Kawasan ibu kota Kerajaan Majapahit yang diyakini berada di Trowulan dan sekitarnya dilengkapi dengan aneka sumur. Bentuk konstruksi dan sebaran temuan situs sumur menunjukkan masyarakat di era 700 tahun silam itu telah menguasai teknologi rekayasa perairan.
PENELITIAN arkeologis mengenai keberadaan sumur dan kaitannya dengan peradaban Majapahit dilakukan Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra (Arbastra) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada 2022 silam.
Hasilnya menunjukkan sumur-sumur Majapahit di Trowulan terdiri dari sumur bata dan jobong. Bentuk yang ditemukan antara lain sumur bundar bata melengkung, sumur persegi dengan bata persegi, sumur bundar bata persegi, dan sumur jobong berbentuk lingkaran.
”Secara konstruksi penyusunan batanya ada yang jobong secara keseluruhan, ada perpaduan bata dengan jobong, dan bata keseluruhan,” kata peneliti Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah (PRAPS) BRIN Yusmaini Eriawati pada Webinar Forum Kebhinnekaan Seri #37 bertajuk Wawasan Baru di Metropolitan Majapahit, Selasa (15/7).
Menurutnya, terdapat sejumlah situs di Trowulan yang di dalamnya terdapat temuan sumur kuno. Salah satu yang paling menonjol adalah kumpulan sumur di Situs Nglinguk Wetan, Dusun Nglinguk, Desa/Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.
Khusus di area ini, lanjut Yusmaini, ditemukan sebanyak 63 sumur kuno yang tersebar di permukaan tanah dengan bentuk dan teknologi pembuatan yang bervariasi.
Dari temuan yang didapat, para peneliti menyimpulkan masyarakat Majapahit telah memiliki pengetahuan lingkungan yang cukup untuk menemukan mata air. Mereka menggali sumur di wilayah Nglinguk Wetan yang memiliki kondisi dan sumber air tanah yang baik karena mengandung material lepas berupa kerikil, pasir, serta campuran pasir dengan lempung.
”Kondisi semacam itu akan memberikan air bersih yang sangat berlimpah dengan cara membuat sumur dengan bentuk, bahan, penyusunan, dan ukuran tertentu,” jelasnya. Di sisi lain, teknik konstruksi pembuatan sumur juga telah dikuasai secara baik.
Hal ini terlihat dari jenis sumur yang dibuat disesuaikan dengan kondisi musim. Saat musim kemarau dan lapisan akuifer rendah, mereka membuat sumur batu bata. ”Pada saat akuifer cukup tinggi, masyarakat Majapahit membuat sumur jobong atau sumur jobong dengan susunan bata di atasnya,” tandas Yusmaini. (adi/ris)
Editor : Fendy Hermansyah
Sumber : Radar Mojokerto