Anggota Tim Ahli Cagar Budaya Jatim Edi Triharyantoro menjelaskan, keberadaan sumur membuktikan kesadaran sanitasi dan kebersihan menjadi perhatian masyarakat Majapahit.
Pada umumnya, berdasarkan temuan-temuan peneliti, sumur tersebut terbagi dalam dua bentuk. ’’Ada yang di permukiman dan ada di area candi,’’ terangnya.
Sumur di permukiman digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti memasak dan membersihkan diri. Sumur gali ini berbentuk bulat dengan kedalaman beberapa meter.
Dinding sumur menggunakan terakota yang disebut jobong berbentuk melingkar. Bentuk jobong saat ini dapat dilihat di Museum Pusat Informasi Majapahit (PIM), Trowulan.
Di sana, terdapat 30 jobong yang ditemukan di area Trowulan, Kutorejo, hingga Surabaya.
Selain untuk kebutuhan domestik, keberadaan sumur juga berfungsi untuk kebutuhan ibadah. Sumur di area candi ini berbentuk kotak.
’’Sumur untuk bersuci sebelum ibadah ini menggunakan bata kotak,’’ terang warga Jalan Raya Ijen, Kota Mojokerto, itu.
Pengetahuan tentang sumber air ini, katanya, berkaitan erat dengan kebutuhan pertanian saat itu.
Majapahit memang dikenal maju di dunia pertanian dan pengelolaan air melalui pembangunan kanal dan waduk. (adi/fen)
Editor : Fendy Hermansyah