Kota Mojokerto memiliki pertautan sejarah dengan cukup erat dengan Proklamator Kemerdekaan Bangsa Indonesia, Ir Soekarno atau Bung Karno. Selain sekolah, jejak tokoh berjuluk Putera Sang Fajar ini juga terdapat pada dua rumah kontrakan yang ditempati bersama keluarganya.
PENELUSUR sejarah Bung Karno di Jombang dan Mojokerto, Moch. Faisol menceritakan, perjalanan masa kecil Soekarno dimulai ketika pindah dari Sidoarjo pada akhir bulan November 1907. Kepindahannya ini karena mengikuti R. Soekeni Sosrodihardjo ayahnya, seorang guru sekolah pribumi yang dimutasi ke Mojokerto.
Di Kota Onde-Onde, Bung Karno masuk sekolah pribumi Ongko Siji atau Eerste Inlandsche School (1e IS) dari 1909 sampai 1911. Bekas sekolah pribumi pada tahun 1978 telah berubah menjadi SMEA Paramita yang lokasinya di Jalan Empunala. ’’Saat ini, diperkirakan lokasinya ada di antara rumah nomor 37 sampai nomor 43,’’ ulasnya.
Pada Juni 1911, Bung Karno pindah ke sekolah Eropa di Mojokerto bernama Europeesche Lagere School (ELS). Di lembaga pendidikan ini, Soekarno menempuh pendidikan hingga dinyatakan lulus pada Juni 1916.
Setelah lulus dari ELS Mojokerto, Soekarno melanjutkan pendidikannya ke Hoogere Burger School (HBS) di Surabaya. ’’Kisah Bung Karno sekolah di ELS Mojokerto ini diceritakan oleh kakak kelasnya bernama Herman Kartowisastro seperti dimuat di koran Kompas yang terbit 5 Juni 1978,’’ ungkap Faisol.
Sehari kemudian, juga terbit di koran Suara Merdeka edisi 6 Juni 1978 yang memuat foto bekas sekolah pribumi atau HIS Mojokerto, bekas sekolah ELS, dan bekas rumah kontrakan Bung Karno.
Selama hidup beberapa tahun di Kota Mojokerto menjadi pengalaman berkesan bagi Seoakrno. Karenanya, Bung Karno merekomendasikan kepada Cindy Adams untuk datang langsung mencari jejak sejarah masa kecilnya di Kota Mojokerto.
Kesempatan itu tidak disia-siakan pleh Cindy Adams yang saat itu sedang mengumpulkan bahan untuk penulisan buku otobiografi Bung Karno. Pada Kamis, 16 Januari 1964, Cindy Adams datang menjemput Mbok Suwi pengasuh bayi Bung Karno di Ploso dan Mbah Joyo Dipo, teman masa kecil Bung Karno selama lima tahun di Ploso. ’’Keduanya diajak Cindy Adams mengunjungi bekas sekolah ELS dan dua rumah kontrakan Bung Karno di Kota Mojokerto,’’ lanjut Faisol.
Yang menarik, seperti tertulis di koran Suara Merdeka, rumah kontrakan Bung Karno pertama yang selama ini disangka di Jalan Pahlawan Nomor 88 Surabaya, itu sebenarnya ada di Jalan Pahlawan Nomor 88, Kota Mojokerto. ’’Jadi, sebelum berganti nama menjadi Jalan Gajah Mada pada 1970-an, ruas jalan itu bernama Jalan Pahlawan,’’ tegas penulis buku Menemukan Bung Karno di Jombang ini.
Pada 1950-an, ruas Jalan Pahlawan itu membentang sepanjang Jalan Jayanegara-Jalan Pahlawan-Jalan Gajah Mada. Nama ruas jalan Pahlawan Nomor 88 inilah yang tertulis di buku otobiografi Bung Karno Penjambung Lidah Rakjat Indonesia terbit tahun 1966. ’’Kemudian, pada 1970-an dibagi menjadi tiga ruas nama jalan tersebut yang bertahan hingga hari ini,’’ lanjut Faisol.
Sedangkan saat dikunjungi dan difoto oleh wartawan Suara Merdeka pada 1978, bekas rumah kontrakan Bung Karno berubah alamatnya menjadi Jalan Gajah Mada Nomor 77 dengan penghuni bernama Ny. Sumarsih. Saat ini, kembali berganti lagi menjadi Jalan Gajah Mada Nomor 82.
Sedangkan rumah kontrakan kedua Bung Karno ada di Jalan Residen Pamuji. Rumah ini lebih kokoh dan lebih besar. Bahkan saat didatangi oleh wartawan Suara Merdeka pada Juni 1978, rumah itu sudah berubah menjadi Losmen atau Hotel Merdeka.
Bung Karno pindah ke rumah kontrakan ini pada pertengahan 1911. Dengan tujuan, supaya lebih dekat dengan sekolahnya di ELS Mojokerto hingga lulus Juni 1916.
Sementara keluarga Bung Karno bertahan hingga awal Juli 1917. Dan, pada 5 Juli 1917, ayah Bung Karno dimutasi ke Normaal School Blitar hingga pensiun pada 1933. (ram/fen)
Editor : Fendy Hermansyah