SEMENTARA itu, gelombang gerakan pemuda pelajar di Mojokerto masih terus belangsung hingga pada 1967. Bahkan, puncak aksi massa ini menyebabkan peristiwa pembakaran yang terjadi di kawasan perniagaan.
Meletusnya aksi pembakaran tersebut dipicu usai ditemukannya dokumen milik sebuah perkumpulan di kawasan Pecinan, Kota Mojokerto. Dalam arsip tersebut mencatat terkait adanya pertemuan rapat yang dilakukan oleh aktivis komunis usai tragsdi G/30S/PKI. ’’Keterlibatan itu (PKI, Red) yang jadi penyulut amarah massa KAPPI,’’ sambung Ayuhanafiq.
Massa yang geram kemudian merusak kantor yayasan yang ada di Jalan Mojopahit. Selanjutnya, gedung juga diambil alih secara paksa untuk digunakan sebagai markas KAPPI Mojokerto.
Bukannya meredam, aksi massa masih terus berlangsung hingga mencapai puncaknya pada 30 Oktober 1967 itu. Para pemuda mendadak melakukan aksi anarkis dengan membakar kompleks pertokoan di kawasan Pecinan itu.
Pusat perniagaan di jantung Kota Onde-Onde ini berubah membara. Bahkan, kobaran api juga turut menyambar Pasar Kliwon yang berada di kawasan tersebut.
Aksi massa yang berubah menjadi chaos ini memaksa aparat keamanan bersenjata lengkap diterjunkan dengan kendaraan rantis. Massa yang terdesak akhirnya terpukul mundur usai dilepaskan dengan tembakan peringatan ke udara. ’’Massa aksi kemudian bubar untuk menyelamatkan diri,’’ pungkas Yuhan. (ram/fen)
Editor : Fendy Hermansyah