Pergerakan NU di Masa Pendudukan Jepang, Menjaga Eksistensi Organisasi lewat Budaya dan Tradisi

Fendy Hermansyah • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 10:36 WIB
PENGGALAN SEJARAH: Potongan kalender NU bertarikh Agustus tahun 1944 atau Hachi-Gatsu 2604 yang diterbitkan pada masa pendudukan Jepang.
PENGGALAN SEJARAH: Potongan kalender NU bertarikh Agustus tahun 1944 atau Hachi-Gatsu 2604 yang diterbitkan pada masa pendudukan Jepang.
 

Nahdlatul Ulama (NU) telah berkhidmat selama 1 abad di bumi Nusantara. Meski melewati banyak dinamika sejarah, eksistensi NU tetap terjaga hingga kini. Termasuk di masa penjajahan, pergerakan roda organisasi Islam ini tetap hidup berkat merawat budaya dan tradisi. 

SEJARAWAN Mojokerto Ayuhanafiq menceritakan, pasca berakhirnya era kolonial, rakyat pribumi belum sepenuhnya bebas dari belenggu penjajah. Di awal masa pendudukan Jepang tahun 1942, berbagai aktivitas di masyarakat dilakukan pembatasan. 

Demikian di Mojokerto, pasukan Nippon melarang segala aktivitas politik serta membatasi semua pergerakan organisasi masyarakat (ormas). Pada awal pendudukan Jepang, seluruh partai politik dan ormas terkena pembatasan, termasuk NU, tuturnya. 

Pria yang akrab disapa Yuhan ini menyebutkan, tekanan itu berdampak besar terhadap NU. Bahkan, Rais Akbar NU, Kiai Hasyim Asy’ari juga pernah ditangkap dan sempat dipenjarakan di Lapas Mojokerto oleh tentara Jepang. ”Pemerintah pendudukan Jepang saat itu memang ingin memastikan semua kekuatan politik dikendalikan,” ulasnya. 

Namun, NU memiliki cara untuk tetap bergerak. Agar lepas dari pembatasan penjajah, aktivitas keagamaan disiasati lewat kegiatan budaya dan tradisi. Karena sejak awal berdiri, NU memang berkomitmen untuk mempertahankan budaya dan tradisi lokal, papar Yuhan. 

BERNILAI HISTORI: Sel tahanan nomor 2 di Lapas Kelas II-B Mojokerto yang pernah menjadi tempat Kiai Hasyim Asy’ari dipenjara di masa pendudukan Jepang.
BERNILAI HISTORI: Sel tahanan nomor 2 di Lapas Kelas II-B Mojokerto yang pernah menjadi tempat Kiai Hasyim Asy’ari dipenjara di masa pendudukan Jepang.

Ia menuturkan, langkah tersebut berhasil menjaga eksistensi pergerakan organisasi di tengah tekanan penjajah. Pasalnya, pemerintah pendudukan Jepang saat itu hanya memperbolehkan kegiatan yang bersifat olahraga dan budaya. 

Sehingga, lanjut Yuhan, momen kegiatan pembacaan diba, yasinan, hingga hadrah juga dimanfaatkan sebagai sarana konsolidasi bagi anggota NU. Kegiatan kultural ini sulit dilarang karena dianggap budaya, padahal jejaringnya dipakai untuk menggerakkan organisasi,” ujar penulis buku Garis Depan Pertempuran, Lasykar Hizbullah 1945-1950 ini. (ram/ris)

 

 

Editor : Fendy Hermansyah
Sumber : Radar Mojokerto
pergerakan NU budaya dan tradisi pendudukan jepang