JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Masyarakat Indonesia setiap tanggal 21 April akan memperingati Hari Kartini untuk mengenang R.A. Kartini sebagai pelopor emansipasi perempuan. Melalui pemikiran dan tulisan-tulisannya, Kartini memperjuangkan kesetaraan hak, terutama dalam pendidikan bagi perempuan di masa penjajahan.
Peringatan ini menjadi momen refleksi atas perjuangan menuju kesetaraan gender yang masih relevan hingga kini, dan ditetapkan secara resmi pada tahun 1964 oleh Soekarno sebagai bentuk penghargaan atas jasanya.
Melalui kesempatan ini, kita akan membahas tokoh perjuangan perempuan sebelum lahirnya RA Kartini sebagai pengingat bahwa perjuangan perempuan bukan hanya milik satu tokoh, tetapi telah berlangsung sejak lama dan melibatkan banyak sosok inspiratif.
Baca Juga: 5 Warung Onde-Onde Paling Ikonik di Mojokerto, Mana yang Paling Enak?
Setiap peringatan Hari Kartini, otomatis RA Kartini yang menjadi sorotan sebagai pelopor emansipasi perempuan. Namun, jauh sebelum Kartini dikenal luas, ternyata terdapat sosok perempuan lain yang telah lebih dulu memperjuangkan pendidikan bagi kaum perempuan, yakni Raden Ayu Lasminingrat.
RA Lasminingrat merupakan perempuan kelahiran 29 Maret 1854 di Garut, Jawa Barat. Lasminingrat dikenal sebagai perempuan intelektual pertama di Tanah Sunda yang aktif mendorong kemajuan perempuan melalui pendidikan dan literasi.
Sejak kecil, Lasminingrat telah menunjukkan kecerdasan dan semangat belajar yang tinggi. Ia mendapatkan kesempatan belajar di bawah asuhan orang Belanda yang merupakan teman ayahnya di Sumedang, sehingga mampu menguasai bahasa Belanda yang merupakan kemampuan sangat langka bagi perempuan pribumi pada masa itu.
Baca Juga: Kolam Segaran Trowulan, Saksi Bisu Kejayaan Majapahit
Berbekal kemampuan berbahasa Belanda, Lasminingrat mulai menerjemahkan berbagai karya sastra Eropa ke dalam bahasa Sunda agar dapat dibaca dan dipahami oleh masyarakat lokal, khususnya perempuan. Karya-karyanya seperti Carita Erman dan Warnasari atawa Roepa-roepa Dongeng bahkan digunakan sebagai bahan ajar di berbagai sekolah dan tersebar hingga luar Jawa.
Tidak hanya bergerak di bidang literasi, Lasminingrat juga menaruh perhatian besar terhadap pendidikan perempuan. Ia turut berperan dalam pendirian sekolah khusus perempuan dan kemudian mendirikan Sekolah Keutamaan Istri pada 1907 di Kabupaten Garut. Melalui sekolah ini, perempuan diajarkan membaca, menulis, serta berbagai keterampilan seperti menjahit dan kerajinan tangan.
Perjuangannya terhadap pendidikan perempuan tidak mudah, karena pada masa itu masih banyak anggapan bahwa perempuan tidak perlu bersekolah. Meski begitu, Lasminingrat tetap berjuang hingga sekolah yang dirintisnya mendapat pengakuan dan berkembang ke berbagai daerah.
Perjuangan Lasminingrat menunjukkan bahwa semangat emansipasi perempuan di Indonesia tidak hanya dimulai dari satu tokoh, melainkan telah tumbuh sejak lama melalui berbagai sosok inspiratif dan akan terus berlanjut melalui perjuangan perempuan-perempuan lainnya dari generasi ke generasi.
Meski namanya tidak sepopuler Kartini, kontribusinya dalam membuka akses pendidikan bagi perempuan menjadi bagian penting dalam sejarah perjuangan kesetaraan gender di Indonesia. ASIKHA
Editor : Imron Arlado