Kemajuan Perdagangan Era Majapahit, Alami Pendangkalan, Kapal Sulit Bersandar

Yulianto Adi Nugroho • Dipublikasikan Senin, 3 Agustus 2026 | 10:17 WIB
BERCORAK MARITIM: Miniatur kapal dari masa Kerajaan Majapahit yang menunjukkan budaya maritim di Museum Majapahit, Desa/Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.
BERCORAK MARITIM: Miniatur kapal dari masa Kerajaan Majapahit yang menunjukkan budaya maritim di Museum Majapahit, Desa/Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

SEMENTARA itu, sejumlah pelabuhan penting yang pernah menjadi simpul perdagangan global di era Kerajaan Majapahit kini tak lagi eksis. Pendangkalan laut akibat sedimentasi diduga menjadi salah satu penyebab pelabuhan-pelabuhan sibuk pada masanya itu akhirnya mati.

Di antara pelabuhan kuno yang kehilangan eksistensinya itu adalah Kambang Putih atau yang kini dikenal dengan nama Kabupaten Tuban. Pelabuhan utama Majapahit itu perlahan mengalami kemunduran seiring runtuhnya kerajaan. 

 Penelitian geolog Hindia Belanda Reinout Willem van Bemmelen menyebutkan, pola pergerakan laut membawa pasir yang perlahan memicu pendangkalan. Sedimentasi yang terjadi menyulitkan kapal-kapal bersandar. ”Ternyata kemudian Tuban menjadi dangkal,” ujar dosen sejarah Universitas Negeri Malang, Deny Yudo Wahyudi.

 Selain itu, pelabuhan di Gresik yang juga menjadi salah satu bandar dagang utama Majapahit kelak juga memudar. Deny mengungkapkan, pendangkalan juga diduga menjadi penyebab pelabuhan ini akhirnya mati. Hal ini diperkuat dengan sejumlah literatur yang menyebutkan dulunya menara Masjid Sunan Giri merupakan mercusuar. ”Karena dekat dengan pelabuhan,” tuturnya. (adi/ris)

 

Editor : Fendy Hermansyah
Sumber : Radar Mojokerto
Museum Majapahit kerajaan majapahit perdagangan majapahit