JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Indonesia mencatat sejarah besar ketika Presiden Soeharto resmi mengundurkan diri setelah 32 tahun berkuasa. Keputusan ini diumumkan langsung di Istana Merdeka, menandai berakhirnya era Orde Baru.
Krisis moneter Asia yang melanda sejak 1997 menjadi pemicu utama. Rupiah terjun bebas, harga kebutuhan pokok melambung, dan rakyat menghadapi kesulitan ekonomi yang tak terbendung.
Di tengah krisis, praktik Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) yang melekat pada pemerintahan Orde Baru semakin memperburuk kepercayaan publik terhadap rezim.
Baca Juga: Rawan Penularan, Napi Lapas Mojokerto Dites TBC dan HIV
Tragedi Trisakti pada 12 Mei 1998, ketika empat mahasiswa ditembak mati saat demonstrasi, menjadi titik balik. Peristiwa ini memicu gelombang protes besar-besaran di berbagai kota.
Ribuan mahasiswa kemudian menduduki Gedung DPR/MPR pada 18 Mei 1998. Tuntutan mereka jelas: reformasi total dan pengunduran diri Soeharto.
Tekanan politik semakin kuat ketika 14 menteri bidang ekonomi menolak bergabung dalam Kabinet Reformasi pada 20 Mei 1998. Dukungan terhadap Soeharto kian runtuh.
Puncaknya, pada 21 Mei 1998 pukul 09.00 WIB, Soeharto membacakan pidato pengunduran diri. Ia menyatakan berhenti dari jabatan Presiden Republik Indonesia, sesuai amanat UUD 1945.
Baca Juga: Perangi Rokok Ilegal, Pemkab Mojokerto dan Bea Cukai Sidoarjo Musnahkan BMN Senilai Rp 16,6 Miliar
Wakil Presiden BJ Habibie kemudian dilantik sebagai Presiden baru, membuka jalan bagi transisi menuju era Reformasi.
Reformasi membawa agenda besar: amandemen UUD 1945, penghapusan Dwifungsi ABRI, otonomi daerah, serta pemberantasan KKN.
Sampai sekarang 21 Mei dikenang sebagai Hari Reformasi Nasional, simbol perjuangan rakyat untuk demokrasi yang lebih terbuka dan berkeadilan.
KALKY
Editor : Imron Arlado