Pabrik Yodium di Mojokerto Jadi Ajang Perebutan pada Masa Revolusi

Rizal Amrulloh • Dipublikasikan Kamis, 24 September 2026 | 07:25 WIB
SEJARAH KEFARMASIAN: Pabrik Yodium Watudakon, industri pengolahan tambang yodium yang dibangun sejak masa pemerintah kolonial Belanda pada 1926. (koleksi Ayuhanafiq)
SEJARAH KEFARMASIAN: Pabrik Yodium Watudakon, industri pengolahan tambang yodium yang dibangun sejak masa pemerintah kolonial Belanda pada 1926. (koleksi Ayuhanafiq)

Ketika Belanda Menembus Garis Status Quo Watudakon

Sebuah regu patroli Marinir Belanda bergerak dari Mojokerto menuju Watudakon pada 15 Mei 1947. Pergerakan pasukan ke sebuah desa yang masuk wilayah Kabupaten Jombang tersebut melewati garis status quo yang disepakati setelah Perjanjian Linggarjati. 

DI masa revolusi kemerdekaan, Watudakon berada di wilayah kekuasaan Republik Indonesia (RI). Sementara garis terdepan Belanda terletak di Ngingasrembyong, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto dengan pos pemeriksaan di sekitar Jembatan Pulorejo, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto. ”Dengan demikian, langkah serdadu Belanda itu melanggar garis status quo,” ungkap sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq. 

Dia menceritakan, masuknya patroli Belanda ke Watudakon tidak lepas dari keberadaan sebuah fasilitas industri penting peninggalan kolonial, yakni Pabrik Yodium Watudakon. Pabrik tersebut kemudian menjadi salah satu titik yang diperebutkan dalam situasi revolusi. Sosok yang akrab disapa Yuhan ini mengatakan, Belanda berkepentingan mengamankan fasilitas produksi. Sementara bagi pejuang, kawasan tersebut memiliki arti strategis sebagai wilayah RI. 

MATA AIR: Sumber Bekucuk, Desa Tempuran, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto yang pada masa kolonial dieksplorasi untuk diambil kandungan yodium. (Rizal/JPRM)
MATA AIR: Sumber Bekucuk, Desa Tempuran, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto yang pada masa kolonial dieksplorasi untuk diambil kandungan yodium. (Rizal/JPRM)

Laporan mengenai patroli tersebut dimuat dalam surat kabar Nieuwe Courant pada 17 Juni 1947. Tak hanya sekadar menembus garis demarkasi, patroli Belanda bahkan berkembang menjadi penempatan garnisun di sekitar pabrik.

Yuhan menjelaskan, setelah berakhirnya masa Pendudukan Jepang, fasilitas Pabrik Yodium Watudakon sempat dimanfaatkan para pejuang untuk membuat bom. Terdapat sejumlah pemuda teknisi yang berada di kompleks pabrik. 

Menurutnya, para teknisi tersebut dimungkinkan adalah para pemuda yang tergabung dalam Tentara Genie Pelajar (TGP) yang berasal dari sekolah teknik di Surabaya. ”Mereka cukup mahir membuat trek bom yang digunakan untuk kegiatan sabotase fasilitas transportasi saat itu,” terang Yuhan. 

Sehingga kompleks industri di Watudakon menjadi atensi Belanda karena terlibat dalam aksi sabotase. Namun, saat pasukan kolonial melakukan patroli besar, bagian dalam pabrik sudah dalam kondisi berantakan. 

Sementara itu, kehadiran garnisun Belanda di sekitar pabrik tidak serta-merta membuat Watudakon aman. Menurut laporan Nieuwe Courant, pasukan marinir Belanda berulang kali mendapat gangguan dari pejuang Republik. ”Dalam satu pekan, serangan dapat terjadi hingga tiga kali pada hari yang berbeda,” paparnya. 

DIEKSPLORASI: Sumur pengeboran yodium di Dusun Bekucuk, Desa Tempuran, Kecamatan Sooko yang menjadi titik pengeboran untuk mengambil yodium. (Rizal/JPRM)
DIEKSPLORASI: Sumur pengeboran yodium di Dusun Bekucuk, Desa Tempuran, Kecamatan Sooko yang menjadi titik pengeboran untuk mengambil yodium. (Rizal/JPRM) 

Serangan-serangan tersebut umumnya berskala terbatas. Bentuknya berupa gangguan, penyergapan, maupun serangan balasan terhadap patroli. ”Tujuannya mengamankan fasilitas Pabrik Watudakon,” paparnya.

Serangan serentak dengan skala cukup besar terjadi pada 3 September 1947. Kelompok pejuang yang berpangkalan di Curahmalang, Kecamatan Sumobito, Kabupaten Jombang melakukan invasi ke Watudakon. 

Tidak ada catatan pasti mengenai jumlah korban dari pertempuran tersebut. Namun, sebuah iklan duka cita yang dimuat Nieuwe Provinciale Groningen memberikan petunjuk mengenai adanya satu korban meninggal dari anggota kompi Belanda di front Watudakon. (ram/ris)

 

Editor : Fendy Hermansyah
Sumber : Radar Mojokerto
pabrik yodium masa revolusi mojokerto punya cerita pabrik mojokerto