SEMENTARA itu, pada saat Agresi Militer Belanda II pada 18 Desember 1948, pasukan Mobile Brigade Karesidenan Surabaya kembali diterjunkan di garis depan pertempuran. Pasukan kepolisian ini bergabung dengan pasukan Komando Hayam Wuruk untuk merebut kembali kemerdekaan RI.
Ayuhanafiq menuturkan, Mobile Brigade Karesidenan Surabaya ditugaskan untuk melakukan operasi penyerangan di pos pertahanan Belanda yang berada di Desa Dinoyo, Kecamatan Jatirejo. Serangan diam-diam ini rencananya dilakukan malam hari. ’’Soetjipto Danoekoesoemo telah membagi masing-masing kompi pasukannya untuk melakukan penyerangan,’’ sambungnya.
Dikatakannya, operasi di Dinoyo tersebut merupakan bagian dari serangan serentak yang diinisiasi Komado Hayam Wuruk di selatan Mojokerto. Pasukan yang dikomandoi Mayor Pamoe Rahardjo berencana menyergap dari hutan menuju Pacet, Pugeran, dan Trawas.
Menjelang dini hari, Soetjipto Danoekoesoemo meletupkan tembakan ke arah musuh yang menandai mulai penyerangan merebut Dinoyo. Serangan pasukan dari empat penjuru mata angin ini membuat tentara Belanda sempat terjepit.
Namun, kolonial memberi serangan balasan dengan kekuatan persenjataan yang lebih unggul. Setelah kontak senjata berlangsung selama kurang lebih lima jam, pertempuran akhirnya berakhir setelah Belanda menurunkan tank. ’’Soetjipto Danoekoesoemo memerintahkan pasukannya mundur saat fajar,’’ sebutnya.
Kompi Mobile Brigade Karesidenan Surabaya akhirnya memisahkan diri. Di antaranya menuju ke Desa Bleberan dan Lebakjabung, Kecamatan Jatirejo. Mereka kemudian berpindah-pindah tempat di wilayah Kabupaten Jombang. Meski Dinoyo gagal direbut, namun serangan pasukan di bawah pimpinan Soetjipto Danoekoesoemo mengacaukan pos pertahanan musuh.
Sosok kelahiran Tulungagung, 28 Februari 1922 ini menapaki karier cemerlang di kepolisian. Pada 1962, Soetjipto Danoekoesoemo dipromosikan menjadi Komandan Mobile Brigade Polisi Pusat. Selanjutnya, dia resmi menyandang pangkat Jenderal Polisi dan dilantik menjadi Kapolri ke-3 di RI dengan masa bakti dari 30 Desember 1963 hingga 8 Mei 1965. (ram/fen)
Editor : Fendy Hermansyah