Peradaban Kota Majapahit Dihuni sejak Era Mataram Kuno

Yulianto Adi Nugroho • Dipublikasikan Senin, 17 Agustus 2026 | 09:44 WIB
KUNO: Keramik asing koleksi Museum Majapahit, Desa/Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, dari masa Kerajaan Majapahit. Temuan ini menjadi petunjuk peradaban di Wilwatikta yang sudah berlangsung lama. (Adi JPRM)
KUNO: Keramik asing koleksi Museum Majapahit, Desa/Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, dari masa Kerajaan Majapahit. Temuan ini menjadi petunjuk peradaban di Wilwatikta yang sudah berlangsung lama. (Adi JPRM) 

Peradaban di Trowulan sudah eksis jauh sebelum era Kerajaan Majapahit. Kawasan yang kini dikenal sebagai bekas Wilwatikta, Ibu Kota Majapahit, itu telah dihuni sejak masa Kerajaan Mataram Kuno sekitar tiga abad sebelumnya. 

PENELITI Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah (PRAPS) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Yusmaini Eriawati mengatakan, penelitian terhadap sejumlah situs kuno di Trowulan menunjukkan adanya sisa peradaban dari masa jauh sebelum era Majapahit. 

Benda artefaktual itu antara lain berupa prasasti, stupika, keramik asing, tembikar, arca, dan sisa bangunan candi. Berdasarkan ciri-cirinya, tinggalan tersebut yang paling tua berasal dari abad ke-10 Masehi atau masa Mataram Kuno era Empu Sindok.

”Situs trowulan jauh sudah dihuni sejak abad ke-10, yaitu zaman Mataram Kuno Empu Sindok. Kita menemukan tinggalannya umumnya di daerah (Desa) Bejijong (Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto) di bawah Candi Brahu. Di sana kita menemukan banyak sekali keramik dari abad ke-10 juga prasasti yang dikeluarkan Empu Sindok,” tuturnya di Webinar Forum Kebhinnekaan Seri #37 bertajuk Wawasan Baru di Metropolitan Majapahit, Selasa (15/7) lalu. 

Menurut Wati, panggilan Yusmaini Eriawati, selain benda peninggalan Mataram Kuno, di area candi tersebut juga ditemukan artefak dari masa Kerajaan Singasari (abad ke-13) dan Majapahit. Dengan demikian, kawasan ini setidaknya telah ditinggali masyarakat secara turun-temurun selama tiga periode kerajaan. ”Jadi tempat itu digunakan berkali-kali sampai sudah seribu tahun lamanya,” imbuh dia. 

WISATAWAN menikmati pesona Candi Brahu di Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Juni lalu. (Sofan JPRM)
WISATAWAN menikmati pesona Candi Brahu di Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Juni lalu. (Sofan JPRM)
 

Selain di Candi Brahu, petunjuk jejak permukiman kuno juga muncul dari penggalian di Situs Grogol, Dusun Grogol, Desa Dukuhngarjo, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto. Di situs yang diyakini sebagai sisa permukiman kaum bangsawan ini, peneliti menemukan struktur lapisan keramik dari tiga zaman di bawah tanah.

Yakni paling bawah dari abad ke-10 yang bertumpuk dengan keramik khas abad ke-11 dan 12, serta paling atas dari keramik era Majapahit. ”Itu memberi keyakinan Situs Trowulan sudah dihuni jauh-jauh sebelum Majapahit,” tandas Wati. 

Arkeolog Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Timur Muhammad Ichwan menambahkan, peradaban sebelum Majapahit di kawasan Trowulan juga ditunjukkan dengan temuan prasasti di Situs Gemekan, Dusun Kedawung, Desa Gemekan, Kecamatan Sooko. Prasasti tersebut berangka lebih tua dari Candi Brahu. ”Petunjuknya juga terlihat dari tren keramik dari masa sebelum Majapahit serta struktur bangunan,” ucapnya di kesempatan yang sama. (adi/ris)

 

Editor : Fendy Hermansyah
Sumber : Radar Mojokerto
Majapahit mojosains Peradaban Kuno