Berita Daerah Berita Terbaru Ekonomi Bisnis Event JPRM Features Figur Hukum & Kriminal Jangan Baca Journey Kelana Desa Kesehatan Lifestyle Misteri Mojokerto Nasional Olahraga Pendidikan Peristiwa Politik Politik & Pemerintahan Ramapedia Sambel Wader Sejarah & Mojopedia Seni & Budaya Sportmojok Wisata & Kuliner

Sejarah Candi Jolotundo: Pemandian Suci Majapahit yang Masih Mengalir

Imron Arlado • Minggu, 26 April 2026 | 14:48 WIB
Pemandian suci Jolotundo: perpaduan sejarah, spiritualitas, dan keajaiban alam yang terus hidup hingga kini.
Pemandian suci Jolotundo jadi perpaduan sejarah, spiritualitas, dan keajaiban alam yang terus hidup hingga kini.

JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Salah satu situs yang masih hidup sebagai pusat warisan majapahit hingga kini adalah Candi Jolotundo, sebuah pemandian suci yang airnya terus mengalir sejak ratusan tahun silam.

Terletak di lereng Gunung Penanggungan, Candi Jolotundo bukan sekadar bangunan batu. Ia adalah simbol spiritual sekaligus teknologi air yang menakjubkan dari masa Majapahit.

Pemandian ini diyakini dibangun pada abad ke-10 oleh Raja Udayana dari Bali untuk putranya, Airlangga, yang kelak menjadi raja besar di Jawa Timur.

Baca Juga: Perjuangan Shakina, Tunanetra Asal Mojokerto Tembus UTBK 2026 di Unesa, Ingin Jadi Guru bagi Sesamanya

Struktur candi berbentuk kolam dengan dinding batu andesit, dilengkapi pancuran yang hingga kini masih memancarkan air jernih. Keajaiban ini membuat Jolotundo tetap menjadi magnet peziarah dan wisatawan.

Air Jolotundo dipercaya memiliki kekuatan penyucian. Banyak pengunjung datang untuk mandi atau sekadar membasuh wajah, berharap mendapat berkah kesehatan dan ketenangan batin.

Tradisi masyarakat sekitar pun masih terjaga. Setiap malam tertentu, terutama menjelang bulan purnama, pemandian ini ramai oleh ritual doa dan meditasi.

Jolotundo menunjukkan kecanggihan sistem hidrologi Majapahit. Air yang mengalir tanpa henti berasal dari sumber alami yang dialirkan melalui saluran batu kuno.

Pemerintah daerah Mojokerto menjadikan Jolotundo sebagai destinasi wisata sejarah. Situs ini dirawat agar tetap lestari, meski tantangan modernisasi terus mengintai.

Baca Juga: Desa Karangasem, Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto, Wujudkan Wisata Air Bertajuk Waduk Beran

Masyarakat menilai Jolotundo sebagai bukti perpaduan antara spiritualitas Hindu-Buddha dan kearifan lokal Jawa. Ia bukan hanya pemandian, melainkan juga ruang sakral yang menyatukan manusia dengan alam.

Wisatawan yang berkunjung ke Jolotundo tak hanya menikmati panorama Gunung Penanggungan, tetapi juga merasakan aura mistis yang menyelimuti situs ini.

Hingga kini, Jolotundo tetap mengalir, seolah menegaskan bahwa warisan Majapahit bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan denyut hidup yang terus menyertai Mojokerto. KALKY

Editor : Imron Arlado
#pemandian suci #wisata sejarah mojokerto #sejarah majapahit #candi jolotundo mojokerto