Perdagangan lintas wilayah telah berkembang pesat pada masa Kerajaan Majapahit. Konektivitas aktivitas perniagaan itu terbentuk jauh sebelum era imperium yang diyakini berpusat di Trowulan, Kabupaten Mojokerto tersebut. Di antara komoditas yang menjadi bukti perdagangan internasional di masa kuno itu ditemukan di situs daratan dan laut.
ARKEOLOG Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Ery Soedewo menjelaskan, bukti adanya jaringan perdagangan di kepulauan Nusantara dan Asia banyak ditemukan dari masa sebelum abad ke-13. Salah satunya komoditas kemiri dan pala yang terdapat di Situs Bongal pada abad ke-8 sampai 9.
Situs yang berada di Tapanuli Tengah, Sumatera Utara tersebut merupakan kawasan arkeologi penting yang menyimpan bukti permukiman kuno serta jalur perniagaan maritim global.
”Selain di daratan Situs Bongal, kemiri juga ditemukan di bawah permukaan air, yaitu di bangkai kapal Intan Wreck di Laut Jawa dekat pulau Bangka dan di kapal karam yang ditemukan di perairan Cirebon,” jelasnya dalam webinar Majapahit dan Nusantara: Membaca Kembali Konsep Wilayah, Kekuasaan, dan Konektivitas yang digelar Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Jawa Timur, Kamis (27/8).
Selain rempah, komoditas kemenyan dan kamper (kapur barus) juga ditemukan di kawasan Situs Bongal. Bahan-bahan aromatik tersebut turut ditemukan di situs Kapal Intan Wreck. ”Sebaran rempah ternyata juga tidak hanya di Nusantara, ada temuan cengkih di Situs Mantai, Sri Lanka,” imbuhnya.
Ery menjelaskan, di samping rempah yang menjadi komoditas andalan, wilayah Nusantara juga dimasuki para pedagang dari Asia yang membawa berbagai jenis barang berbahan kaca. Temuan seperti fragmen botol dan gelas kaca di Kapal Intan Wreck dan Bongal menjadi buktinya. ”Artefak kaca ini berasal dari kawasan Asia Barat, ini antara dari abad ke-7 sampai 10 Masehi,” tuturnya.
Pada masa itu, jalinan perniagaan Nusantara dan Tiongkok juga telah terbentuk dengan ditemukannya bukti keramik dalam berbagai bentuk khas Tiongkok di dua situs tersebut. Hubungan perdagangan dengan Tiongkok ini kelak berlangsung hingga masa Majapahit dengan banyaknya peninggalan keramik di kawasan Trowulan. ”Dari masa yang lebih tua lagi, ada aktivitas perdagangan Nusantara dan kawasan Laut Merah dekat Mesir,” ungkap Ery.
Kegiatan perdagangan pada masa lampau itu diperkuat dengan temuan artefak seperti timbangan kuno dan koin dari Arab dan Tiongkok. Benda-benda arkeologis yang menjadi bukti adanya transaksi niaga tersebut ditemukan di situs Bongal. ”Artinya yang terjadi di situs Bongal ini adalah interaksi antarpedagang dari berbagai latar belakang budaya,” tandasnya. (adi/ris)
Editor : Fendy Hermansyah
Sumber : Radar Mojokerto