1.Kolam Segaran
Kolam Segaran di Trowulan, Mojokerto, dikenal sebagai waduk raksasa peninggalan Majapahit yang menyimpan legenda unik: konon peralatan makan dari emas dibuang ke dasar kolam setelah jamuan kerajaan sebagai simbol kemegahan.
Meski kisah ini terus hidup dalam imajinasi masyarakat, penelitian arkeologi hanya menemukan pecahan keramik dan artefak sehari-hari, bukan harta emas.
Hal ini menegaskan bahwa fungsi utama kolam adalah sebagai penampungan air, rekreasi, sekaligus pertahanan, sementara cerita tentang peralatan makan emas lebih tepat dipandang sebagai mitos yang memperkuat aura kejayaan Majapahit dan menjaga pesona budaya Jawa Timur tetap abadi.
Baca Juga: Petualangan Canyoning di Pacet, Mojokerto: Menghadapi Tebing dan Air Terjun yang Menantang
2. Patung Budha Tidur
Patung Budha Tidur di Mojokerto bukan hanya monumen keagamaan, tetapi juga menyimpan mitos mistis dan sejarah yang melekat pada kejayaan Majapahit.
Masyarakat percaya patung sepanjang 22 meter ini menjadi penjaga spiritual wilayah, di mana doa tulus di hadapannya diyakini membawa keberuntungan.
Sementara secara historis patung ini melambangkan Sang Buddha menjelang nirwana sebagai simbol pelepasan duniawi, sehingga menjadikan Budha Tidur perpaduan antara warisan sejarah, legenda mistis, dan daya tarik spiritual yang terus hidup di Mojokerto.
Baca Juga: Terdakwa Penembak Mantan Mertua di Mojokerto Mengaku Tersulut Emosi karena Sering Diusir Korban
3.Candi Tikus
Candi Tikus di Trowulan, Mojokerto, menyimpan perpaduan sejarah dan mitos mistis yang memikat; secara arkeologis candi berbentuk kolam bertingkat ini diyakini sebagai petirtaan atau tempat pemandian keluarga kerajaan Majapahit, namun legenda rakyat menyebutnya sebagai pusat pemujaan Dewi Kesuburan.
Di mana airnya dianggap suci dan mampu membawa berkah bagi pertanian. Sementara nama Candi Tikus muncul dari kisah lama ketika kawasan ini dipenuhi tikus perusak tanaman, sehingga menjadikan situs ini bukan sekadar peninggalan sejarah, melainkan juga ruang mistis yang terus hidup dalam imajinasi masyarakat Jawa Timur. KALKY
Editor : Imron Arlado