Pendidikan sudah menjadi salah satu kebutuhan dasar sejak masa Kerajaan Majapahit. Selain menguasai kemampuan dasar seperti membaca dan menulis, masyarakat Jawa kuno di masa itu telah memiliki pengetahuan astronomi yang berguna dalam kehidupan sehari-hari.
BERBAGAI temuan prasasti peninggalan Majapahit menunjukkan kuatnya budaya baca dan tulis di masa kekaisaran pada 700 tahun silam tersebut. Layaknya pengumuman, prasasti tak lain dibuat agar dibaca masyarakat luas. Misalnya, prasasti penetapan tanah sima atau daerah otonom yang dibebaskan raja dari pajak.
Tulisan yang dipahat pada batu atau logam itu akan ditaruh di tempat umum. ’’Artinya, itu pasti dilakukan dengan asumsi publik bisa baca tulis, karena di situ dituliskan juga kutukan yang ditujukan bagi semua orang yang melanggar isi prasasti,’’ pemerhati sejarah Asisi Suhariyanto di kanal Youtube ASISI Channel.
Selain baca dan tulis, masyarakat Majapahit juga mendapat pendidikan berhitung yang berhubungan dengan ilmu Candrasengkala atau sistem penanggalan Jawa kuno.
Dalam kaitannya dengan kegiatan pertanian dan upacara sakral, masyarakat juga memiliki pengetahuan astronomi dan astrologi tentang pranata mangsa.
’’Ini berkaitan dengan pengaturan masa-masa di mana masyarakat melakukan kegiatannya. Misalnya, kapan harus bertani, menikah, bercocok tanam, menanen, dan lain-lain,’’ tuturnya.
Asisi mengungkapkan, kemampuan dalam membaca benda langit dan tanda alam juga berguna untuk menandai munculnya penyakit, wabah, yang harus diwaspadai hingga masa kawin hewan ternak.
’’Itu semua masuk dalam pendidikan dasar karena berkaitan dengan kebutuhan praktis sebagai masyarakat petani dan peternak,’’ tandasnya. (adi/fen)
Editor : Fendy Hermansyah