JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Pendopo Agung Trowulan kembali menjadi sorotan publik. Bangunan bersejarah yang berdiri di kawasan Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, ini bukan hanya menyimpan jejak kejayaan Majapahit, tetapi juga menjadi pusat aktivitas budaya masyarakat Jawa Timur.
Pendopo Agung diyakini berdiri di atas lokasi inti pemerintahan Majapahit. Sejumlah artefak, termasuk Batu Patok yang dikaitkan dengan sumpah Palapa Gajah Mada, memperkuat keyakinan bahwa kawasan ini adalah jantung kerajaan terbesar di Nusantara pada abad ke-14.
Bangunan pendopo yang luas dan terbuka ini dahulu berfungsi sebagai ruang pertemuan dan pusat pengambilan keputusan. Sejarawan menilai, keberadaan pendopo menjadi simbol kekuasaan sekaligus ruang spiritual yang menghubungkan rakyat dengan pemimpinnya.
Baca Juga: Perjalanan KA di Stasiun Mojokerto Ditunda hingga Dibatalkan
Sekarang fungsi Pendopo Agung mengalami transformasi. Pemerintah daerah bersama komunitas budaya menjadikannya sebagai pusat kegiatan seni, ritual tradisi, hingga peringatan hari besar. Pendopo Agung tidak lagi sekadar monumen, melainkan ruang hidup yang terus berdenyut.
Setiap tahun berbagai festival budaya digelar di lokasi ini. Mulai dari pagelaran wayang, tari tradisional, hingga diskusi sejarah, semua berlangsung di bawah naungan pendopo yang sarat makna. Kehadiran acara tersebut menarik minat wisatawan sekaligus memperkuat identitas lokal.
Pendopo Agung juga menjadi magnet wisata sejarah. Wisatawan mancanegara kerap menjadikan Trowulan sebagai destinasi utama untuk menyelami narasi kejayaan Majapahit. Kehadiran museum dan candi di sekitar pendopo semakin memperkaya pengalaman berkunjung.
Baca Juga: Ratusan Rumah Warga Kota Mojokerto Belum Dilengkapi MCK
Meski tantangan pelestarian tidak bisa diabaikan. Modernisasi, keterbatasan anggaran, dan ancaman kerusakan lingkungan menjadi faktor yang harus diantisipasi. Upaya konservasi dan edukasi publik terus digencarkan agar warisan Majapahit tetap lestari.
Tokoh masyarakat menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan komunitas lokal. “Pendopo Agung bukan hanya milik Mojokerto, tetapi milik bangsa. Menjaganya berarti menjaga jati diri kita,” ujar salah satu budayawan setempat.
Pendopo Agung Trowulan hari ini berdiri sebagai jembatan antara masa lalu dan masa kini. Dari pusat kerajaan menuju pusat budaya, ia mengingatkan generasi sekarang bahwa sejarah bukan sekadar catatan, melainkan fondasi identitas bangsa.
KALKY
Editor : Imron Arlado