Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Jejak Kiai Munasir, Dari Komandan Batalyon Jadi Penggerak Tani  

Rizal Amrulloh • Kamis, 25 Juni 2026 | 08:17 WIB
BERSEJARAH: Baitul Munasir alias rumah Kiai Munasir yang memiliki nilai historis terkait perjuangan kemerdekaan dan pergerakan petani di Desa Pekukuhan, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto. (Rizal JPRM)
BERSEJARAH: Baitul Munasir alias rumah Kiai Munasir yang memiliki nilai historis terkait perjuangan kemerdekaan dan pergerakan petani di Desa Pekukuhan, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto. (Rizal JPRM) 

Tahun 1952 menjadi akhir dari perjalanan Batalyon Condromowo. Kesatuan tentara yang juga disebut Bn. Munasir ini membubarkan diri melalui upacara di Lapangan Gunungsari, Kota Surabaya. Sang komandan, Kiai Munasir Ali memilih meletakkan senjata dan kembali pulang ke Desa Pekukuhan, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto untuk mengabdi sebagai penggerak tani. 

SEJARAWAN Mojokerto Ayuhanafiq menceritakan, setelah revolusi kemerdekaan RI berakhir, banyak pemimpin Laskar Hizbullah yang tergabung dalam Tentara Nasional Indonesia (TNI) memilih mengundurkan diri. Mereka menanggalkan seragam kemiliteran untuk melanjutkan perjuangan dengan mengabdi di berbagai bidang.

Di antaranya yang ditempuh oleh Kiai Munasir. Tokoh pejuang sekaligus ulama ini memutuskan untuk pulang ke kampung halaman. ”Kiai Munasir yang masih muda itu balik ke Desa Pekukuhan untuk mengelolala lahan sawah peninggalan orang tuanya,” jelasnya. 

Pilihan Kiai Munasir bukan tanpa alasan. Sebagai santri Kiai Hasyim Asy’ari, sosok  kelahiran 2 Maret 1919 ini memiliki kepedulian tinggi pada pertanian. Sawah yang telah lama terbengkalai selama masa perang akhirnya dihidupkan kembali.

Terlebih, saat itu juga terbentuk organisasi yang dinamakan Persatuan Tani Nahdlatul Ulama (Pertanu). Kiai Munasir membidangi berdirinya Pertanu di Mojokerto, papar pria yang akrab disapa Yuhan ini. 

DARAH PEJUANG: Mendiang Kiai Munasir yang semasa hidup pernah menjadi Komandan Batalyon Condromowo dan pejuang Laskar Hisbullah Mojokerto.
DARAH PEJUANG: Mendiang Kiai Munasir yang semasa hidup pernah menjadi Komandan Batalyon Condromowo dan pejuang Laskar Hisbullah Mojokerto.

 Bahkan, rumah Kiai Munasir juga dijadikan sebagai sekretariat Pertanu. Sebagai penggerak tani, kiprah dari putra Kiai Ali ini melesat hingga ke tingkat Jawa Timur. Kiai Munasir menggerakkan roda organisasi tani bersama mantan anak buahnya di Batalyon Condromowo, ulasnya. 

Pada Pemilihan Umum (Pemilu) pertama tahun 1955, Pertanu menjadi salah satu organisasi sayap yang berkontribusi terhadap NU. Keberadaannya mampu bersaing ketat dengan Barisan Tani Indonesia yang berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI), serta Penyangga Tatanan Negara Indonesia (PETANI) yang dipopulerkan Partai Nasional Indonesia (PNI).

Pasca pemilu, banyak pengurus Pertanu yang terpilih jadi legislator. Sementara Kiai Munasir tetap menjadi penggerak tani di Pertanu dengan ditetapkan sebagai anggota Dewan Nasional (Denas) di Jakarta.  (ram/ris)

 

Editor : Fendy Hermansyah
#kisah kiai mojokerto #kiai munasir #mojokerto punya cerita #mojopedia