Di abad ke 13-15 masehi, masa berdirinya Majapahit, pemakaian manik-manik masih sederhana. Aksesosi busana tersebut terbuat dari batu, terakota, dan kaca. Berbeda dengan saat ini yang sudah ada manik-manik kayu, plastik, hingga mutiara. Motif, warna, dan penggunan manik-manik kuno masih terbatas. Yakni dironce menjadi kalung dan gelang.
’’Untuk warna manik-manik (kuno) ini masih menyesuaikan bahannya. Dari temuan yang ada, yang berbahan kaca cenderung warna merah dan hijau. Ada yang berpola spiral, itu seperti digambar,’’ ungkap Kasub Unit Koleksi Pusat Informasi Majapahit (PIM) Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jatim Tommy Raditya D. Secara umum, bentuk manik-manik kuno tak jauh berbeda dengan saat ini.
Setiap butirnya, berbentuk melingkar dengan lubang di tengah. Ukurannya beragam, mulai dari berdiameter kurang dari 1 cm hingga sekitar 5 cm. Proses pembuatan manik-manik kuno berbahan kaca, kala itu tak jauh beda dengan saat ini. Masyarakat Majapahit memilah pasir kuarsa untuk dibakar dengan suhu sekitar 1.700 derajat celsius hingga menjadi kaca dan dibentuk manik-manik.
’’Jadi saat memang sudah ada perajin yang membuat manik-manik. Apakah manik-manik saat itu diproduksi masal, itu perlu dikaji lagi,’’ terangnya. Bagian tengah manik-manik dilubangi untuk merangkai setiap butirnya hingga menjadi kalung atau gelang. ’’Manik-manik batu ada yang pakai batu kecubung, kalsedon, onyx, dan jade. Tengahnya dipacak sampai lubang buat merangkai. Kalau dari terakota, bahannya ditempelkan ke kawat. Setelah kering tengahnya bolong,’’ tambah Tommy.
Sejauh ini, ada sekitar 30 butir lebih manik-manik kuno koleksi Museum Pengelolaan Informasi Majapahit (PIM) temuan periode tahun 1924-1980 di wilayah Trowulan. Artefak kuno tersebut ditemukan tercecer di sejumlah situs pemukiman maupun bangunan suci. Sehingga penggunaan manik-manik memiliki makna jamak. ’’Dari konteks sejarah dan lokasi temuan, fungsi manik-manik bukan hanya sebagai aksesosi. Melainkan juga sebagai media pemujaan di situs sakral itu,’’ beber Tommy.
Penggunaan aksesosi busana tersebut, lanjut Tommy, sekaligus sebagai penanda status sosial pemakainya. Terlebih, kala itu tidak semua kaum hawa memakai manik-manik sebagai perhiasan. ’’Waktu itu manik-manik jadi salah satu barang berharga. Tidak semua orang diketahui memakainya. Hanya orang (dari strata) tertentu saja,’’ terangnya.
Keunikan dan keindahan manik-manik sebagai pelengkap busana wanita membuatnya lestari hingga saat ini. Eksistensi manik-manik ini menandakan salah satu warisan budaya tersebut tak lekang oleh waktu. Meski turun temurun melampaui zaman yang berbeda. (vad/ron)
Editor : Fendy Hermansyah