PENGARUH arsitektur Majapahit pada masa prakolonial di Nusantara terlacak di kawasan pesisir utara Jawa hingga luar pulau. Seperti Bali, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Wujud warisan itu sangat bervariasi meskipun akarnya terlacak dari Majapahit.
”Wilayah pesisir utara Jawa berkaitan dengan wilayah perniagaan yang kemudian berkembang menjadi kota pelabuhan. Seperti Demak, Lasem, Tuban, Gresik, Pekalongan, Cirebon, dan Banteng,” kata dosen arsitektur Universitas Katolik Parahyangan, Rahadhian Prajudi Herwindo.
Selain dalam bentuk pola ruang dan gapura, arsitektur Majapahit yang lebih detail juga terlacak dalam bangunan-bangunan semasa kesultanan Islam. Antara lain bentuk bangunan dengan kolom satu dan empat tiang. Ciri khas candi dari kerajaan yang diyakini berpusat di Trowulan itu muncul dalam bentuk masjid di berbagai pulau Nusantara.
”Bentuk ini sangat terpengaruh dari candi, hanya saja ketika zaman Islam tidak ada candi. Jadi fungsinya diubah jadi bangunan sakral yang lain, yakni masjid,” tuturnya.
Rahadhian menambahkan, ornamen tracapan yang berada di ujung atas tiang rumah juga diwarisi hingga masa kesultanan Cirebon, Banten, dan Mataram. Pun demikian dengan ukiran gonjo mayanggoro pada rangka bangunan rumah yang masih ditemukan di Bali, serta keraton dan rumah bangsawan di Yogyakarta dan Surakarta.
”Di luar Jawa, representasi jejak arsitektur Majapahit yang lebih terlihat adalah pola-pola seperti wujud atap kayu tumpang masjid bertiang satu, beberapa ornamentasi dan detail serta lebih pada artefak budaya lainnya seperti keris,” tandasnya. (adi/ris)
Editor : Fendy Hermansyah