Nelayan menjadi salah satu profesi penting sejak zaman Kerajaan Majapahit. Masyarakat Jawa kuno menangkap ikan di laut dan danau menggunakan berbagai alat seperti pancing, wuwu, hingga jala.
TEMUAN benda diduga kail peninggalan purbakala di Situs Beloh, Desa Beloh, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, baru-baru ini memperkuat asumsi pekerjaan menangkap ikan sudah menjadi mata pencarian masyarakat Majapahit.
Mata pancing berbahan perunggu tersebut memiliki panjang 7 sentimeter (cm), lebih besar dari kail modern pada umumnya. ”Temuan ini memperkuat asumsi bahwa masyarakat Jawa kuno di sekitar Situs Belok sudah mengenal aktivitas menangkap ikan,” tutur perwakilan Tim Kerja Penyelamat, Pengamanan, dan Advokasi Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Timur, Ning Suryati, pekan lalu.
Temuan lepas ini didapatkan tim arkeolog setelah melakukan survei penyelamatan Situs Beloh pada 20-23 April 2026. Dari proses penggalian sedalam 5-30 cm di area linggan alias tempat pembuatan batu bata itu, ditemukan struktur batu bata kuno yang diyakini sebagai bekas permukiman Majapahit. Di sana pula, sejumlah temuan lepas didapati, seperti kail, satu keping uang kepeng, jambangan, fragmen keramik dan gerabah, serta lumpang.
Asumsi benda yang ditemukan merupakan alat pancing kuno dipertegas dengan letak Situs Beloh yang berdekatan dengan Situs Waduk Domas di Desa Domas, Kecamatan Trowulan. Waduk kuno dari masa Majapahit itu hanya berjarak beberapa ratus meter dari lokasi temuan. ”Desa Beloh dan Desa Domas ini bersebelahan juga,” imbuh Suryati.
Mata pancing diduga peninggalan Majapahit sebelumnya juga pernah ditemukan di Desa Kedungbocok, Kecamatan Tarik, Sidoarjo, dan Situs Kolam Segaran di Desa/Kecamatan Trowulan. Selain pancing, penduduk kerajaan yang eksis sekitar 700 tahun silam itu diyakini telah mengembangkan sejumlah peralatan penangkap ikan lainnya. Salah satunya wuwu.
Perangkap ikan dari bambu tersebut berbentuk seperti botol yang berfungsi menjebak ikan di dasar air. Gambar aktivitas memasang wuwu terdapat pada Candi Rimbi di Jombang. ”Kegiatan ini masih dilakukan masyarakat sekarang, terutama di perdesaan karena bahan dan pembuatannya mudah,” ungkap Siswanto di buku Majapahit: Batas Kota dan Jejak-Jejak Kejayaannya.
Sementara itu, Supratikno Rahardjo dalam buku Inspirasi Majapahit mengatakan, alat seperti jala dan icir yang merupakan nama lain dari wuwu juga telah dikenal masyarakat Jawa kuno sebagai sarana menangkap ikan. Hal itu tergambar pada relief yang menunjukkan aktivitas berburu di Candi Borobudur, Magelang. (adi/ris)
Editor : Fendy Hermansyah