JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Bangsal, Pacet, Trawas, Trowulan hingga Mojosari merupakan nama-nama yang begitu akrab di telinga masyarakat Kabupaten Mojokerto. Nama-nama itu setiap hari diucapkan sebagai penunjuk arah, alamat, hingga tujuan perjalanan. Namun, pernahkah terpikir bagaimana nama-nama tersebut bermula?
Di balik penyebutannya yang kini terasa biasa, ternyata tersimpan kisah pembukaan hutan, legenda yang diwariskan turun-temurun, hingga sejarah panjang perkembangan sebuah wilayah. Sebagian memiliki cerita yang masih dipercaya masyarakat, sementara sebagian lainnya menyimpan beragam versi yang hingga kini masih menjadi bahan kajian.
Baca Juga: Sarasehan Nasional KAUJE: Kepala Daerah Beber Jurus Inovasi di Tengah Tekanan Fiskal
Lantas, bagaimana kisah di balik nama sejumlah kecamatan di Kabupaten Mojokerto? Berikut rangkumannya.
1. Bangsal
Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, kawasan Bangsal pada mulanya merupakan hutan belantara yang dibuka oleh seorang tokoh penyebar agama Islam bernama Mbah Raden Antio. Dalam proses membuka kawasan tersebut, didirikan sebuah bangunan utama atau bangsal yang digunakan sebagai tempat berkumpul, bermusyawarah, sekaligus menyebarkan ajaran agama.
Bangunan itulah yang kemudian dipercaya menjadi asal-usul nama Bangsal. Kini, kecamatan tersebut berkembang menjadi salah satu wilayah strategis di Kabupaten Mojokerto karena dilintasi jalan nasional yang menghubungkan Kota Mojokerto dengan Mojosari.
2. Trawas
Asal-usul nama Trawas memiliki lebih dari satu versi. Salah satu legenda yang berkembang di masyarakat menyebut nama Trawas berasal dari sebuah pohon besar yang dahulu tumbuh di kawasan tersebut.
Cerita rakyat juga mengisahkan dua tokoh yang berhasil menaklukkan seekor buaya sakti sebelum wilayah itu kemudian dikenal sebagai Trawas. Di sisi lain, terdapat pula versi berbeda mengenai asal-usul nama tersebut, sehingga kisah penamaannya masih menjadi bagian dari tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun.
3. Pacet
Di balik popularitasnya sebagai kawasan wisata, Pacet juga memiliki cerita menarik mengenai asal-usul namanya. Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, nama Pacet diambil dari binatang kecil sejenis lintah yang dalam bahasa setempat disebut pacet.
Dahulu, binatang tersebut banyak ditemukan di kawasan hutan dan persawahan. Selain itu, masyarakat juga mengenal Mbah Bontit dan Mbah Surodilogo sebagai tokoh yang dipercaya membuka kawasan permukiman di wilayah Pacet. Hingga kini, makam keduanya masih sering diziarahi masyarakat pada waktu-waktu tertentu.
4. Trowulan
Nama Trowulan hampir selalu dikaitkan dengan kejayaan Kerajaan Majapahit. Namun, asal-usul penamaan Trowulan sendiri masih memiliki beberapa versi.
Sejumlah literatur menyebut nama Trowulan diduga mengalami perubahan dari penyebutan nama pada masa lampau, sementara versi lain mengaitkannya dengan istilah yang berkembang pada era Majapahit. Perbedaan pendapat tersebut menunjukkan bahwa asal-usul nama Trowulan masih menjadi kajian sejarah.
5. Mojosari
Berbeda dengan beberapa kecamatan lainnya, asal-usul nama Mojosari belum memiliki penjelasan yang pasti. Namun, sejarah wilayahnya mencatat Mojosari pernah berkembang sebagai pusat pemerintahan pada masa kolonial Belanda.
Posisinya yang strategis membuat Mojosari tumbuh menjadi pusat perdagangan, pemerintahan, sekaligus jalur penghubung antarwilayah. Perkembangan tersebut menjadikan Mojosari sebagai salah satu kawasan penting di Kabupaten Mojokerto hingga saat ini.
Baca Juga: Tren Jeep dan ATV Adventure, Kenalkan Potensi Desa, Bakal Rambah Wisata Sejarah
6. Kutorejo
Nama Kutorejo kerap dikaitkan dengan bahasa Jawa, yakni gabungan kata kuto yang berarti kota atau permukiman dan rejo yang berarti ramai atau makmur. Meski belum ditemukan catatan sejarah yang secara pasti menjelaskan asal-usul penamaannya, makna tersebut menggambarkan harapan akan lahirnya kawasan permukiman yang berkembang dan sejahtera.
Nama sebuah wilayah ternyata tidak sekadar menjadi penanda di peta. Di balik penyebutannya, terdapat kisah pembukaan hutan, legenda yang diwariskan dari generasi ke generasi, hingga perjalanan sejarah yang membentuk identitas daerah. Meski tidak semua asal-usul nama memiliki catatan sejarah yang pasti, cerita-cerita tersebut tetap menjadi bagian dari warisan budaya yang memperkaya sejarah Kabupaten Mojokerto.YOLANDA
Editor : Imron Arlado