Konferensi Meja Bundar (KMB) yang berlangsung pada 23 Agustus-2 November 1949 menandai pengakuan kemerdekaan Indonesia. Namun, fase awal berdirinya Republik Indonesia Serikat (RIS) diwarnai pembangkangan dari kelompok bersenjata liar di berbagai daerah, termasuk di wilayah Kabupaten Mojokerto.
SEJARAWAN Mojokerto Ayuhanafiq menceritakan, pada masa perang kemerdekaan RI, banyak kelompok warga dari luar militer yang ikut berjuang. Namun, kemudian muncul dinamika yang dipicu keberadaan kelompok bersenjata non-TNI yang enggan kembali menjadi masyarakat sipil. ’’Kelompok bersenjata itu biasanya adalah bekas anggota yang terpisah dari kesatuannya. Mereka lantas membentuk kelompok dengan persenjataan,’’ jelasnya.
Setelah pengakuan kedaulatan kemerdekaan, pemerintah RIS mengeluarkan imbauan agar seluruh kelompok tersebut menyerahkan senjata. Akan tetapi, masih ada sebagian yang menolak permintaan tersebut, di antaranya kelompok yang dipimpin oleh Imam Malik.
Pria yang akrab disapa Yuhan ini menjelaskan, gerombolan Imam Malik memiliki wilayah operasi mulai dari kawasan perbukitan Pandaan, Tretes, dan Bangil, Kabupaten Pasuruan. Selain itu, teritorinya juga mencakup Lawang, Kabupaten Malang hingga meluas ke Porong, Kabupaten Sidoarjo. ’’Termasuk juga di wilayah Kawedanan Mojosari, Kabupaten Mojokerto,’’ tuturnya.
Karenanya, di wilayah perbatasan antara Mojokerto dan Pasuruan ini menjadi area yang rawan gangguan keamanan. Tidak hanya mengganggu ketertiban umum, Yuhan menyebut, kelompok bersenjata pimpinan Imam Malik juga berupaya mendirikan struktur pemerintahan sendiri. ’’Dengan kekuatan yang besar dan persenjataan, mereka percaya diri menghadapi aparat keamanan,’’ ulas dia.
Bahkan, kelompok bersenjata ini juga membentuk pemerintahan sendiri. Bagi kepala desa maupun camat yang tidak mau bergabung akan mendapatkan teror dan intimidasi.
Yuhan menjelaskan, eskalasi aktivitas tersebut kemudian mendorong pemerintah RIS mengategorikan tindakan kelompok bersenjata sebagai bentuk pembangkangan. Guna menanggulangi situasi tersebut, maka dilaksanakan Operasi Merdeka yang dipimpin oleh Letkol Abimanyu dari Mako Divisi Militer 1 Jawa Timur di Rampal, Malang.
Pada Mei 1951, operasi penertiban terhadap pergerakan kelompok bersenjata diintensifkan. Peleton khusus yang dipimpin Kapten Soemitro berhasil mengamankan Imam Malik dalam sebuah sergapan di dekat Bangil.
Pentolan gerombolan bersenjata ini kemudian dibawa ke Sidoarjo untuk dipertemukan dengan jajaran kepala desa yang biasa jadi sasaran intimidasi. ’’Penangkapan pimpinan kelompok tersebut akhirnya mendorong partisipasi aktif warga dalam memberikan informasi keberadaan sisa-sisa anggota gerombolan,’’ paparnya.
Berdasarkan berita yang dimuat Koran Merdeka edisi Rabu, 19 September 1951, tercatat sebanyak 70 orang berhasil diamankan di kawasan Mojosari. Dari tangan mereka, petugas turut menyita 50 pucuk senjata api.
Yuhan menyebut, stabilitas keamanan di wilayah Mojosari akhirnya berhasil dipulihkan secara bertahap setelah para anggota kelompok bersenjata tertangkap. Para pelaku kemudian diproses hukum melalui Pengadilan Negeri Mojokerto. (ram/fen)
Editor : Fendy HermansyahSumber : Radar Mojokerto