PERANG kemerdekaan di wilayah Mojokerto sepanjang tahun 1947-1949 menyimpan cerita kelam bagi pasukan pendudukan Belanda. Batalyon 2 Resimen Infanteri ke-5 atau disebut Batalyon 2-5 RI yang didatangkan langsung dari Negeri Kincir Angin mengalami tekanan fisik dan mental yang berat hingga beberapa anggotanya memilih mengakhiri hidup dengan bunuh diri.
Sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq menceritakan, Batalyon 2-5 RI ini awalnya dibentuk melalui perekrutan sukarelawan di Hulten, Noord Brabant, Belanda, pada 1 Oktober 1945. Kala itu, narasi propaganda yang dibangun adalah misi kemanusiaan untuk membebaskan rakyat Jawa dari fasisme Jepang.
”Banyak anak muda tertarik bergabung karena membayangkan tugas mulia melindungi dan membebaskan rakyat dari kekejaman Jepang,” kata Ayuhanafiq.
Sebelum diberangkatkan, ungkap dia, para sukarelawan dilatih singkat di Inggris dan menerima perlengkapan senjata. Dengan menggunakan kapal Nieuw Amsterdam, pasukan ini berangkat hingga akhirnya mendarat di Surabaya pada 29 Februari 1946.
Di bawah komando Mayor Thomas GH Keuning, pasukan ini memakai lencana logo pohon kelapa dan sinar matahari terbit. ”Tugas awal mereka adalah menjaga sektor barat pertahanan Surabaya dan bermarkas di Driyorejo,” papar pria yang akrab disapa Yuhan ini.
Dikatakannya, pada 17 Maret 1947, mereka dilibatkan dalam operasi pendudukan di Kota Mojokerto yang disusul pengangkatan Keuning menjadi pimpinan militer berpangkat Letnan Kolonel. Selanjutnya, Batalyon 2-5 RI ditetapkan sebagai inti pasukan pengamanan Mojokerto.
Selain bertempur, kata Yuhan, Batalyon 2-5 RI dibebani tugas menjalankan program Proeftuin atau menjadikan Mojokerto sebagai prototipe pemerintahan sipil Belanda. ”Mereka banyak menggelar kegiatan sosial seperti pembagian makanan, pakaian, dan pengobatan guna menarik simpati rakyat pribumi,” ulasnya.
Namun, situasi keamanan kian tidak stabil setelah Perjanjian Linggarjati yang mengesahkan garis Van Mook. Belanda mendirikan pos-pos pertahanan di sepanjang garis status quo yang membentang dari wilayah Dinoyo, Kecamatan Jatirejo; Brangkal, Kecamatan Sooko; Gempolkrep, Kecamatan Gedeg; hingga Dawarblandong.
Yuhan menyebut, pos-pos pertahanan tersebut yang kemudian sering disusupi oleh pejuang gerilyawan Republik Indonesia (RI). ”Mulai Sabotase, serangan kecil, dan penghadangan kerap dialami oleh kesatuan militer Belanda,” urainya.
Meski sempat didatangkan bantuan Pasukan Tjakraningrat atau Barisan Tjakra dari Madura, rasa aman di wilayah Mojokerto masih sulit terwujud. Menurutnya, para pejuang justru kian keras melakukan teror pada orang-orang yang memihak musuh. (ram/ris)
Editor : Fendy Hermansyah
Sumber : Radar Mojokerto