Istilah Pasukan Penggempur Dalam tidak hanya merujuk pada unit tempur Divisi Brawijaya yang didirikan pada 1948. Berdasarkan catatan sejarah perjuangan, embrio unit bawah tanah ini terbentuk sejak September 1946 di Mojokerto. Kesatuan khusus tersebut dirancang untuk menyusup dan merusak pertahanan musuh langsung dari jantung kota.
SEJARAWAN Mojokerto Ayuhanafiq menceritakan, keberadaan awal kesatuan ini terungkap melalui dokumen rahasia di markas pejuang Mojokerto yang disita pasukan Marinir Belanda pada 17 Maret 1947. Catatan tersebut juga termuat dalam buku Onze Mariniers Brigade (1945-1949) karya CJO Dorren terbitan 1954.
Menurutnya, awal pembentukan pasukan ini didorong oleh gejolak untuk merebut kembali Kota Surabaya melalui taktik infiltrasi. ’’Dasar pembentukan adalah niat merebut Surabaya dengan cara infiltrasi ke dalam kota,’’ tuturnya.
Pria yang akrab disapa Yuhan ini memaparkan, Pasukan Penggempur Dalam dirancang khusus untuk melancarkan serangan umum dari dalam Kota Surabaya yang saat itu diduduki Belanda. ’’Para pejuang telah merencanakan secara detail rencana melakukan serangan umum dengan langsung bergerak dari jantung kota,’’ tandas dia.
Dalam berbagai kesempatan, hal itu juga disampaikan secara verbal oleh Soetomo alias Bung Tomo. Dalam orasinya, serangan umum yang mengusung narasi merayakan Idulfitri di kampung halaman di Kota Pahlawan ini dilaksanakan pada Agustus 1946.
Namun, gerakan para pejuang mendapat hadangan dari pasukan Belanda di Driyorejo, Kabupaten Gresik. ’’Penghadangan menimbulkan jatuh korban jiwa dan banyak yang tertangkap,’’ tandas Yuhan.
Selanjutnya, Bung Tomo selaku Ketua Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia (BPRI) sempat berencana membentuk pasukan gabungan kelaskaran. Masing-masing dari Hizbullah, Pesindo, dan BPRI yang diberi nama Divisi 17 Agustus pada Januari 1947.
Sayangnya, rencana pasukan gabungan itu pupus akibat perintah gencatan senjata pada 15 Februari 1947. Meski demikian, Laskar Hizbullah di bawah pimpinan Moenasir tetap memobilisasi sekitar 1.000 personel dan menamainya Tentara Rakyat Djelata (TRD). ’’TRD berhasil menyusupkan personel dan senjata ke Surabaya,’’ tutur penulis buku Garis Depan Pertempuran: Laskar Hizbullah 1945-1950 ini.
Akan tetapi, gerakan tersebut akhirnya terendus Netherlands East Indies Forces Intelligence Service (NEFIS) atau intelijen Belanda. Penyamaran pejuang terbongkar usai Belanda menyita dokumen rahasia di Mojokerto pada Maret 1947. (ram/fen)
Editor : Fendy Hermansyah
Sumber : Radar Mojokerto