Perdagangan internasional di zaman Kerajaan Majapahit didominasi hasil bumi dan tekstil yang dihasilkan di Jawa serta rempah-rempat dari wilayah timur Nusantara. Berbagai komoditas ekspor itu diangkut lewat jalur laut dengan manajemen penyimpanan di kapal yang terstandar sehingga kondisi tetap segar hingga tempat tujuan.
SEJUMLAH prasasti mencatat aneka komoditas perdagangan yang dikendalikan Majapahit. Misalnya, Prasati Canggu menyebut aktivitas pengiriman beras ke luar Jawa karena hasil panen melimpah. Komoditas lain yang ditemukan di pasar Majapahit juga meliputi benda-benda kerajinan, kebutuhan pokok, tekstil dan bahan bakunya, pewarna, hewan ternak, buah-buahan, juga rempah-rempah.
’’Di Prasati Biluluk juga disebutkan adanya perdagangan rempah lada, cabai, kemukus, kapulaga,’’ kata dosen sejarah Universitas Negeri Malang, Deny Yudo Wahyudi, dalam webinar Jalur Perdagangan dan Pelayaran Rempah-Rempah Pada Era Majapahit yang digelar Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah (BPKW) XI.
Lantas bagaimana para pedagang menyimpan komoditas yang dikirim ke berbagai negeri di Asia dan Eropa itu? Yadi Mulyadi, dosen arkeologi Universitas Hasanuddin, menjelaskan, untuk memastikan barang dagangan sampai tujuan, pedagang menerapkan berbagai metode penyimpanan. Seperti pengiriman biji rempah dalam kondisi kering. ’’Kadar airnya dipastikan betul-betul turun dengan cara dikeringkan manual di bawah sinar matahari,’’ tuturnya dalam kesempatan yang sama.
Tantangan utama perdagangan laut di masa 700 tahun silam itu adalah kelembapan kapal, air asin, dan hama. Karena itu, barang yang dikirim juga dikemas sedemikian rupa untuk menambah nilai keawetan. ’’Dari beberapa penelitian terdahulu yang terkait dengan komoditas ini, yaitu menggunakan bahan alami juga, yaitu karung goni,’’ jelasnya.
Menurutnya Yadi, hingga kini karung goni masih digunakan untuk pengiriman biji kopi produsen di Bandung, Jawa Barat. Di samping membuat awet, lanjut dia, semakin lama kopi disimpan di karung goni, harganya bisa semakin mahal.
Yadi menjelaskan, selain karung goni, beberapa jenis rempah untuk kebutuhan obat dikemas dalam guci atau buli-buli kedap air. ’’Artinya sudah ada srategi yang dikembangkan dan itulah yang memastikan mengapa komoditas rempah ini bisa bertahan kurang lebih tiga abad,’’ ungkapnya. (adi/fen)
Editor : Fendy Hermansyah