhanafiq menuturkan, stuwdam atau bendungan Lengkong menjadi salah satu proyek mercusuar pada masa kolonial di Mojokerto.

Selain menelan anggaran yang cukup besar, proses pengerjaannya membutuhkan waktu yang lama. ”Pengerjaan stuwdam Lengkong dimulai dari tahun 1852 sampai dengan 1857," terangnya.

 Berkat pembangunan proyek prestisius tersebut, membuat wilayah Mojokerto terbebas dari daerah rawan banjir akibat luapan Sungai Brantas.

Sebab, proyek yang dibangun dengan sistem kerja rodi ini tak hanya menyentuh bendungan, tapi juga membuat tanggul yang membentengi wilayah Kota Mojokerto.

 Sehingga meski debit air sedang tinggi, aliran air sungai terpanjang di Jawa Timur (Jatim) tersebut bisa dikendalikan dengan sembilan pintu air.

”Dari dam Lengkong,  air bisa dialirkan menuju ke wilayah Sidoarjo,” ulas pria yang akrab disapa Yuhan ini.

 Tak hanya berfungsi sebagai penangkal banjir, dia menyebut pembangunan stuwdam Lengkong juga bertujuan untuk menyokong industri gula.

Karena di wilayah Sidoarjo terdapat puluhan ribu hektare sawah yang ditanami tebu. Proyek Belanda ini tergolong kokoh, karena mampu bertahan hingga lebih dari setengah abad. Namun, pada sekitar tahun 1923 stuwdam Lengkong sempat mengalami renovasi.

 Kemungkinan, lanjut Yuhan, sentuhan fisik kembali dilakukan untuk memperbaiki kerusakan akibat bencana alam.

Di waktu bersamaan, juga dilakukan proyek pembangunan kanal baru menuju ke wilayah utara Sungai Brantas. Di antaranya, pekerjaan syphon Watudakon di Desa Ngingasrembyong, Kecamatan Sooko.

Melalui proyek ini, Sungai Watudakon bisa dialirkan ke Pageruyung, Kecamatan Gedeg melalui bawah Sungai Brantas.

 Selain itu, proyek yang dinaungi sindikat pabrik gula ini juga membangun kanal Kedungsoro.

”Dari kanal ini air dari Sungai Brantas juga bisa dialirkan ke Sungai Marmoyo,” tandas dia.

Sayangnya, pasca proklamasi kemerdekaan, bangunan kolonial stuwdam Lengkong terpaksa dibongkar total akibat mengalami kerusakan berat. Selanjutnya, pemerintah RI kembali membangun bendungan baru atau kini dikenal dengan dam Rolak Songo. (ram/ris)

Editor : Hendra Junaedi
#stuwdam lengkong #mojokerto